Pandemi, Program SMA Double Track Masuk Tahun Ketiga, Ubah Pola Jadi KUS Makin Dinamis dan Kreatif

oleh

Kabid PP-SMA Dinas Pendidikan Jatim, Dra. Ety Pramesty,MSi bersama tim Monev dari ITS saat berkunjung ke  SMAN 1 Berbek Nganjuk dan SMAN1 Saradan Jumat (17/09/2021).

KILASJATIM.COM, Nganjuk –
Program Sekolah Menengah Atas Double Track atau SMA DT telah berjalan tiga tahun. Sudah terlihat hasil-hasil yang dicapai, meskipun dalam perjalanannya mengalami sejumlah kendala.Termasuk hambatan yang tidak terduga sebelumnya: pandemi Covid-19.

Pandemi Covid 19 mengubah pola Program DT, jika sebelumnya program pembekalan keterampilan dilakukan secara individual, kini dimodel dalam sebuah kelompok usaha siswa (KUS) bagi siswa yang punya kesamaan usaha dan minat terdiri dari 4 – 5 siswa dalam satu kelompoknya.

Dibuat kelompok kecil agar dapat efektif dan gesit kiprahnya. KUS ternyata memberikan dampak yang lebih konkret di lapangan.

Dikatakan Kabid PP-SMA Dinas Pendidikan Jatim, Dra. Ety Pramesty, MSi , dibuat kelompok kecil agar dapat efektif dan gesit kiprahnya.

“KUS ternyata memberikan dampak yang lebih konkret di lapangan.dengan pola KUS persaingan per kelompok sifatnya lebih dinamis dan kreatif, dalam prakteknya dilakukan secara kelompok ada teman diskusi,” kata Ety dalam kunjungannya bersama tim fasilitator ITS yang melakukan monev di SMAN 1 Brebek, Kabupaten Nganjuk dan SMAN 1 Saradan, Kabupaten Madiun Jumat (17/9/2021)

Ketrampilan tata rias wajah yang dipilih siswa dari KUS SMAN1 Saradan Madiun

Dalam kunjungan tim Monev ke dua lokasi tersebut mendapati program ini memiliki prospek yang gemilang. Dobel Track bahkan terbukti mendongkrak minat masuk SMAN 1 Brebek yang notabene berada di daerah pinggiran.

“Kehadiran DT sangat membantu siswa dan keluarganya, sebanyak 35 alumni kami sudah bekerj, ada yang di rumah makan, dan salah satunya sukses membantu membesarkan usaha konveksi ibunya melalu pemasaran online,” ujar Kepala Sekolah SMAN 1 Brebek Gunardi.

Sementara itu dari KUS yang saat ini tengah berlangsung dalam kondisi pandemi program DT terus berjalan baik secara daring maupun tatap muka dengan jadwal.menyesuaikan jam pembelajaran .

“Adanya program DT ini banyakamfaat yang dirasakan siswa maupun bagi sekolah. Untuk jurusan fotografi kita meggunakan jasa mereka saat ada ada wisuda, foto rapor, dan lainnya sudah tidak lagi pakai jasa dari luar atau orang lain. . Terima kasih kepada dinas dan tim DT kami mendapat kepercayaan untuk menjalankan program ini,” imbuhnya.

Sementara itu Kabid PP-SMA Dinas Pendidikan Jatim, Dra. Ety Pramesty, MSi  menyebut apa yang sudah dilakukan siswa dalam mengikuti DT sudah cukup memuaskan. Mereka bisa dikatakan cermat dalam menangkap maksud dari program ini.

Kelompok Usaha Siswa bidang tata boga SMAN1 Nganjuk, produksi berupa sambal pecel berhasil dipasarkan melalui online dengan pembeli terbesar dari Bekasi dan Kepulauan Riau. 

“Saya lihat sudah bagus. Termasuk mengambil bidang fotografi tadi, adik-adik bisa mengembangkan apa yang sudah didapatkan dari para trainer. Siswa jadi punya keterampilan tambahan yang menghasilkan. Karena jasa atau produk yang tawarkan buat ternyata diminati  oleh masyarakat. Untuk promosi atau pemasaran bisa dilakukan dengan memanfaatkan online yang luas jangkauannya dan produk yang ditawarkan bisa meluas pasarnya,’ urai Ety.

Dengan berkelompok dalam KUS, lanjut Ety, siswa dinilai lebih terpacu karena memiliki semangat kebersamaan. Mereka dapat saling mengoreksi, memberi ide, dan lebih ringan dalam pengerjaannya.

“Mungkin nanti bisa kita datangkan pekerja kreatif dari Surabaya untuk menambah wawasan informasi sehingga kreasi anak-anak bisa lebih berkembang. Saya kira ini penting untuk ke depannya,” ujarnya.

