Meski Diguyur Hujan, Tradisi Barong Ider Bumi Banyuwangi Tetap Khidmat Digelar

oleh -572 Dilihat

KILASJATIM.COM, Banyuwangi – Tradisi adat Barong Ider Bumi digelar dengan khidmat di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, pada Selasa (1/4/2025). Meski hujan mengguyur, ratusan warga lokal dan wisatawan dari berbagai daerah tetap antusias mengikuti prosesi arak-arakan barong yang telah berusia ratusan tahun.

Ritual Barong Ider Bumi ini diselenggarakan setiap tanggal 2 Syawal atau hari kedua Idul Fitri. Tradisi ini dipercaya sebagai ikhtiar masyarakat untuk menolak bencana dan wabah penyakit yang pernah melanda desa pada masa lalu.

Tokoh masyarakat adat Desa Kemiren, Suhaimi, menjelaskan bahwa ritual Barong Ider Bumi pertama kali dilakukan sekitar tahun 1840-an. Saat itu, Desa Kemiren dilanda wabah penyakit yang mengakibatkan banyak korban jiwa serta gagal panen akibat serangan hama. Masa sulit itu diperparah dengan paceklik yang berkepanjangan.

“Sesepuh desa saat itu meminta saran kepada Mbah Buyut Cili, leluhur Desa Kemiren. Dalam mimpinya, beliau mendapat petunjuk untuk mengadakan arak-arakan Barong keliling kampung sebagai upaya menolak bala,” jelas Suhaimi.

Barong dalam tradisi ini digambarkan sebagai sosok makhluk bermahkota dengan sayap, dipercaya mampu melindungi desa dari marabahaya. Ritual dimulai dengan doa bersama yang dipanjatkan oleh para tokoh pelestari Barong di petilasan Buyut Cili.

Kepala Desa Kemiren, Arifin, menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya ritual tahun ini meskipun dalam kondisi hujan. “Kita tetap bersyukur karena hujan adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa,” ucapnya.

Arifin menambahkan bahwa ritual Barong Ider Bumi merupakan bagian dari upaya melestarikan adat dan budaya setempat. “Ini kewajiban kita untuk menjaga budaya leluhur. Kami berharap generasi muda terus melestarikan tradisi ini sehingga budaya dan adat istiadat Osing tetap terjaga,” kata Arifin.

Baca Juga :  Pemkab Banyuwangi Bersama Baznas Salurkan Dana Bergulir Modal Usaha untuk Penguatan Ekonomi Warga Mikro

Saat gamelan mulai dimainkan, Barong diarak keliling desa dengan iringan warga yang mengenakan pakaian adat. Arak-arakan dimulai dari sisi timur Desa Kemiren menuju bagian barat, dengan jarak sekitar 2 km. Sepanjang perjalanan, tokoh adat melakukan tradisi sembur uthik-uthik, yaitu menebarkan 999 koin logam yang dicampur dengan beras kuning dan bunga sebagai simbol penolak bala.

Puncak acara ditandai dengan kenduri massal, di mana warga duduk bersama di sepanjang jalan desa untuk menikmati hidangan khas Banyuwangi, pecel pithik. Hidangan ini terbuat dari ayam kampung muda yang dipanggang utuh, kemudian disuwir dan dicampur dengan bumbu khas yang terdiri dari cabai rawit, terasi, daun jeruk, gula, serta parutan kelapa muda.

Dian Eka Putri Nasution (25), wisatawan asal Surabaya, merasa takjub dengan suasana kekeluargaan dalam ritual ini. “Yang paling saya suka adalah kendurinya. Semua duduk bersama, makan bersama di jalan desa. Rasanya hangat dan sangat membumi. Ini pengalaman yang tidak bisa saya temukan di kota,” kata Dian. (zul)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.