Rumah Subsidi 18 Meter Persegi Dinilai Ideal untuk Hunian Vertikal

oleh -27 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Rumah subsidi berukuran 18 meter persegi dinilai lebih ideal diterapkan pada hunian vertikal dibandingkan rumah tapak. Optimalisasi ruang melalui konsep rumah susun atau apartemen dinilai dapat menghadirkan hunian terjangkau tanpa mengorbankan kenyamanan penghuni.

Pandangan tersebut disampaikan Dr. Bramasta Putra Redyantanu, S.T., M.T., dosen Program Architecture of Sustainable Housing and Real Estate Universitas Kristen Petra. Menurut dosen yang akrab disapa Redy ini, keterbatasan luas bangunan dapat diatasi dengan memaksimalkan pemanfaatan ruang secara vertikal.

“Pada rumah tapak, desain perlu mempertahankan fasilitas sekunder seperti ruang tamu sehingga ruang gerak justru terasa sempit. Sedangkan dalam bentuk hunian vertikal, kebutuhan tersebut bisa diakomodasi lewat area bersama seperti koridor, balkon, dan taman bersama,” papar Redy.

Selain tata ruang, Redy menekankan pentingnya penggunaan material bangunan berkelanjutan dan teknik konstruksi ramah lingkungan. Hal itu diperlukan agar penyediaan rumah subsidi tidak hanya memenuhi aspek keterjangkauan, tetapi juga kesehatan dan kelestarian lingkungan.

Ia menyarankan pemanfaatan material daur ulang melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), seperti plastik daur ulang yang diolah menjadi panel langit-langit, ubin, maupun dinding bangunan.

Redy juga mendorong penggunaan konstruksi kering dengan material baja yang memungkinkan bangunan dibongkar dan dipasang kembali. Pendekatan tersebut dinilai membuka peluang penggunaan ulang material sekaligus mengurangi kebutuhan bahan bangunan baru.

“Ada pilihan untuk menggunakan baja agar nantinya bisa dengan mudah dibongkar pasang untuk keperluan reuse dan reconstruction di masa depan. Tidak hanya hemat secara biaya, tapi juga ramah lingkungan,” katanya.

Menurut Redy, penyediaan rumah subsidi perlu menggabungkan efisiensi biaya, kelayakan hunian, dan keberlanjutan lingkungan. Optimalisasi hunian vertikal, penggunaan material daur ulang, serta konstruksi kering dapat menjadi pendekatan untuk menghadirkan rumah terjangkau yang tetap layak huni dan ramah lingkungan.(tok)

Baca Juga :  Pemkab Jember Terapkan WFH untuk Pelajar dan ASN akibat Krisis BBM