Ety juga menitipkan pesan kepada para peserta program DT untuk terus bersemangat dalam berkreasi serta peka dalam menangkap tren.

“Multimedia itu akan terus berkembang dan dicari orang. Kebutuhan keluarga banget, mulai mereka punya anak kecil, mantu, dan seterusnya. Saya juga lihat tadi yang boga, bagus-bagus. Tinggal misalnya sekarang trennya makanan Korea, nah ini harus bisa ditangkap. Bagaimana nanti misalnya kalian bisa menggabungkan masakan Jawa dan Korea, yang terpenting harus dipikirkan juga kemasannya agar makanan atau yang kita produksi bisa menarik ,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui, SMA DT adalah SMA yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) reguler dan menyelenggarakan kegiatan pembekalan keterampilan secara berdampingan dengan memanfaatkan kearifan lokal.

Meskipun dikenal dengan istilah SMA DT, dalam praktiknya program DT juga dilaksanakan di sejumlah Madrasah Aliyah (MA) di Jatim.
Disebut double track karena sistem pembelajarannya menggabungkan cara belajar SMA dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Siswa SMA diberi ketrampilan tambahan untuk lulusannya. Penambahan ketrampilan ini membuat siswa siap kerja jika tidak ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sistem DT dikonsep sebagai kegiatan ekstra kurikuler, dengan ketentuan setiap siswa minimal satu tahun mengikuti sistem DT.

Munculnya ide sistem DT berawal dari keprihatinan atas tingginya potensi lulusan SMA di Jawa Timur yang menjadi pengangguran. Fakta menunjukkan bahwa tidak semua lulusan SMA/MA di Jatim melanjutkan kuliah. Bahkan jumlahnya lebih banyak dari mereka yang melanjutkan studi.

Data tahun 2018 mencatat, ada sekitar 116.772 lulusan atau setara dengan 67,84 persen lulusan SMA di Jatim tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya, dengan berbagai macam kondisi. Persentase tersebut semakin tinggi pada SMA yang berada di daerah pinggiran kota maupun pelosok desa.

Ada tiga tujuan program DT, yang merupakan program unggulan Dinas Pendidikan Provinsi Jatim ini. Pertama, untuk meningkatkan kompetensi dan kemampuan peserta didik SMA, yang berencana tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, dalam menguasai salah satu bidang keterampilan tertentu dengan memanfaatkan kearifan lokal. Kedua, membangun kepercayaan diri peserta didik dalam berwirausaha atau bekerja dengan bekal keterampilan yang dikuasai. Ketiga, membangun jaringan duna usaha dan dunia industri.

Dari tiga tujuan itulah diharapkan potensi pengangguran lulusan SMA dapat dikurangi.
Program SMA DT tidaklah bertabrakan dengan kurikulum SMK, karena proporsi kedalaman materi dan proses pelaksanaannya berbeda. Di SMK, materi keterampilan diberikan kepada siswa secara mendalam pada jam-jam pelajaran sekolah, masuk dalam intrakurikuler. Sedangkan dalam SMA DT keterampilan diberikan sebagai skill tambahan dan dimasukkan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Menurut Fasilitator Tim IT ITS Surabaya, Fajar Baskoro, S.Kom, M.Kom,mengatakan, program DT memanfaatkan ektrakurikuler yang diperluas. Program DT terdiri tujuh bidang keterampilan meliputi; multimedia, teknik elektro, teknik listrik, tata boga, tata busana, tata kecantikan, dan teknik kendaraan ringan. Dari tujuh bidang tersebut dikembangakan menjadi 17 bidang keahlian.

“Pada tahun ketiga kini program SMA DT meluncurkan istilah baru yang maknanya hampir sama, yaitu KUS atau kelompok usaha siswa. Pada prinsipnya KUS juga merupakan UMKM, hanya bedanya, pelakunya adalah siswa yang tergabung dalam program SMA DT.
KUS merupakan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 hingga 6 siswa. Dibuat kelompok kecil agar dapat efektif dan gesit kiprahnya,” jelasnya seraya menambahkan, dalam satu sekolah penyelenggara DT dapat dibentuk sejumlah KUS sesuai kebutuhan dan hasil kesepakatan siswa.

Kehadiran KUS ini tergolong baru. Baru dibentuk pada tahun 2020 kemarin. Ini wujud dari penajaman program DT agar siswa benar-benar dapat mendapatkan kemanfaatan konkret.

“Program DT memang upaya pemberdayaan, sehingga siswa yang tidak berencana melanjutkan kuliah, karena alasan ekonomi ataupun alasan akademik, akan tetap berdaya dengan bekal keterampilan dan usaha rintisan yang dilakukan selama mengikuti DT,” pungkasnya. (kj2)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *