KILASJATIM.COM, SURABAYA – Sarasehan dan doa bersama di dua titik bersejarah, yakni Rumah Kelahiran Bung Karno di Peneleh dan Rumah HOS Tjokroaminoto digelar Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya bersama Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, dalam rangkaian peringatan Bulan Bung Karno.
Bukan sekadar penghormatan simbolik, kegiatan ini juga sebagai upaya memperkuat semangat kebangsaan dan meneguhkan kembali identitas Untag sebagai Kampus Merah Putih yang lahir dari gagasan besar Bung Karno, sang Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia.
Rektor Untag Surabaya, Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, MM., CMA., CPA., menyampaikan bahwa sarasehan dan doa bersama ini menjadi bagian dari refleksi sejarah dan pemantik semangat generasi muda untuk terus berinovasi dan bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa. “Hari ini kita menapaktilasi tempat lahirnya Bapak Bangsa kita. Bung Karno bukan hanya tokoh proklamator, tapi juga penggagas berdirinya Untag. Dari tempat inilah, semangat patriotisme dan keberanian Bung Karno lahir. Itu yang ingin kami wariskan kepada civitas akademika,” tegas Prof. Nugroho.
Ia menambahkan, sepanjang bulan Juni ini, berbagai kegiatan diselenggarakan oleh YPTA dan Untag Surabaya, seperti lomba peragaan busana dan reka peristiwa Bung Karno dan Fatmawati, lomba baca puisi, hingga kegiatan seni lainnya. Semua dirancang untuk menanamkan nilai perjuangan dan keteladanan Bung Karno dalam kehidupan mahasiswa dan masyarakat.
Ketua YPTA Surabaya, J. Subekti, SH., M.M., turut menggugah semangat peserta dengan menceritakan perjalanan hidup Bung Karno yang penuh ujian. Mulai dari berguru pada HOS Tjokroaminoto di Surabaya, diasingkan ke Ende dan Bengkulu, hingga berkali-kali dipenjara oleh penjajah. “Bung Karno adalah pemimpin sejati. Beliau tidak hanya berani memproklamasikan kemerdekaan, tapi juga menanggung derita dan pengasingan. Semangatnya terbentuk dari perjuangan panjang, termasuk masa-masa pentingnya di Surabaya,” papar Subekti.
Namun, ia juga mengangkat sisi ironi dalam sejarah hidup Bung Karno. Meski lahir di Surabaya dan menginginkan dimakamkan di dekat Istana Bogor, sang Proklamator justru dimakamkan di Blitar karena keputusan politik penguasa saat itu. Bahkan, menurut Subekti, jenazah Bung Karno sempat dipindah ke ruangan beralas karpet lusuh sebelum akhirnya dimakamkan secara Islam di Blitar. “Ini menjadi catatan sejarah yang perlu kita ingat. Jangan sampai jasa besar Bung Karno dilupakan atau diabaikan oleh generasi penerus,” pungkas Subekti.
Dengan kegiatan ini, Untag Surabaya menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal ilmu pengetahuan, tapi juga keberanian mewarisi dan menjaga nyala api perjuangan. Sarasehan dan doa bersama ini menjadi momentum membumikan kembali nilai-nilai Bung Karno di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.(tok)
