Spanyol menjadi juara dunia untuk yang kedua kalinya. Sebagaimana dalam Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, La Furia Roja melakukannya dalam Piala Dunia 2026 dengan bermartabat dan permainan yang memesona.
Mereka mencetak 14 gol dan hanya kebobolan satu gol dalam delapan pertandingan (0-0 melawan Cape Verde, 4-0 melawan Arab Saudi, 1-0 melawan Uruguay, 3-0 melawan Austria, 1-0 melawan Portugal, 2-1 melawan Belgia, 2-0 melawan Prancis, dan 1-0 melawan Argentina).
Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, memutakhirkan ”tikitaka” yang menjadi ciri khas Spanyol dan membuat dua favorit juara, Prancis dan Argentina, tak berkutik di babak semifinal dan final. Rodri dan kawan-kawan melepaskan total 30 tembakan ke gawang, 13 di antaranya tepat sasaran dan hanya memberikan kesempatan kedua lawannya melepaskan 13 tembakan ke gawang Spanyol yang dijaga Unai Simon, dan hanya tiga yang tepat sasaran.
Sukses Spanyol hari ini tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang sepak bola mereka yang tak hanya diwarnai kejayaan, namun juga konflik kekuasaan. Jimmy Burns dalam buku ”La Roja: A Journey Through Spanish Football” menyebut perkembangan sepak bola Spanyol hanya dapat dipahami melalui hubungan erat antara kondisi politik, kehidupan sosial, dan keterbukaan negara itu terhadap berbagai pengaruh dari Eropa maupun Amerika Selatan. Perkembangan sepak bola Spanyol tidak dapat dipisahkan dari sejarah politik dan sosial negara tersebut.
Spanyol mengenal sepak bola dari orang-orang Inggris. Rafael Cortes, seorang sejarawan lokal menyebut Rio Tinto, Andalusia selatan, sebagai tempat kelahiran sepak bola Spanyol. Ini adalah kawasan pertambangan tertua di dunia, yang digerakkan oleh investor Inggris.
Kota Minas de Rio Tinto kini telah tertimbun limbah tambang. Namun di sinilah dulu pertandingan sepak bola pertama diselenggarakan di Spanyol oleh Rio Tinto Soccer Club pada Agustus 1887 bertepatan dengan hari raya San Roque. Klub ini kemudian berkembang dengan melibatkan masyarakat setempat.
Ketertarikan terhadap sepak bola meluas menyusul pembangunan jalur kereta api antara tambang Rio Tinto dan pelabuhan Huelva pada 1875. Hubungan antara komunitas Inggris dan penduduk lokal semakin erat. Dari sana lahirlah Huelva Recreation Club yang kemudian dikenal sebagai Recreativo Club de Huelva atau El Recre pada Desember 1889 atas jasa dokter asal Skotlandia, Alexander Mackay.
Pertandingan pertama dimainkan di Sevilla melawan pekerja perusahaan air minum milik Inggris. Memasuki dekade pertama abad kedua puluh, klub tersebut sepenuhnya berada di tangan orang Spanyol, meskipun kemudian tidak lagi menjadi kekuatan utama ketika pusat perkembangan sepak bola berpindah ke wilayah lain.
Selanjutnya klub-klub sepak bola berkembang di hampir seluruh wilayah Spanyol dan menjadi simbol identitas masyarakat setempat. Setelah Huelva, Madrid, Bilbao, dan Barcelona, berdirilah Sporting Gijón pada 1905 di Asturias, Deportivo La Coruña pada 1906 di Galicia, serta Sevilla dan Betis di Andalusia pada 1905 dan 1907.
Sepak bola mulai menyebar ke berbagai wilayah di Spanyol, menjadi bagian dari kehidupan perkotaan dan merupakan bagian dari identifikasi kelas sosial. Sebut saja Real Betis yang secara tradisional dipandang sebagai klub rakyat yang berasal dari lingkungan miskin dan berhaluan radikal, sementara Sevilla FC diasosiasikan dengan kalangan berada. Namun seiring perubahan sosial, perbedaan kelas di antara kedua klub semakin memudar.
Inggris memengaruhi perkembangan sepak bola di tiga wilayah: Basque, Catalan, dan Madrid. Wilayah Basque terletak di perbatasan antara Spanyol utara dan Prancis barat daya, di ujung barat Pegunungan Pyrenees dekat Teluk Biscay (Samudra Atlantik); terkenal dengan klub seperti Athletic Bilbao dan Real Sociedad. Wilayah Catalan terletak di timur laut Spanyol, berbatasan langsung dengan Prancis dan Andorra di utara serta Laut Mediterania di timur (tentu klub yang sangat kita kenal: Barcelona). Sementara Madrid adalah ibu kota Spanyol, dengan klub tersohornya, Real Madrid.
