6 Fenomena Langit November 2026, Hujan Meteor hingga Supermoon

oleh -14 Dilihat
Oleh
Redaksi
Reporter
Ilustrasi Supermoon (Foto: Wikipedia)

KILASJATIM.COM, Surabaya – Langit November 2026 bakal dihiasi sejumlah fenomena astronomi menarik. Mulai hujan meteor Taurid dan Leonid, Bulan Baru, hingga Supermoon. Ada pula Merkurius yang mencapai elongasi barat terbesar dan Uranus yang berada di posisi oposisi.

Sejumlah fenomena tersebut bisa diamati dari Bumi. Namun, waktu dan peluang pengamatan bergantung pada kondisi cuaca, lokasi, serta tingkat polusi cahaya di sekitar tempat pengamatan.

Mengutip kalender astronomi Sea and Sky, setidaknya ada enam fenomena langit yang patut dicatat sepanjang November 2026. Berikut jadwal dan waktu terbaik untuk mengamatinya.

4-5 November: Hujan Meteor Taurid

Hujan meteor Taurid Selatan diperkirakan mencapai puncaknya pada malam 4 November hingga dini hari 5 November. Fenomena ini termasuk hujan meteor minor dengan intensitas sekitar 5-10 meteor per jam.

Taurid merupakan hujan meteor tahunan yang berlangsung cukup panjang, yakni sekitar September hingga Desember. Hujan meteor ini memiliki dua aliran, yaitu Taurid Selatan dan Taurid Utara, yang berkaitan dengan material debu dari Komet 2P/Encke dan asteroid 2004 TG10.

Waktu terbaik untuk mengamati Taurid adalah setelah tengah malam. Pengamatan disarankan dari lokasi gelap yang jauh dari polusi cahaya perkotaan.

Meteor tampak seolah-olah berasal dari arah rasi bintang Taurus. Meski demikian, kilatan meteor bisa muncul di berbagai bagian langit.

9 November: Bulan Baru

Bulan memasuki fase Baru pada 9 November 2026. Berdasarkan kalender Sea and Sky, fase ini terjadi pukul 07.03 UTC atau 14.03 WIB.

Pada fase Bulan Baru, posisi Bulan berada di antara Bumi dan Matahari. Sisi Bulan yang menghadap Bumi tidak mendapat pencahayaan langsung sehingga Bulan tidak terlihat di langit malam.

Minimnya cahaya Bulan membuat periode ini ideal untuk mengamati objek langit yang redup, seperti galaksi dan gugus bintang. Pengamatan akan lebih optimal jika dilakukan dari lokasi dengan langit gelap dan minim polusi cahaya.

Baca Juga :  Tertarik Cyber PR, Humas SGN Kunjungi Ikom UPN

17-18 November: Hujan Meteor Leonid

Hujan meteor Leonid diperkirakan mencapai puncaknya pada malam 17 November hingga dini hari 18 November. Fenomena tahunan ini dapat menghasilkan hingga 15 meteor per jam saat mencapai puncak aktivitas.

Leonid berasal dari debu dan material yang ditinggalkan Komet Tempel-Tuttle. Komet tersebut ditemukan pada 1865.

Leonid memiliki karakteristik unik karena aktivitasnya dapat meningkat drastis setiap sekitar 33 tahun. Dalam periode tertentu, hujan meteor ini bahkan bisa menghasilkan ratusan meteor per jam. Peningkatan besar terakhir terjadi pada 2001.

Pada 2026, cahaya Bulan berpotensi menghalangi pengamatan meteor yang redup pada awal malam. Namun, kondisi langit diperkirakan lebih mendukung setelah Bulan terbenam sekitar tengah malam.

Karena itu, waktu terbaik untuk berburu Leonid adalah setelah tengah malam hingga menjelang fajar. Pilih lokasi terbuka yang jauh dari cahaya perkotaan agar meteor lebih mudah terlihat.

20 November: Merkurius di Elongasi Barat Terbesar

Merkurius akan mencapai elongasi barat terbesar pada 20 November 2026. Saat itu, jarak sudut planet tersebut dari Matahari mencapai sekitar 19,6 derajat.

Elongasi merupakan jarak sudut antara planet dan Matahari jika dilihat dari Bumi. Ketika mencapai elongasi barat terbesar, Merkurius berada pada posisi yang relatif menguntungkan untuk diamati sebelum Matahari terbit.

Pengamat dapat mencari planet ini di langit timur, sesaat sebelum Matahari muncul di ufuk. Merkurius akan tampak rendah di atas cakrawala sehingga pengamatan membutuhkan pandangan ke arah timur yang tidak terhalang bangunan atau pepohonan.

24 November: Supermoon atau Beaver Moon

Bulan Purnama pada 24 November 2026 menjadi salah satu fenomena utama bulan ini. Sea and Sky mencatat puncak fase Bulan Purnama terjadi pukul 14.55 UTC atau 21.55 WIB.

Baca Juga :  MAKI Aksi di Kejati Jatim, Soroti Pengungkapan Korupsi 2026

Bulan Purnama November dikenal dengan sebutan Beaver Moon. Nama tersebut berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara yang mengaitkannya dengan periode pemasangan perangkap berang-berang sebelum rawa dan sungai membeku saat musim dingin.

Fenomena ini juga disebut Supermoon karena terjadi ketika Bulan berada dekat dengan titik terdekatnya dari Bumi atau perigee. Dalam kondisi tersebut, Bulan berpotensi terlihat sedikit lebih besar dan terang dibandingkan Bulan Purnama biasa.

Supermoon November merupakan yang kedua dari tiga Supermoon yang diperkirakan terjadi sepanjang 2026. Meski begitu, perbedaan ukuran Bulan dengan purnama biasa relatif kecil dan tidak selalu mudah dikenali tanpa perbandingan langsung.

25 November: Uranus Berada di Oposisi

Sehari setelah Bulan Purnama, Uranus akan mencapai posisi oposisi pada 25 November 2026.

Oposisi terjadi ketika sebuah planet berada di sisi berlawanan dari Matahari jika dilihat dari Bumi. Dalam posisi ini, Bumi berada di antara Matahari dan planet tersebut.

Saat oposisi, Uranus berada relatif dekat dengan Bumi dibandingkan waktu lainnya dalam satu tahun. Planet ini juga tampak lebih terang karena mendapat pencahayaan Matahari secara penuh dari sudut pandang pengamat di Bumi.

Uranus dapat diamati sepanjang malam saat berada di posisi oposisi. Namun, planet ini sangat jauh dari Bumi sehingga hanya tampak sebagai titik kecil berwarna biru kehijauan. Penggunaan teleskop atau teropong astronomi akan membantu pengamatan.

Beragam fenomena tersebut membuat November 2026 menjadi waktu menarik bagi pencinta astronomi untuk mengamati langit. Hujan meteor, perubahan fase Bulan, hingga pergerakan planet menawarkan kesempatan berbeda sepanjang bulan.

Agar pengamatan lebih optimal, pilih lokasi dengan langit terbuka dan minim polusi cahaya. Jangan lupa memeriksa prakiraan cuaca sebelum menentukan waktu pengamatan. (cit)