Bondowoso Borong Penghargaan Peternakan Jatim 2026, MAT PECI Jadi Andalan Pulihkan Populasi Sapi

oleh -357 Dilihat
Oleh
Ihwanul Hasan

KILASJATIM.COM, Bondowoso – Inovasi pengembangan ternak yang digagas insan peternakan Bondowoso mulai mendapat pengakuan di tingkat Jawa Timur. Melalui program Manajemen Ternak Pedet Jadi Induk (MAT PECI), Indra Wijaya berhasil meraih juara I kategori Inseminator Terbaik Jawa Timur 2026. Tak hanya itu, kelompok ternak Beddoes Merah dari Desa Ramban Kulon, Kecamatan Cermee, juga sukses mengharumkan nama Bondowoso dalam ajang yang sama.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (12/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur.

Capaian ini bukan sekadar penghargaan bagi individu maupun kelompok ternak. Di balik keberhasilan tersebut, terdapat upaya mendorong peternakan rakyat agar lebih produktif, memiliki aset yang terus berkembang, serta mampu mendukung pemulihan populasi sapi di Bondowoso.

Bagi Indra, penghargaan itu menjadi pengalaman istimewa. Untuk pertama kalinya mengikuti kompetisi tingkat provinsi, ia langsung berhasil menduduki posisi tertinggi pada kategori yang diikutinya.

“Alhamdulillah, sangat bersyukur bisa mendapatkan penghargaan ini. Tentu ini berkat kerja sama tim yang maksimal. Ini baru pertama kalinya saya ikut lomba tingkat Jatim dan alhamdulillah bisa menjadi juara,” ungkap Indra, Senin malam.

Keberhasilan tersebut semakin memotivasinya untuk memperluas penerapan MAT PECI kepada peternak. Ia ingin pendekatan yang dikembangkan tidak berhenti sebagai inovasi, tetapi benar-benar dimanfaatkan untuk membantu masyarakat membangun usaha peternakan yang lebih kuat.

“Ke depan saya akan lebih giat lagi menularkan metode MAT PECI ini ke para peternak, minimal di wilayah kerja Sumberwringin,” tegasnya.

**Mengubah pedet menjadi aset produktif**

MAT PECI berangkat dari gagasan yang mulai dirumuskan sejak 2015 dan diluncurkan pada 2026. Program ini menawarkan pendekatan pengelolaan hasil usaha ternak agar peternak tidak hanya mengandalkan penjualan pedet sebagai sumber pendapatan, tetapi juga menggunakannya untuk menambah kepemilikan sapi indukan produktif.

Melalui skema tersebut, hasil penjualan pedet dapat dialokasikan kembali untuk membeli indukan yang siap dikawinkan. Apabila proses reproduksi berjalan baik, indukan tersebut dapat menghasilkan pedet baru yang berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari aset peternak.

Dengan pola itu, peternak didorong untuk membangun kepemilikan ternak secara bertahap. Sapi tidak hanya dipandang sebagai komoditas yang dijual ketika membutuhkan uang, tetapi juga sebagai aset produktif yang dapat menopang keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.

Baca Juga :  Dies Natalis ke 45, Unitomo Gandeng Nurul Hayat Gelar Khitan Bahagia

Dalam simulasi pengembangan MAT PECI, jumlah ternak yang semula sembilan ekor diproyeksikan dapat meningkat menjadi 32 ekor. Nilai asetnya pun diperkirakan bertambah dari Rp123 juta menjadi Rp418 juta.

Proyeksi tersebut merupakan gambaran potensi berdasarkan simulasi, bukan jaminan hasil yang akan diperoleh seluruh peternak. Pencapaiannya tetap dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari harga sapi, keberhasilan reproduksi, biaya pakan, perawatan kesehatan, hingga kemampuan mengelola pendapatan dari penjualan ternak.

Peluang pengembangan usaha melalui kepemilikan sapi juga tercermin dalam perjalanan Feri Afandi. Berawal sebagai buruh tani sekaligus penggaduh ternak, Feri kini memiliki 16 ekor sapi sendiri. Dari jumlah tersebut, 14 ekor di antaranya digaduhkan kepada tujuh orang.

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa usaha peternakan berpotensi berkembang dari sumber penghidupan pribadi menjadi kegiatan ekonomi yang turut membuka kesempatan bagi masyarakat lain. Meski demikian, pola penggaduhan membutuhkan kesepakatan yang jelas mengenai pembagian hasil, pemeliharaan, dan risiko agar hubungan kerja sama dapat berlangsung berkelanjutan.

