Asparagus Eks Karesidenan Madiun Gelar Silaturahmi Kebangsaan

oleh

Ponorogo, kilasjatim.com: Puluhan putra-putra Kiai atau Gus yang tergabung dalam Asparagus di wilayah eks Karesidenan Madiun menggelar Silaturahmi Kebangsaan di Pendopo Dhalem Agung Kyai Ageng Mohammad Besari Tegalsari, Ponorogo, Kamis Malam (16/8/2018).

Silaturahmi para Gus tersebut merupakan rangkain acara Ngaji Bareng bersama Kasidah Modern Ki Bagus Harun di Lapangan Josari, Tegalsari, Ponorogo yang dihadiri masyarakat sekitar pada Rabu (15/8/2018) malam.

Gus Nabil Hasbullah, Pengasuh Ponpes Darul Hikam Joresan Kec Mlarak, Ponorogo, mengatakan peranan umat Islam terutama dari ponpes sangat besar dalam perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peran besar Ponpes untuk penguatan pondasi berbangsa dan bernegara sudah terbangun jauh sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan.

“Tegalsari dengan Ponpes Gebang Tinatarnya yang tak bisa dipisahkan dari dua motor utama kiai Ageng Moh Besari dan cucu beliau kiai Hasan Besari punya peran sangat besar dalam lintasan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Di Perdikan atau tanah merdeka Tegalsari inilah rasa nasionalisme dan patriotisme yang dibalut pendidikan keagaman islam disemaikan secara masif sejak tahun 1600-an khususnya dalam melawan penjajahan Belanda kala itu,” kata Gus Nabil.

Peran besar Tegalsari semakin menguat pasca Sri Sunan Pakubuwono II menjadi santri di ponpes tersebut dan para santri-santrinya menjadi motor berdirinya sejumlah ponpes besar bersejarah lainnya seperti Ponpes Termas Pacitan, Ponpes Sewulan Madiun, Ponpes Darussalam Gontor Ponorogo, Ponpes Lirboyo, Ponpes Ploso dan ponpes

“Sejumlah keturunan kiai Ageng Moh Besari ini telah menyebar dan menjadi perintis pendirian ponpes besar di beberapa wilayah di Jawa khususnya Jawa Timur. Bahkan raja-raja Selangor dan Johor Malaysia dipastikan masih ada darah keturunan dari salah satu Putra Kyai Ageng Moh Besari yaitu yang bernama Zainal Abidin. Begitu pula para santri-santrinya juga merupakan para tokoh nasional yang hebat,” jelasnya.

Meski demikian, lanjut Gus Nabiel, keberadaan dan peran emas Perdikan Tegalsari ini sudah memudar ditelan zaman seiring kemunduran keberadaan kiprah Ponpes Gebang Tinatar tersebut yang konon dahulu memiliki santri hingga 10.000 orang.

“Para Gus di wilayah sekitar Ponorogo sangat antusias ketika kami undang untuk bisa ngumpul dan jagongan bareng di pendopo Dhalem Agung Tegalsari guna meng-uri-uri (menggali kembali) sejarah dan mencoba memerankan kembali ponpes tertua di Indonesia ini agar bisa kembali berkiprah dalam khasanah Indonesia modern dan menghadapi tantangan globalisasi,” kata Gus Nabil yang juga keturunan kai Ageng Moh Besari ini.

Ketua Forsana, Gus Thoriq Darwis bin Ziyad, yang juga pengasuh Ponpes Babussalam Pagelaran Kab Malang menambahkan memperkuat peran ponpes dan para santri menjaga keutuhan NKRI saat ini menjadi keniscayaan. Negara saat ini telah mengakui keberadaan ponpes dan santri dengan adanya Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tahunnya.

Kedepan definisi kata Santri mesti juga dikukuhkan. Kami mendorong pemerintah RI untuk mematenkan definisi Santri yaitu Insan Taat Republik Indonesia. Artinya siapapun yang taat NKRI itu layak disebut SANTRI,” kata Gus Thoriq.

Dalam kesempatan tersebut, inisiator Hari Santri Nasional ini juga kembali melontarkan gagasannya terkait perlunya penetapan keberadaan Doa Resmi Kenegaraan yang digunakan dalam setiap momen acara resmi di Indonesia.

“Setahu saya di sejumlah negara khususnya yang penduduknya mayoritas muslim memiliki doa resmi kenegaraan, itu berlaku di Arab Saudi, Malaysia, Brunei Darussalam dan beberapa lainnya. Sudah saatnya Indonesia juga punya doa resmi kenegaraan,” terang Gus Thoriq.

Acara yang dimotori kalangan Asparagus Ponorogo itu bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur serta Forum Santri Nasional (Forsana). Mengambil tema ‘Menepis Faktor Kesejahteraan Dalam Radikalisme Dengan Sosialisaso Ketahanan Pangan Oleh Para Santri’.

Beberapa Gus yang hadir diantaranya yang dari Ponorogo yaitu Gus Sahrul Munir (PP Hudatul Muna Jenes), Gus Saifuddin Rofii (PP Darul Huda Mayak). Gus Nabil dan Gus Reza (PP Darul Hikam Joresan). Dari Madiun yaitu Gus Nur Ihwan (PP Al Ittihad Kepuh Beluk) da Gus Rouf (PP Attohiriyah Selopuro).

Acara semakin semarak dan khitmat sesaat ulama sepuh yang dikenal masyarakat Ponorogo memiliki kharomah/waliyullah, KH Maskhuri Ponpes Hudatul Muna hadir di tengah majelis diskusi yang dinilai para peserta sangat mengejutkan, mengingat beliau jarang berkenan hadir diberbagai acara. Acara juga dihadiri anggota majelis Mayoran Madiun Raya dan Asparagus Ponorogo, Magetan dan Madiun Raya.

Disisi lain, lokasi acara sengaja dipilih di Tegalsari Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo itu untuk mengenang kembali akan peran besar yang bersejarah dalam memupuk rasa nasionalisme dan patriotisme oleh Ponpes Gebang Tinatar yang didirikan oleh Kyai Ageng Moh. Besari yang telah berdiri sejak era 1600-an, jauh sebelum Republik Indonesia berdiri.

Perdikan menjadi saksi sejarah terkait lahirnya sejumlah tokoh-tokoh besar seperti kiai Hasan Besari (Cucu kiai Ageng Moh Besari), Ki Bagus Harun (Santri Utama yang jadi Pengiring Sunan Pakubuwono II saat mengasingkan diri di Tegalsari/1637), Penyair dan Budayawan Kraton Mataram Ronggowarsito, Bendoro Raden Mas (BRM) Ontowirjo atau Pangeran Diponegoro serta Guru Bangsa HOS Cokroaminoto. (Wah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *