KILASJATIM.COM, Bondowoso – memperkenalkan potensi unggulannya di sektor kopi, pertanian organik, dan pariwisata alam Ijen UNESCO Global Geopark kepada Delegasi Pemerintah Daerah Kamerun. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring kerja sama internasional sekaligus mendorong pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid memaparkan berbagai keunggulan tersebut saat menerima kunjungan Delegasi Pemerintah Daerah Kamerun di Kabupaten Bondowoso. Kegiatan itu turut dihadiri perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Yaoundé, Wakil Bupati Bondowoso, Sekretaris Daerah, serta jajaran kepala perangkat daerah.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso memandang kunjungan tersebut sebagai momentum untuk mempererat hubungan persahabatan, membuka peluang pertukaran pengalaman, serta menjajaki kerja sama pembangunan yang saling menguntungkan.
Dalam paparannya, Abdul Hamid Wahid menjelaskan bahwa karakteristik geografis Bondowoso yang didominasi kawasan pegunungan, perkebunan, dan pertanian menjadi kekuatan utama dalam menggerakkan perekonomian masyarakat.
Bondowoso memiliki luas wilayah sekitar 1.560 kilometer persegi yang terbagi dalam 23 kecamatan dan 209 desa. Kondisi geografis tersebut mendukung pengembangan berbagai komoditas unggulan, terutama kopi, serta pariwisata berbasis alam dan budaya.
Dari sisi ekonomi, pertumbuhan ekonomi Bondowoso pada 2025 mencapai 5,32 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sekitar Rp28,56 triliun.
Perkembangan ekonomi tersebut turut diikuti perbaikan indikator kesejahteraan masyarakat. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun dari 4,46 persen pada 2021 menjadi 2,55 persen pada 2025. Sementara itu, angka kemiskinan menurun dari 14,73 persen menjadi 12,20 persen dalam periode yang sama.
Capaian tersebut menjadi modal bagi pemerintah daerah untuk memperkuat sektor unggulan, meningkatkan nilai tambah produk lokal, dan memperluas kesempatan ekonomi masyarakat.
Kopi Bondowoso Jadi Andalan Ekonomi Daerah
Salah satu potensi yang menjadi perhatian dalam paparan Bupati Bondowoso adalah komoditas kopi. Bondowoso dikenal sebagai penghasil kopi Arabika dan Robusta yang memiliki karakteristik khas berkat kondisi geografis serta iklim pegunungan.
Pada 2025, luas panen kopi Arabika di Bondowoso mencapai sekitar 13.754 hektare dengan produksi lebih dari 5.676 ton. Sementara itu, kopi Robusta memiliki luas panen sekitar 6.556 hektare dengan produksi lebih dari 3.237 ton.
Daya saing kopi Bondowoso juga diperkuat dengan perlindungan Indikasi Geografis terhadap dua produk unggulan, yakni Kopi Arabika Java Ijen–Raung dan Kopi Arabika Hyang Argopuro.
Pengembangan komoditas kopi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat rantai usaha dari hulu hingga hilir. Upaya tersebut mencakup peningkatan kualitas budidaya, pengolahan pascapanen, penguatan industri pengolahan, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga perluasan akses pemasaran.
Melalui identitas Bondowoso Republik Kopi dan penyelenggaraan Festival Kopi Nusantara, pemerintah daerah turut mendorong promosi produk lokal serta memperluas jejaring pelaku usaha.
Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing kopi Bondowoso di pasar yang lebih luas, sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani dan masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor perkebunan.
Pertanian Organik Jadi Model Pembangunan Berkelanjutan
Selain kopi, pengembangan pertanian organik menjadi potensi lain yang diperkenalkan kepada delegasi Kamerun. Pemerintah Kabupaten Bondowoso mendorong sistem pertanian yang produktif, berkualitas, dan ramah lingkungan untuk memperkuat sektor pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam.
Pengembangan pertanian organik dilakukan di sejumlah kawasan, antara lain Desa Lombok Kulon, Desa Sulek, dan Desa Gadingsari, dengan total luas sekitar 225 hektare.
Desa Lombok Kulon menjadi salah satu contoh pengembangan pertanian organik melalui penguatan kelompok tani, peningkatan kualitas produk, serta penerapan metode budidaya yang memperhatikan kelestarian lingkungan.
Melalui gerakan Bondowoso Pertanian Organik atau BOTANIK, pemerintah daerah berupaya memperkuat ekosistem pertanian organik mulai dari proses produksi, sertifikasi, hingga pemasaran.
Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hasil pertanian, menjaga keseimbangan lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan kesejahteraan petani.
Pengembangan pertanian organik juga menjadi bagian dari strategi meningkatkan nilai tambah sektor pertanian dengan tetap memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam. Pengalaman tersebut berpotensi menjadi bahan pertukaran pengetahuan dengan delegasi Kamerun, khususnya dalam pengembangan pertanian yang adaptif dan berkelanjutan.
Ijen UNESCO Global Geopark Perkuat Pariwisata Bondowoso
Potensi unggulan lainnya adalah Ijen UNESCO Global Geopark, yang memperoleh pengakuan sebagai bagian dari UNESCO Global Geoparks pada 24 Mei 2023.
Kawasan ini memiliki kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, serta warisan budaya yang menjadi modal penting bagi pengembangan pariwisata dan perekonomian masyarakat.
Di wilayah Bondowoso, potensi tersebut tercermin melalui sejumlah destinasi alam, seperti Kawah Ijen, Kawah Wurung, dan kawasan Blawan. Keindahan alamnya berpadu dengan perkebunan kopi, ekosistem pegunungan, serta tradisi dan budaya masyarakat setempat.
Pengembangan geopark bertumpu pada tiga pilar utama, yakni konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Dengan konsep tersebut, geopark tidak hanya diposisikan sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai sarana pelestarian alam, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan ekonomi lokal.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso meyakini bahwa pengelolaan potensi alam secara tepat dapat mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan dan warisan budaya.
Melalui kunjungan Delegasi Pemerintah Daerah Kamerun, Bondowoso berharap hubungan persahabatan yang telah terjalin dapat berkembang menjadi peluang pertukaran pengetahuan dan pengalaman, termasuk dalam pengelolaan potensi daerah, pengembangan komoditas unggulan, pertanian berkelanjutan, dan pariwisata berbasis alam.
Kopi, pertanian organik, dan Ijen UNESCO Global Geopark menjadi gambaran kekuatan Bondowoso dalam menghubungkan kekayaan alam dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Semangat tersebut sejalan dengan arah pengembangan potensi daerah, yakni “Dari Warisan Alam Menuju Pembangunan Berkelanjutan.”(wan)
