KILASJATIM. COM, Surabaya – Tiga perempuan pelaku usaha yang sukses.rmembangun bisnis berbagi tips di acara Womenpreneur Talkshow bertajuk Women Empowering Women (WOW), yang mempertemukan pelaku usaha, akademisi, dan mahasiswa dalam rangkaian Seminar Nasional Forum Manajemen Indonesia (FMI) Jawa Timur XVIII 2026 di Hotel Platinum Tunjungan, Surabaya, Selasa (20/10/2026).
Acara yang digagas Forum Manajemen Indonesia (FMI) Koordinator Wilayah Jawa Timur bersama BMN Institute, WOW menjadi ruang berbagi pengalaman bagi perempuan pengusaha untuk mengembangkan bisnis sekaligus memperluas jejaring.
Tiga perempuan praktisi dari bidang usaha , aria Sumargo, Owner GBT Laras Imbang; Alfawzia Nurrahmi, Founder Pruf Ritz Communications Hub; dan drg. Cintantya Intan, Dental Director Gladwill Aesthetic Dental. Sesi dipandu Raras Kirana Wandira, Ph.D., dosen manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.
Para pembicara berbagi pengalaman membangun bisnis, mulai dari kepemimpinan hingga tantangan usaha di tengah perubahan ekosistem digital.
Rizki Priyoko, S.H., M.PSDM., Chief of BMN Activities Series selaku penyelenggara acara mengatakan, WOW dirancang agar peserta belajar langsung dari pelaku usaha.
“Kami ingin perempuan pelaku usaha punya ruang untuk saling belajar dan saling menguatkan. Para pembicara WOW adalah pemimpin bisnis yang sudah menjalani prosesnya, sehingga pengalaman mereka bisa menjadi inspirasi nyata bagi peserta,” ujar Rizki Priyoko.
Ketiga pembicara yang hadir membawa perspektif berbeda tentang kepemimpinan, pengembangan usaha, dan tantangan membangun bisnis di tengah perubahan ekosistem digital.
Sebagiamana disampaikan Maria Sumargo, bahwa konsistensi, fokus, dan komitmen merupakan fondasi penting untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan bisnis.
“Perempuan maupun laki-laki memiliki kesempatan yang sama untuk membangun usaha karena sebagian besar kemampuan bisnis dapat dipelajari dan dikembangkan melalui pengalaman. Kunci sukses bisnis itu fokus, konsisten, dan komitmen. Masalah pasti datang, tetapi yang menentukan adalah seberapa jauh kita mampu menghadapinya tanpa mudah menyerah,” ujarnya.
Pengalamannya menjadi juri dalam National Business Competition 2026 juga membuka perspektif baru bagi Maria. Ia mengapresiasi ide-ide peserta yang dinilai berani, kreatif, dan di luar perkiraan, termasuk gagasan pengembangan operasional hingga ekspansi usaha ke pasar internasional.
“Ide yang tampak tidak biasa tetap layak dipertimbangkan selama disertai perencanaan dan perhitungan bisnis yang matang. Pengalaman tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya memberi ruang kepada generasi muda untuk menguji gagasan dan melihat peluang dari sudut pandang berbeda, ” jelasnya.
Sementara itu, drg. Cintantya Intan menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan perempuan. Ia menilai pertemuan antara pelaku bisnis, akademisi, dan mahasiswa memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha.
“Perempuan dapat memanfaatkan kepekaan dalam memahami pasar, pengalaman, dan kemampuan membangun relasi sebagai nilai tambah dalam menjalankan bisnis. “Perempuan perlu memberdayakan dirinya terlebih dahulu sebelum memberdayakan orang lain. Teruslah belajar dan berkarya agar proses tersebut menghasilkan tindakan nyata yang berdampak bagi sesama,” tuturnya.
Sedangkan Alfawzia Nurrahmi menekankan pentingnya pengalaman dan ruang belajar dalam menumbuhkan calon wirausaha serta pemimpin bisnis masa depan.
“Kita tidak pernah tahu dari mana seorang pemimpin bisnis akan muncul. Bisa jadi, mereka terinspirasi dari pembicara, pengalaman mengikuti kompetisi, atau pertemuan dengan teman-teman dari berbagai daerah seperti ini,” katanya.
Menurut Alfawzia, kesempatan mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dalam satu forum berskala nasional menjadi nilai penting bagi pengembangan kewirausahaan. Interaksi tersebut tidak hanya memperluas jaringan, tetapi juga membuka wawasan mengenai ragam ide, pendekatan bisnis, dan peluang kolaborasi. Karena itu, kompetisi dan forum diskusi semacam ini dapat menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan teori di bangku kuliah dengan realitas dunia usaha.
Awarding Ceremony BMN 2026 National Competition yang diikuti sejumlah tim dari berbagai perguruan tinggi dari berbagai daerah di Indonesia. (ist/dok) )
Rangkaian WOW dilanjutkan dengan Awarding Ceremony BMNC 2026 National Competition, yang menjadi bagian dari integrasi kegiatan kompetisi bisnis dengan agenda akademik FMI. Kompetisi tersebut diikuti puluhan tim dari berbagai wilayah Indonesia.
Dalam penyelenggaraan tahun ini, jumlah pendaftar dilaporkan mencapai 85 tim, menunjukkan tingginya minat peserta untuk mengembangkan gagasan bisnis sekaligus menguji kemampuan mereka melalui kompetisi berskala nasional.
Womenpreneur Talkshow menjadi salah satu agenda pembuka Seminar Nasional FMI Jawa Timur XVIII 2026 pada 20-22 Oktober 2026. Seminar ini diselenggarakan oleh Universitas Airlangga dan Universitas Negeri Malang sebagai tuan rumah, dengan rangkaian kegiatan berupa seminar nasional, lokakarya, call for papers, serta program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di kawasan Bromo dan Batu, Malang.
Sekretaris Jenderal FMI, Dr. Tuwanku Aria Auliandri, S.E., M.Sc., dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, menyatakan bahwa forum ini menjadi wadah pertemuan akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha untuk membahas penguatan daya saing Indonesia. Keterlibatan perempuan dalam dunia bisnis, menurutnya, merupakan bagian penting dari upaya tersebut.
“Penguatan daya saing bangsa tidak lepas dari peran pelaku usaha, termasuk perempuan. Melalui rangkaian seminar ini, termasuk WOW, kami ingin menyambungkan dunia akademik dengan praktik bisnis nyata,” pungkasnya. (nov)
