Harga Cabai hingga Daging Dipantau, Bapanas Jaga Stok Jatim

oleh -423 Dilihat
oleh
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto (kanan) bersama Satuan Tugas Sapu Bersih (Satgas Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan Provinsi Jawa Timur turun langsung meninjau harga pangan . (Foto: dok Bapanas)

KILASJATIM.COM, Surabaya – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan harga dan mutu pangan di Jawa Timur tetap aman dan terkendali menjelang Ramadhan hingga Idul Fitri 2026. Langkah ini dilakukan untuk menjaga pasokan serta keterjangkauan harga bagi masyarakat selama periode konsumsi tinggi.

Pengawasan diperkuat melalui Satuan Tugas Sapu Bersih (Satgas Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan Jawa Timur yang turun langsung ke pasar-pasar.

Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, mengatakan Satgas Saber berfokus pada pengendalian harga sekaligus pengawasan mutu pangan menjelang hari besar keagamaan.

Langkah tersebut, menurut Andriko, bertujuan memastikan masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang tanpa dibebani lonjakan harga bahan pangan pokok.

Hasil pemantauan sementara menunjukkan kondisi harga relatif terkendali. Sejumlah komoditas memang mengalami kenaikan, namun masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) dan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Pengendalian harga pangan ini, lanjut Andriko, merupakan arahan langsung Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Pemerintah menegaskan tidak ada toleransi terhadap harga pangan pokok yang melampaui batas yang ditetapkan.

Saat meninjau Pasar Pucang Anom, Surabaya, Kamis (5/2), Andriko menyebut masih ditemukan beberapa komoditas yang harganya melewati HET dan HAP. Temuan tersebut akan ditelusuri hingga ke tingkat distributor.

“Kalau ada yang di atas HET dan HAP, kami telusuri ke rantai distribusinya,” ujarnya dalam keterangannya yang dikutip, Jumat (6/2/2026).

Untuk mencegah lonjakan harga, pemerintah juga memperketat pengaturan margin di setiap mata rantai distribusi. Tujuannya agar pedagang eceran tetap memperoleh keuntungan wajar tanpa membebani konsumen.

Menurut Andriko, kenaikan harga di tingkat pengecer kerap dipicu oleh naiknya harga dari distributor. Karena itu, pengawasan difokuskan tidak hanya di pasar, tetapi juga pada jalur distribusi.

Baca Juga :  Tingkatkan Keamanan Sekolah, Pemkot Mojokerto Pasang 563 CCTV  

Terkait komoditas cabai, Bapanas mengakui distribusi antarwilayah masih menjadi tantangan utama. Hambatan ini berdampak pada fluktuasi harga di pasaran.

Pemerintah berencana memperkuat jaringan distribusi dari daerah surplus ke daerah defisit guna menstabilkan harga cabai.

Sementara itu, harga Minyakita ditegaskan tetap mengacu pada harga eceran Rp15.700 per liter. Bapanas bersama Perum Bulog akan menambah titik distribusi sekaligus menelusuri penyebab fluktuasi harga di tingkat pengecer.

Adapun kenaikan harga daging sapi dipicu keterbatasan pasokan sapi hidup dari hulu. Meski begitu, harga daging sapi di pasaran masih tercatat di bawah HAP.

“Harganya masih di bawah Rp130 ribu per kilogram. Ada kenaikan, tapi belum melewati HAP. Yang penting jangan sampai tembus batas,” kata Andriko. (cit)