KILASJATIM.COM, Ponorogo – Kekeringan telah berlangsung sekitar lima bulan di Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. Warga pun mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi itu mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperluas dropping air bersih ke wilayah terdampak. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bahkan turun langsung menyalurkan bantuan ke Dusun Dungus, Desa Karangpatihan.
Khofifah didampingi Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita saat menyalurkan bantuan tersebut.
Sebanyak 15 ribu liter air bersih dikirim menggunakan tiga truk tangki, masing-masing berkapasitas 5.000 liter. Warga juga mendapat tiga tandon air, dua tandon lipat, 60 jeriken, serta paket sembako.
Namun, penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan dengan dropping air. Pemprov Jatim juga menyiapkan sejumlah langkah untuk memenuhi kebutuhan air dalam jangka lebih panjang.
“Secara saintifik kita lakukan operasi modifikasi cuaca, pengeboran sumur, menarik air dari sumber-sumber terdekat,” kata Khofifah dalam keterangannya yang dikutip, Senin (21/9/2026).
241 Keluarga Terdampak Kekeringan
Secara keseluruhan, kekeringan di Ponorogo tercatat melanda sedikitnya lima kecamatan. Sebanyak 241 keluarga atau 612 jiwa terdampak.
Rinciannya, Kecamatan Pulung mencatat 56 keluarga atau 189 jiwa terdampak. Kemudian Kecamatan Bungkal sebanyak 111 keluarga atau 193 jiwa, Sampung 10 keluarga atau 35 jiwa, Jambon 120 jiwa, serta Slahung 36 keluarga atau 75 jiwa.
Untuk penanganan di seluruh Ponorogo, Pemprov Jatim telah menyalurkan 200 jeriken berkapasitas 15 liter dan 50 tandon berkapasitas 1.200 liter.
Kekeringan juga terjadi di banyak daerah lain. Hingga 19 September 2026, tercatat 24 wilayah di Jatim telah mengeluarkan status darurat kekeringan dan krisis air bersih.
Dropping air bersih Pemprov Jatim telah menjangkau 23 kabupaten, antara lain Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Pasuruan, Jember, Lumajang, Pamekasan, Bangkalan, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Ngawi, Mojokerto, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Pacitan, Tuban, Sampang, dan Kediri.
Pemprov Jatim juga mulai mencari solusi agar daerah terdampak tidak terus bergantung pada bantuan air tangki.
Melalui Dinas Sumber Daya Air, pemerintah memetakan sumber-sumber mata air yang berpotensi dimanfaatkan melalui jaringan pipanisasi.
Khofifah mencontohkan upaya serupa yang telah dilakukan di kawasan Singosari, Kabupaten Malang. Air dari kawasan Gunung Arjuna dialirkan melalui jaringan pipa sepanjang sekitar 15 kilometer. Di titik lain, jaringan tersebut bahkan mencapai sekitar 17 kilometer.
“Kalau di desa ini terkonfirmasi ada titik air terdekat, kita bisa bersama-sama membangun konektivitas pipanisasi agar air itu bisa dialirkan ke desa ini,” ujarnya.
Namun, pembangunan pipanisasi tidak selalu mudah. Di sejumlah lokasi, sumber air memang telah ditemukan, tetapi pemanfaatannya harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat di sekitar sumber.
Alternatif lain yang disiapkan adalah pengeboran sumur dalam. Kedalaman pengeboran berbeda-beda karena karakteristik tanah setiap daerah tidak sama.
“Ada yang di kedalaman 90 meter sudah keluar air, ada yang hingga 200 meter masih bertemu batu hingga mata bor harus diganti 19 kali,” kata Khofifah.
Pemprov Jatim juga mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengurangi dampak kekeringan.
Khofifah menyebut OMC telah dilakukan sejak 3 September 2026. Penyemaian dilakukan ketika BMKG mendeteksi awan potensial memasuki wilayah daratan Jatim.
“Kalau BMKG mendeteksi adanya awan yang masuk ke daratan Jatim, kita lakukan penyemaian dan itu jadi hujan ringan sampai sedang,” jelasnya.
Selain upaya teknis, Khofifah juga mendorong ikhtiar spiritual. Ia meminta Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur mengimbau masjid-masjid menggelar Salat Istisqa setelah Salat Jumat pada pekan berikutnya.
“Kita memohon kepada Allah agar diturunkan hujan yang membawa rahmat dan manfaat,” pesannya.
Bantuan air bersih disambut lega warga Karangpatihan. Salah satunya Wagiyem (62), yang mengatakan warga telah sekitar lima bulan menghadapi kekeringan.
Menurutnya, pasokan air dari Pemprov Jatim sangat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Terima kasih Bu Gubernur, bantuan airnya sangat bermanfaat. Kami di sini sudah lima bulan kekeringan,” kata Wagiyem.
Ia berharap hujan segera turun sehingga warga tidak lagi bergantung pada dropping air dan dapat kembali memperoleh pasokan air secara normal.
Pemprov Jatim memastikan penanganan kekeringan tidak berhenti pada bantuan darurat. Pemerintah juga mendorong solusi jangka panjang melalui pemanfaatan sumber air, pipanisasi, pengeboran sumur, serta OMC di wilayah yang terdampak. (FRI)
