Sampoerna Academy Dorong Siswa Mengeksplorasi Literasi melalui Karya Melalui Literacy Day 2026

oleh -40 Dilihat
Komitmen menumbuhkan budaya literasi ini tidak berhenti di dalam kelas. Sampoerna Academy Grand Pakuwon Surabaya berkolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya melalui penyerahan buku karya siswa ke Perpustakaan Umum Surabaya dan Taman Baca Masyarakat (TBM) Surabaya. Langkah ini diambil untuk memperluas akses bacaan anak sekaligus mendukung penguatan ekosistem literasi masyarakat di Surabaya. (kilasjatim.com/nova) 

KILASJATIM. COM, Surabaya – Sampoerna Academy menggelar Literacy Day 2026 dengan mengusung tema “Literacy for People, the Planet, and Prosperity.” Berlangsung di Sampoerna Academy Grand Pakuwon Surabaya, Jumar (11/9/2026)

Kegiafan ini dalma rangkaian  memperingati Hari Literasi Internasional ke-60 dengan imengajak siswa melihat literasi tidak hanya sebagai kemampuan membaca, tetapi juga sebagai proses untuk memahami berbagai perspektif, mengeksplorasi ide, dan mengubah apa yang dipelajari menjadi karya. Hal tersebut diwujudkan melalui peluncuran tiga buku karya siswa yang terinspirasi dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

Maharsi Palupining Rini, National Principal Sampoerna Academy Grand Pakuwon Surabaya, menjelaskan bahwa kemampuan literasi perlu dibangun sebagai bagian dari proses belajar yang dekat dengan kehidupan siswa.

“Kami ingin mengajak siswa melihat literasi bukan hanya tentang seberapa banyak anak membaca, tetapi juga tentang seberapa baik mereka memahami, menginterpretasikan, dan memaknai apa yang dibaca. Dari situ, siswa dapat memperluas wawasan, melihat perspektif baru, dan menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan di sekitarnya,” ujar Palupi disela kegiatan.

Di tengah semakin luasnya akses anak terhadap informasi, tantangan literasi kini tidak berhenti pada kemampuan memahami teks. Anak berhadapan dengan informasi buku, internet, media sosial, maupun berbagai platform digital lainnya, sehingga kemampuan untuk memahami konteks, menginterpretasikan informasi, membedakan sudut pandang, dan menghubungkannya dengan sehari-hari.

Hal ini juga tercermin dalam Asesmen Nasional 2025, di mana proporsi siswa SD/MI yang mencapai kompetensi minimum literasi membaca berada di angka 55,7%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan literasi masih perlu dilakukan sejak dini, termasuk dengan membangun kebiasaan belajar yang mendorong anak untuk tidak hanya membaca, tetapi juga memahami dan mengolah apa yang mereka temukan.

Ketika Literasi Lebih dari Sekadar Membaca

Memaknai literasi tidak berhenti pada kemampuan memahami apa yang dibaca, tetapi juga bagaimana pengetahuan tersebut dapat membantu siswa melihat dunia dari berbagai sisi.

Semangat inilah yang diangkat dalam Literacy Day 2026 melalui tema “Literacy for People, the Planet, and Prosperity”, yang mengajak siswa menghubungkan literasi dengan kehidupan manusia, kepedulian terhadap lingkungan, serta peluang untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Baca Juga :  Kajian Mushaf Tadabbur bersama Cak Nun Ramaikan Dies Natalis ke-61 ITS

Di Sampoerna Academy, pemaknaan literasi diterapkan melalui pengalaman belajar yang mendorong siswa untuk aktif mencari tahu, memahami, dan mengolah pengetahuan. Salah satunya melalui kebiasaan “Gemar Belajar”, yang merupakan bagian dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

Siswa tidak hanya membaca, tetapi juga diajak berdiskusi, berefleksi, mengeksplorasi ide, serta menuangkan pemahaman mereka dalam tulisan dan karya kreatif. Proses ini juga didukung oleh pembelajaran trilingual dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Mandarin, sehingga siswa memiliki kesempatan untuk mengakses pengetahuan dan perspektif yang lebih beragam.

Dalam prosesnya, kemampuan tersebut dikembangkan melalui pendekatan STEAM dan 5C (Creativity, Critical Thinking, Communication, Collaboration, dan Character). Siswa belajar mengolah informasi, berpikir kritis, mengembangkan ide, berkomunikasi dan berkolaborasi, hingga menghasilkan karya maupun solusi yang relevan dengan kehidupan di sekitar mereka.

