Gempa NTT, Untag Siapkan Relaksasi Akademik dan Dukungan Psikologis bagi Mahasiswa

oleh -13 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya memberikan relaksasi akademik bagi 58 mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak langsung gempa bumi.

Rektor Untag Surabaya Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T., mengatakan berdasarkan pendataan kampus terdapat 108 mahasiswa asal NTT, dengan 58 di antaranya terdampak langsung. “Relaksasinya adalah penundaan pembayaran sampai akhir Oktober. Jadi tanpa bayar pun mereka masih bisa melakukan KRS,” terang Harjo.

Selain keringanan administrasi, 36 mahasiswa mendapat fleksibilitas pembelajaran melalui sistem daring. Kampus juga memberikan kelonggaran dalam proses bimbingan tugas akhir bagi mahasiswa yang terdampak.

Sebanyak 14 mahasiswa terdampak saat ini berada di Surabaya dalam kondisi aman. Untuk mahasiswa yang mengalami tekanan akibat kondisi keluarganya di NTT, kampus menyiapkan pendampingan psikologis dan psikososial. “Bagi mereka yang posisinya sudah di Surabaya, sementara keluarganya terdampak, kita akan memberikan pendampingan psikologi psikososial,” tambah Harjo.

Untag Surabaya juga memastikan dua pekan pertama perkuliahan pada awal September berlangsung secara daring. Kebijakan ini memberi kesempatan mahasiswa yang masih berada di NTT untuk memulihkan kondisi dan kembali ke Surabaya. “Kita masih online, sehingga masih ada jeda waktu untuk mereka bisa kembali ke sini, pulih dan kembali ke sini,” katanya.

Dekan Fakultas Psikologi Untag Surabaya Dr. Diah Sofiah, S.Psi., M.Si., Psikolog, menambahkan pihaknya akan mengirim tim relawan yang terdiri dari dosen dan mahasiswa untuk memberikan Psychological First Aid (PFA) kepada masyarakat terdampak. “Kami akan menurunkan tim relawan untuk PFA, Psychological First Aid,” papar Diah.

Tim akan menggunakan pendekatan look, listen, and link, mulai dari mengidentifikasi penyintas yang membutuhkan bantuan, menyediakan ruang untuk bercerita, hingga menghubungkan mereka dengan layanan konseling, intervensi psikologis atau bantuan medis jika diperlukan. “Kalau memang ditemukan ada yang memerlukan bantuan, misalnya intervensi psikologis seperti konseling atau bantuan medis yang lain, tentu kami akan link-kan,” tutup Diah.(tok)

Baca Juga :  Sektor Properti Terancam: 198 Proyek Perumahan Senilai Rp23 Triliun Terganjal Aturan Lahan Sawah Dilindungi