**Satu desa satu MAT PECI**

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Bondowoso, Hendri Widotono, menyambut capaian tersebut sebagai hasil kerja bersama tim peternakan di daerah. Ia berharap inovasi yang dikembangkan Indra dapat diterapkan lebih luas sehingga manfaatnya dirasakan oleh peternak di berbagai wilayah.

“Penghargaan ini bukti bahwa kerja tim di Bondowoso berhasil. Dengan program MAT PECI, harapan ke depan kita bisa praktikkan menyeluruh di Bondowoso. Satu desa, satu MAT PECI untuk mendongkrak populasi ternak sapi,” ujar Hendri.

Menurutnya, penerapan MAT PECI secara merata diharapkan menjadi salah satu upaya memperkuat peternakan rakyat. Konsep satu desa satu MAT PECI diarahkan untuk mendorong pengembangan ternak berbasis potensi lokal sekaligus memperbesar peluang peternak dalam menambah kepemilikan indukan produktif.

Langkah tersebut juga berkaitan dengan tantangan pemulihan populasi sapi Bondowoso setelah wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Data yang menjadi latar belakang program menyebutkan, populasi sapi di daerah ini turun dari sekitar 240 ribu ekor menjadi 141 ribu ekor.

Baca Juga :  Pertamina Patra Niaga Terima Kunjungan Kerja DPR RI Komisi VI, Tinjau Kesiapan Satgas Ramadan–Idulfitri

Penurunan tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi pengembangan sektor peternakan. Pemulihan populasi tidak cukup hanya dengan menambah jumlah ternak, tetapi juga memerlukan penguatan reproduksi, pemilihan indukan berkualitas, pengendalian penyakit, serta pemeliharaan yang baik.

Di sisi lain, peternak juga perlu memiliki kemampuan mempertahankan aset agar ternak yang dikembangkan tidak kembali berkurang akibat tekanan ekonomi maupun persoalan pemeliharaan.

Karena itu, keberhasilan MAT PECI ke depan perlu dilihat dari penerapannya di lapangan. Indikatornya antara lain pertambahan jumlah indukan produktif, tingkat kelahiran pedet, perkembangan kepemilikan ternak, serta manfaat ekonomi yang dirasakan peternak peserta program.

**Beddoes Merah turut mengharumkan Bondowoso**

Selain prestasi Indra Wijaya, kelompok ternak Beddoes Merah dari Desa Ramban Kulon, Kecamatan Cermee, juga berhasil meraih penghargaan dalam kompetisi peternakan tingkat Jawa Timur 2026.

Hendri menyebut keberhasilan dua delegasi tersebut menjadi dorongan bagi pemerintah daerah untuk terus mengembangkan inovasi dan memperkuat kelompok ternak. Ia berharap prestasi itu dapat menjadi pijakan untuk memperluas praktik peternakan yang produktif dan berkelanjutan.

“Selain MAT PECI, kita juga menggaet juara untuk kategori kelompok ternak, yaitu Beddoes Merah di Desa Ramban Kulon, Kecamatan Cermee. Alhamdulillah, dua delegasi kita keluar sebagai juara. Kami akan aplikasikan inovasi ini untuk mewujudkan swasembada pangan, dari Bondowoso untuk Indonesia,” kata Hendri.

Dua penghargaan tersebut memperlihatkan adanya potensi pengembangan peternakan di Bondowoso melalui inovasi individu maupun penguatan kelompok. Tantangan selanjutnya adalah menerjemahkan prestasi menjadi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat peternak.

Bagi Indra, penghargaan sebagai Inseminator Terbaik Jawa Timur 2026 menjadi langkah awal untuk memperluas penerapan MAT PECI, dimulai dari wilayah kerja Sumberwringin. Sementara bagi pemerintah daerah, target satu desa satu MAT PECI menjadi salah satu arah pengembangan yang diharapkan mampu memperkuat usaha peternakan rakyat.

Dengan penerapan yang terukur dan pendampingan berkelanjutan, inovasi tersebut diharapkan tidak hanya membantu meningkatkan kepemilikan ternak, tetapi juga mendukung pemulihan populasi sapi serta memperkuat perekonomian peternak Bondowoso.(wan)