Hutan Dirusak, Risiko Banjir di Indonesia Makin Tinggi

oleh -347 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Banjir yang semakin sering terjadi di sejumlah wilayah Indonesia bukan hanya disebabkan curah hujan tinggi, tetapi juga kerusakan hutan yang terus meluas. Hal ini ditegaskan oleh Ida Nursanti S.Pd, guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SMP 17 Agustus 1945 (SMPTAG) Surabaya, yang menilai banjir merupakan konsekuensi panjang dari kesalahan manusia dalam mengelola alam.

Menurut Ida, hutan memiliki peran vital dalam mengatur siklus air. Akar-akar pohon bekerja menyerap, menyimpan, dan mengendalikan aliran air di dalam tanah. “Ketika pohon ditebang, hilang pula kekuatan akar yang menjaga keseimbangan air dalam tanah,” terang Ida.

Ia menambahkan, tanpa akar pohon, air hujan tidak lagi meresap ke tanah, tetapi langsung mengalir deras ke sungai yang kini banyak dipenuhi limbah dan sedimentasi. Kondisi ini membuat sungai tidak mampu menahan peningkatan debit air dan akhirnya meluap menjadi banjir.

Ida juga menyoroti maraknya alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit. Menurutnya, sawit tidak mampu menggantikan fungsi ekologis hutan. “Akar kelapa sawit adalah akar serabut yang tidak mampu menyimpan air sebagaimana akar pohon hutan alami,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa tanah di area perkebunan sawit lebih rentan erosi, mudah hanyut, dan tidak memiliki pengikat tanah yang kuat, sehingga meningkatkan risiko banjir dan longsor.

Kerusakan hutan juga berdampak pada hilangnya habitat satwa liar. Berbagai hewan terpaksa masuk ke permukiman warga setelah tempat tinggal mereka musnah. “Kita sering mendengar kasus hewan liar masuk ke kebun atau pemukiman, semuanya bermula dari hilangnya habitat alami mereka,” kata Ida.

Sebagai pendidik di kota besar, Ida mengaku menghadapi tantangan dalam mengajarkan pentingnya hutan kepada siswa. Keterbatasan ruang hijau di Surabaya membuat praktik lapangan sulit dilakukan. Karena itu, ia menanamkan kesadaran lingkungan melalui tindakan dekat dengan kehidupan siswa, seperti menghemat kertas, mengurangi tisu, menjaga tanaman, hingga memahami jejak ekologis setiap produk yang digunakan.

Baca Juga :  Siap Bersaing di Kancah Global, PCU Kukuhkan Empat Profesor Baru

Ida menegaskan bahwa aksi kecil sehari-hari dapat memberikan perubahan besar jika dilakukan bersama. “Lingkungan tidak membutuhkan tindakan heroik, ia membutuhkan konsistensi,” lanjut Ida.

Melihat bencana yang terjadi berulang, Ida mengajak pemerintah dan masyarakat untuk lebih serius menjaga hutan dan menegakkan aturan tata ruang. Ia meminta penebangan liar ditindak tegas dan keputusan alih fungsi lahan dipertimbangkan secara ilmiah, bukan semata-mata ekonomis. Ida menutup dengan mengingatkan bahwa kerusakan hutan hari ini akan menjadi beban besar bagi generasi mendatang. Menurutnya, menjaga hutan adalah langkah penting untuk keberlanjutan hidup dan masa depan lingkungan.(tok)