Nostalgia Itu Dibangkitkan Dari Cerita Anak

oleh -303 Dilihat
oleh

KILASJATIM.COM, Malang– Ditengah hiruk-pikuk kabar bencana alam, berita pembunuhan, harga pangan yang melesat bak petasan, kabar politik tidak berujung dan cerita artis yang tidak penting. Semua masuk begitu saja dalam layar hape, sungguh melelahkan. Untuk itu Ari Ambarwati, penulis sastra anak, mengajak kita bernostalgia, menimati masa lalu yang menyenangkan dengan membaca buku sastra anak.

“Imajinasi bisa dibangun dari buku bacaan. Terutama sastra anak, seperti buku lima sekawan atau lupus di era delapan puluhan atau sembilan puluhan, era saya. Saat ini buku sastra anak lebih kaya. Dengan hadirnya ada buku dwi bahasa, bahasa daerah dan Inonesia. Semua bisa dijumpai di toko buku atau media on line, bisa di download lewat hape,” katanya saat dijumpai di Kampus Universitas Islam Malang, Senin (26/1/2016).

Menurut dosen Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Unisma, membiasakan anak membaca buku sangat bermanfaat. Selain memperkaya pengetahuan, mengembangkan imajinasi juga membuka pintu menuju dunia baru. Lebih-lebih dengan membaca buku dwi bahasa. Dimana buku ditulis dengan bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Seperti bahasa Jawa, Bali, Sunda, Madura atau Sulawesi. Buku sastra anak yang ditulis dengan bahasa lokal membuka pintu pemahaman baru. Bahwa ada beragam jenis bahasa di negeri ini. Melalui bahasa anak lebih mengenal ragam budaya, kehidupan sosial dan kuliner daerah lain, yang tidak dijumpai di sekitar tempat tinggalnya.

Foto; Titik/kilasjatim

Melalui sastra anak, secara tidak langsung anak akan mengenal apa yang dilakukan rekan seusianya di daerah lain. Seperti, jenis permainan dan makanan apa yang di konsumsi setiap hari. Dalam cerita Boyondi, karya Kasmir Syamsudin Male dan diilustrasikan oleh Dea Wulandari Dewantara. Melalui sosok bocah bernama Po’u, kita digiring menyaksikan artefak kuliner berupa bubur Buol dari Kota Buol, Provinsi Sulawesi Tengah yang memiliki kisah panjang, tentang minimnya beras dan pertahanan hidup.

Baca Juga :  Kisah Pohon Mawar (Bagian-1)

Dalam sepiring bubur Buol yang dibuat Po’u dan ibunya, kita diajak berselancar ke wilayah Sulawesi Tengah. Mengapa orang di sana menjadikan Buol sebagai makanan sehari-hari. Terbuat dari apa dan bagaimana cara memasak bubur tersebut. Mengapa beras (nasi) harus dicampur santan dan labu. Dalam lembar buku bergambar kita bisa menyaksikan kondisi alam dimasa lalu. Ketika sawah gagal panen, terutama di musim kemarau panjang. Tidak banyak padi yang dihasilkan, sedang hidup terus berjalan dan orang harus makan setiap hari.

“Dari sini kita belajar bagaiman manusia beradaptasi, berkreasi dengan hasil bumi lain. Memadukan labu yang melimpah dengan beras yang diberi santan kelapa. Lewat sepiring buol kita belajar, bagaimana orang lain melintasi kelangkaan pangan. Ini melampaui perkara menyantap makanan dan mengenal kuliner lokal. Namun, memberikan pemahaman baru, bahwa makanan tradisional lahir dari kebutuhan dan kecerdikan,” terang penulis buku Rempah berkisah.

Ia juga menyampikan hal semacam ini, tidak mungkin disampaikan langsung melalui buku pelajarn. Tentunya kurang menarik. Anak-anak pasti engan membaca. Berbeda jika disampaikan melalui cerita bergambar. Anak lebih tertarik. Lebih mudah menerima buku bacaan tersebut. Dengan buku tersebut, mereka bukan hanya menerima cerita Po’u yang makan bubur. Tapi membuka navigasi untuk melihat dunia lebih luas, terutama Indonesia dengan berbagai karakter, kondisi alam dan letak geografinya.

“Buku semacam ini, sangat bermanfaat dikemudian hari. Pada saat-saat tertentu ketika kita yang telah dewasa, terjebak pada rutinitas pekerjaan dan kerumitan hidup. Kembali membaca buku sastra anak membuat pikiran jadi rileks. Ada pesan moral yang tersimpan dalam memori, bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya,” ungkapnya.

Mengenai buku Lima Sekawan, karya Enyd Blyton yang dibacanya pada saat masih anak-anak. Tidak lain turut membangun imajinasinya tentang petuangan. Bersepeda melintasi bukit dan danau. Memecahkan masalah diperjalanan, mendorongnya berani bermimpi dan melakukan petualangan sendiri, sejak mahasiswi, menjadi jurnalis untuk tabloid olah-raga, hingga menjadi dosen seperti sekarang. (TQI)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.