Teh Gambyong Kemuning Binaan Bank Indonesia Libatkan 26 Petani Gapai Sukses 

oleh -29 Dilihat
Eko Woryanto, Pemilik UMKM Teh Gambyong Kemuning, saat memperagakna alat sarpras bantuan Bank Indonesia yang mempermudah memetik daun teh di Karanganyar Jawa Tengah . (kilasjatim.com/nova)

 

KILASJATIM. COM, Karanganyar – Dari lereng pegunungan Kemuning, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Teh Gambyong Kemuning terus memperluas pasar.  Melibatkan 26 petani yang tergabung dalam satu gapoktan menggapai sukses bersama.

Petani ini menggarapl lahan teh  melalui skema kerja sama, telah mencapai hampir 50 hektare. Produk yang dirintis sejak 2014 itu, kini telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.

Pemilik UMKM Teh Gambyong Kemuning, Eko Woryanto, mengatakan perkembangan usaha tersebut tidak lepas dari kemitraan dengan petani serta pembinaan Bank Indonesia (BI).

“Pembinaan BI yang dimulai sejak 2019, turut mendorong pengembangan usaha. Selain membuka akses promosi, BI memberikan dukungan sarana produksi yang membantu proses perawatan, pemanenan hingga pengolahan,” ujar

Eko di lahan kebun Teh Desa Kemuning dalam rangkaian kegiatan Capacity Building Media BI bertajuk Media Connect: Insight, Impact & Collaboration di Pondok Gambyong Kemuning, Selasa (6/10/2026).

Dari komoditas yang sama, Eko mengembangkan teh hijau, hitam, putih hingga oolong. Setidaknya lima produk utama dikembangkan menjadi sekitar 16 produk turunan. Pasarnya pun semakin luas. Selain Jawa Tengah, Teh Gambyong Kemuning telah dikirim ke berbagai wilayah, termasuk Jabodetabek.

Saat ini pasokan teh basah yang dikelola mencapai sekitar 50-60 ton, dengan melibatkan sekitar 25 pemetik. Dengan rendemen sekitar 22,5%, bahan baku tersebut diolah menjadi berbagai produk, mulai dari teh hijau, teh hitam, teh putih, hingga teh rempah seperti jahe, sereh, kumis kucing, teh ripan, dan jati cina.

Dari berbagai produk tersebut, teh hitam menjadi salah satu yang paling banyak diminati pasar. Bahkan, sejumlah pabrikan telah menyatakan minat untuk mendapatkan pasokan dari Teh Gambyong. Namun, Eko belum dapat memenuhi permintaan tersebut karena produksi yang ada masih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

Baca Juga :  Proyek Ambisius BI di Tahun 2026 QRIS Ekspansi ke 8 Negara dengan Target Transaksi 17 miliar 

Eko bersyukur setelah menjadi binaan  Bank Indonesia,  mengalami peningkatan kurang lebih sekitar 30 sampai 40 persen. Ini berkat penggunaan mesin pemanen, misalnya, berpotensi meningkatkan kemampuan panen dari sekitar 30–60 kilogram menjadi 70–100 kilogram per orang per hari.

“Bagaimana meningkatkan kapasitas produksi dengan memberikan sarpras bantuan berupa alat-alat,” ujar Eko.

Teh Gambyong mendapat dukungan dalam pengembangan produksi, peralatan, promosi, serta kesempatan mengikuti berbagai pameran untuk bertemu calon pembeli.

Salah satunya melalui keikutsertaan dalam Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 yang digelar pada bulan Juli kemarin di Surabaya. Dari ajang tersebut, Teh Gambyong memperoleh pembeli dari Boyolali yang kini memesan sekitar 3.000 pieces produk setiap hari. Dari satu pembeli tersebut, nilai transaksi yang diperoleh mencapai sekitar Rp6 juta per hari.

“Unik juga, mitra kami dari Boyolali justru bertemu di Surabaya. Dari satu buyer saja, setiap hari kami bisa mendapatkan sekitar Rp6 juta,” kata Eko.

Dukungan tersebut ikut memperluas jaringan pemasaran. Jumlah reseller yang pada 2025 tercatat sekitar 235 orang kini telah meningkat menjadi sekitar 620 reseller.

Usaha yang dirintis Eko Wuryanto sejak 2012 itu kini membukukan omzet sekitar Rp200 juta hingga Rp300 juta per bulan.  Di sisi lain, Teh Gambyong juga mulai memperluas sumber pendapatan melalui wisata edukasi pengolahan teh. Pengunjung dan mahasiswa dapat melihat langsung proses produksi, mulai dari perkebunan hingga teh siap dikonsumsi.

Saat itu, wisatawan yang datang ke Kemuning tidak hanya ingin menikmati pemandangan kebun teh, tetapi juga mencari produk teh lokal dan ingin melihat proses pengolahannya. Namun, fasilitas tersebut belum tersedia. Kondisi itu yang kemudian memunculkan ide Eko untuk mengolah dan memasarkan teh sendiri.

Baca Juga :  UMKM Unggulan Pertamina Catatkan Transaksi Ratusan Juta Rupiah

Pengembangan usaha tersebut juga memberi dampak lebih luas. Perkebunan teh Kemuning berkembang menjadi kawasan wisata yang membuka peluang usaha baru, seperti jeep wisata, event organizer, tubing dan outbound.

“Banyak yang awalnya merantau ke luar kota, sekarang kembali ke kampung untuk membangun dan menjadi pelaku wisata,” papar Eko.

Perjalanan Teh Gambyong memperlihatkan bahwa peningkatan nilai tambah komoditas pertanian tidak hanya bergantung pada volume produksi. Penguatan petani sebagai pemasok, efisiensi proses produksi, diversifikasi produk, akses pasar dan pendampingan menjadi faktor yang ikut menentukan kemampuan UMKM untuk naik kelas dari pasar lokal menuju pasar nasional. (nov)