AGAR Optimistis Kinerja Kuartal II 2026 Membaik, Permintaan Rumput Laut Mulai Meningkat

oleh -234 Dilihat

KILASJATIM.COM, Sidoarjo – PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) optimistis kinerja perseroan pada kuartal II/2026 akan membaik dibandingkan kuartal pertama tahun ini seiring meningkatnya permintaan pasar dan berbagai langkah efisiensi yang telah dijalankan perusahaan.

Direktur Utama PT Asia Sejahtera Mina Tbk, Indra Widyadharma, mengakui penjualan pada kuartal I/2026 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurut dia, kondisi tersebut dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global serta gejolak geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan biaya logistik dan distribusi.

“Pada awal kuartal I/2026 memang terjadi penurunan penjualan dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah situasi ekonomi dunia dan gejolak di Timur Tengah yang menyebabkan biaya pengiriman meningkat serta jadwal pelayaran menjadi tidak menentu,” ujar Indra dalam Public Expose 2026, Jumat (26/6/2026).

Meski demikian, Indra menegaskan bahwa permintaan pasar sebenarnya menunjukkan tren peningkatan. Kendala utama yang dihadapi perseroan lebih banyak berasal dari aspek logistik dan perubahan jadwal pengiriman yang memengaruhi realisasi penjualan.

Untuk menjaga kinerja di tengah tantangan tersebut, AGAR menerapkan sejumlah strategi efisiensi. Langkah yang dilakukan antara lain penggunaan kas secara lebih selektif, pengelolaan pinjaman bank secara hati-hati, serta negosiasi dengan pelanggan untuk mempercepat pembayaran.

“Permintaan mulai meningkat dibandingkan kuartal pertama. Karena itu kami optimistis laporan kuartal selanjutnya akan lebih baik dibandingkan kinerja kuartal I/2026,” kata Indra.

Ia menjelaskan, peningkatan permintaan terjadi karena sejumlah industri pengguna rumput laut kembali melakukan pengadaan bahan baku. Sebelumnya, banyak perusahaan menahan pembelian akibat kondisi pasar yang lesu dan memilih mengurangi tingkat persediaan.

Kini, tantangan logistik global justru mendorong pelanggan meningkatkan stok untuk menjaga keberlangsungan operasional pabrik mereka.

Baca Juga :  Tarif Listrik Januari 2026 Tetap, Berikut Rincian Harganya

Di sisi hilirisasi, AGAR terus memperkuat peran anak usahanya, PT Giwang Citra Laut (GCL), yang bergerak di bidang pengolahan rumput laut. Saat ini perusahaan memproduksi tepung karagenan semi-refined dan berupaya mengoptimalkan kapasitas produksi guna memenuhi permintaan pasar ekspor.

Menurut Indra, produk karagenan yang dihasilkan perseroan telah diterima di berbagai negara seperti Inggris, Spanyol, dan China.

“Kami sudah memiliki pelanggan yang kontinyu di Inggris, Spanyol, dan China. Artinya kualitas produk kami sudah memenuhi standar internasional, termasuk standar food grade yang diterima pasar Eropa maupun China,” ujarnya.

Tidak hanya menjual tepung karagenan, AGAR juga tengah mengembangkan sejumlah produk turunan bernilai tambah tinggi. Produk yang saat ini dalam tahap pengembangan meliputi jelly, permen berbasis rumput laut, dodol rumput laut, hingga bahan baku makanan hewan peliharaan (pet food).

Indra menilai produk-produk hilirisasi tersebut berpotensi memberikan margin yang lebih baik dibandingkan penjualan karagenan dalam bentuk bahan baku.

“Anak usaha kami memegang peran strategis untuk menciptakan nilai tambah. Kami tidak ingin hanya menjual tepung karagenan, tetapi juga menghasilkan produk turunan yang memberikan margin lebih baik,” katanya.

Perseroan menargetkan sejumlah produk hilirisasi tersebut dapat mulai diluncurkan pada kuartal IV/2026 setelah menyelesaikan proses formulasi dan perizinan.

Selain fokus pada hilirisasi, AGAR juga melakukan diversifikasi sumber pasokan bahan baku melalui pengembangan budidaya rumput laut di Afrika Timur. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mitigasi risiko apabila terjadi gangguan produksi akibat cuaca ekstrem atau gagal panen di Indonesia.

“Kami sedang merintis budidaya rumput laut di Afrika Timur dan harapannya dalam satu hingga dua bulan ke depan sudah bisa melakukan ekspor perdana,” ujar Indra.

Baca Juga :  BPS: Produksi Beras 2025 Naik 13,29 Persen Jadi 34,69 Juta Ton

Program tersebut telah berjalan sejak tahun lalu melalui kerja sama dengan koperasi masyarakat pesisir setempat. Dalam kerja sama tersebut, perseroan berperan sebagai pembeli (off-taker) sekaligus memberikan pendampingan terkait teknik budidaya rumput laut.

Menurut Indra, pengembangan budidaya di Afrika Timur menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku di tengah berbagai tantangan produksi domestik, termasuk tingginya biaya transportasi antarpulau dan keterbatasan sumber daya manusia di sejumlah sentra budidaya rumput laut.

“Kalau suatu saat terjadi cuaca ekstrem atau produksi dalam negeri menurun, kami tetap memiliki alternatif sumber bahan baku. Ini bagian dari strategi keberlanjutan usaha kami,” tuturnya. (Den)