Sepak bola di wilayah Basque merupakan kombinasi pengaruh Inggris dan kuatnya identitas budaya masyarakat setempat. Dalam mitologi Basque, para raksasa legendaris yang dikenal sebagai ”jentilak” dipercaya memainkan permainan bola menggunakan batu-batu besar yang tersebar di pegunungan. Namun perdagangan wol antara Castile, London, dan Flanders, serta perdagangan besi hasil industri Basque menerabas mitologi itu dan memperkuat hubungan Basque dengan Inggris sejak abad keenam belas dan ketujuh belas.
Sebagaimana di Rio Tinto, pertandingan sepak bola pertama di Bilbao berkaitan erat dengan pertambangan dan pekerja Inggris. Namun sepak bola pula yang memperkuat identitas warga Basque dan menyatukan mereka.
Empat tahun setelah pertandingan persahabatan melawan Los Ingleses, sebuah tim Inggris yang terdiri atas pemain Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia, sekelompok penggemar sepak bola Basque mendirikan Athletic Club pada 1898. Mereka sangat dipengaruhi semangat nasionalisme Sabino Arana, pendiri Partai Nasionalis Basque (PNV), yang memperkenalkan bendera, lagu kebangsaan, dan nama Euzkadi bagi bangsa Basque.
Pada akhirnya orang Basque lebih menerima gagasan otonomi seluas-luasnya di dalam negara Spanyol daripada memerdekakan diri. Namun Athletic Club Bilbao mempertahankan identitas primordial mereka dengan menerapkan kebijakan la cantera, yaitu kebijakan merekrut pemain yang berasal dari keturunan Basque sebagai bagian dari identitas klub. Kebijakan itu diterapkan karena rezim Franco menganggap orang Basque sebagai orang Spanyol yang paling murni. Setelah Spanyol menjadi negara demokrasi, aturan tersebut berubah. Pemain Athletic dapat lahir di mana saja selama memiliki garis keturunan Basque.
Berbeda dengan Basque, sepak bola di Kawasan Catalan pertama kali berkembang di Palamós dan Barcelona. Namun jejak sejarah sepak bola di Palamós tidak begitu menonjol. Klub Palamós FC kalah masyhur dengan FC Barcelona yang didirikan di sebuah lapangan di kawasan Bonanova, Barcelona, yang mengenakan seragam merah dan biru.
Berbeda dengan Athletic Club Bilbao yang percaya diri dengan pemain-pemain lokal Basque, di tengah menguatnya nasionalisme Catalonia, tim pertama FC Barcelona justru didominasi pemain asing, terutama orang Inggris. Namun tokoh protagonis di FC Barcelona justru adalah pengusaha kelahiran Swiss Bernama Hans Gamper yang menjadi presiden pertama klub. Dari sini kita tahu, bahwa ada semangat internasionalisme dalam sejarah pembentukan Barcelona.
Sementara itu di Madrid, pengaruh Inggris sangat terlihat pada pembentukan Madrid FC, cikal bakal Real Madrid. Selain menggunakan buku peraturan yang didatangkan dari Manchester, jersey putih yang hingga kini menjadi ciri khas klub itu juga diadopsi dari Corinthians, salah satu klub amatir pertama di London. Salah satu pemain paling awal adalah seorang pengusaha Inggris Bernama Arthur Johnson.
Kendati pengaruh Inggris sangat kuat pada masa awal perkembangan sepak bola Spanyol, pengaruh Amerika Selatan tidak bisa dilupakan. Burns mengatakan, pengaruh awal orang Amerika Latin pada sepak bola Spanyol memiliki kualitas magis, yang hampir mendekati fantasi. Semua diperoleh saat klub-klub Spanyol melakukan tur pertandingan persahabatan di Amerila Selatan pada dekade pertama abad ke-20. Tim nasional Uruguay saat itu sedang berada di puncak kejayaan, yang menurut penulis Prancis Gabriel Hanot, ”mereka bukan hanya pemain yang pandai memainkan bola. . . . Mereka menciptakan sepak bola yang indah, elegan tetapi pada saat yang sama bervariasi, cepat, kuat, dan efektif.”
Olimpiade Antwerpen 1920 menjadi panggung internasional pertama bagi tim nasional Spanyol. Dilatih Francisco Bru, mantan pemain FC Barcelona, skuad itu didominasi pemain-pemain Basque. Ada tiga belas orang berasal dari wilayah itu. Lalu empat dari Catalonia. Dan tiga dari Galicia. Tim ini membawa sepak bola Spanyol meraih prestasi internasional pertama berupa medali perak; dengan perjuangan heroik melawan tim-tim mapan Eropa. Dari sanalah lahir ”mitos” La Furia Española, gambaran tentang sepak bola Spanyol yang agresif, penuh gairah, berani, dan tak mudah menyerah.
Mitos itu terus berkembang, berubah bersama zaman, menyerap kekalahan, kemenangan, juga melahirkan gagasan-gagasan baru. ”La Furia Roja”, yang kira-kira berarti ”amarah merah”, hari ini bukan lagi sekadar gairah yang meledak-ledak. Transformasi taktik telah membuatnya dari agresivitas menjadi kesabaran menguasai bola, kecerdasan membaca ruang, dan keyakinan bahwa permainan yang indah tidak harus kehilangan daya bunuhnya. (*)