Salah satu hasil dari proses pembelajaran tersebut adalah tiga buku karya siswa Sampoerna Academy Grand Pakuwon Surabaya yang diluncurkan dalam Literacy Day 2026. Buku-buku ini merupakan hasil Writing Competition yang diselenggarakan dalam melalui pembelajaran Bahasa Indonesia dan Projek Co-Curricular. Karya terpilih kemudian dikembangkan bersama guru melalui proses pengembangan ide, penulisan, dan revisi hingga menjadi buku.

Siswa Sampoerna Academy mengikuti aktivitas pembelajaran yang mendorong mereka untuk membaca, berdiskusi, mengeksplorasi ide, dan menuangkan pemahaman dalam karya. Pendekatan ini menjadi bagian dari kebiasaan “Gemar Belajar” dalam 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang diperkuat melalui pembelajaran trilingual, STEAM, dan 5C untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi. (kilasjatim.com/nova) 

Tiga karya yang diluncurkan dalam momentum Literacy Festival 2026 

Primary Level: Minggu yang Menyenangkan karya Alicia Georgia Marcia Oscar, dengan ilustrasi oleh Gwyneth Allison Supiyan dan Frances Eunice B.B.

Secondary Level: Panen Kekuatan Rahasia karya Aireen Angelie Effendy, dengan ilustrasi oleh Cherish Annabelle Utomo dan Sumiko Nicoline Pricendra.

Secondary Level: Di antara Ombak & Bisikan karya Annabel Gladys Tjipto, dengan ilustrasi oleh Eugene Poh, Miranda, dan Jennifer.

Bagi siswa, pengalaman ini tidak hanya menghasilkan karya yang dapat dibagikan kepada orang lain, tetapi juga melatih mereka untuk mengembangkan ide, menerima masukan, dan menyempurnakan tulisan sambil tetap mempertahankan karakter dan suara mereka.

Baca Juga :  Karya Desain Arsitektur Faldo Andreo Kantongi 10 Penghargaan Dari 6 Negara

Proses tersebut turut membangun rasa percaya diri serta menunjukkan bahwa ide yang mereka miliki dapat berkembang menjadi karya yang nyata. Melalui proses tersebut, siswa belajar bahwa literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca. Mereka belajar memahami apa yang dibaca, berdiskusi, melihat perspektif yang berbeda, serta mengolah pemahaman tersebut menjadi tulisan dan karya kreatif.

Komitmen menumbuhkan budaya literasi ini tidak berhenti di dalam kelas. Sampoerna Academy Grand Pakuwon Surabaya berkolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya melalui penyerahan buku karya siswa ke Perpustakaan Umum Surabaya dan Taman Baca Masyarakat (TBM) Surabaya. Langkah ini diambil untuk memperluas akses bacaan anak sekaligus mendukung penguatan ekosistem literasi masyarakat di Surabaya.

Dra. Novelija, S.H., Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya mengatakan, budaya literasi membutuhkan ekosistem, dimana sekolah dan perpustakaan memiliki peran yang saling melengkapi. Sekolah membangun proses belajar yang terstruktur, sementara perpustakaan menyediakan akses terhadap sumber belajar sekaligus ruang bagi anak untuk bereksplorasi.

“Karya siswa yang kami terima hari ini bukan sekadar menjadi koleksi, tetapi juga bagian dari ruang belajar yang dapat dibaca dan menginspirasi anak-anak lainnya. Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berkembang, sehingga anak-anak tidak hanya memiliki kebiasaan membaca, tetapi juga mampu memahami, mengeksplorasi, dan berani menghasilkan karya,” ujar Dra. Novelija, S.H.

Hal ini juga menjadi bagian dari upaya Sampoerna Academy untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari proses belajar yang mendorong siswa untuk terus tumbuh dan berkarya.

 “Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kami untuk menumbuhkan kebiasaan belajar yang dapat dibawa siswa dalam perjalanan mereka ke depan. Kami berharap literasi dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, kepercayaan diri, dan keberanian siswa untuk terus mengeksplorasi hal-hal baru, sehingga mereka tumbuh sebagai pembelajar yang aktif dan mampu menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk menciptakan sesuatu yang bermakna,” tutup Palupi. (nov)