UNAIR dan Bapas Surabaya Latih Mantan Narapidana Jadi Wirausahawan Mandiri

oleh -24175 Dilihat

KILASJATIM.COM, Sidoarjo – Program Studi D3 Manajemen Pemasaran Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) menggandeng Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Surabaya, Porong, Sidoarjo, dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pelatihan kewirausahaan dan pemasaran bagi narapidana serta mantan narapidana. Kegiatan yang berlangsung di Griya Abhipraya Surabaya, Porong, Sidoarjo, pada 15–22 Oktober 2025 ini menjadi wujud nyata sinergi antara dunia akademik dan lembaga pemasyarakatan dalam membantu reintegrasi sosial dan ekonomi kelompok rentan.

Melalui serangkaian penyuluhan dan pelatihan berbasis praktik, para peserta dibekali keterampilan kerja, pengetahuan kewirausahaan, serta strategi pemasaran agar mampu mandiri secara ekonomi setelah bebas. Program ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 1 tentang penghapusan kemiskinan dan poin 8 tentang pekerjaan layak serta pertumbuhan ekonomi.

Menurut dosen pengampu D3 Manajemen Pemasaran UNAIR, Damar Kristanto, keberhasilan integrasi sosial dan ekonomi bagi mantan narapidana menjadi kunci menekan angka residivisme. “Hal ini tidak mungkin tercapai tanpa dukungan konkret, terutama melalui pendidikan dan pelatihan keterampilan produktif,” ujarnya.

Selama ini, keterbatasan akses terhadap pelatihan selama masa hukuman membuat banyak mantan narapidana tidak memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Melalui kegiatan ini, UNAIR dan Bapas berupaya membuka jalan bagi mereka untuk menciptakan peluang usaha sendiri dan membangun kemandirian ekonomi.

Program pelatihan disusun dalam beberapa tahapan, mulai dari penyuluhan kesadaran berwirausaha, pelatihan keterampilan dasar usaha, perancangan produk dan desain, hingga strategi pemasaran digital. Peserta juga belajar menggunakan Business Model Canvas, menyusun rencana bisnis sederhana, mengelola modal, serta melakukan pencatatan keuangan dasar.

Memasuki era digital, pelatihan juga menekankan pentingnya pemasaran daring menggunakan platform seperti WhatsApp Business, Instagram, dan Facebook. Para peserta diperkenalkan dengan teknik fotografi produk dan pembuatan caption promosi. “Banyak usaha kecil gagal bukan karena produknya buruk, tapi karena tidak tahu cara menjualnya. Dengan pelatihan digital marketing, kami ingin membantu peserta memanfaatkan teknologi sebagai peluang,” ujar Edwin Fiatiano, salah satu instruktur kegiatan.

Baca Juga :  Sebagian Wilayah Jawa Timur, Termasuk Surabaya, Diprediksi Hujan Ringan Sepanjang Hari Ini

Antusiasme peserta cukup tinggi. Dari sekitar 40 peserta, tercatat peningkatan pemahaman signifikan berdasarkan hasil pre-test dan post-test. Pada sesi “Pentingnya Berwirausaha”, skor rata-rata peserta naik dari 60 menjadi 86. Sementara pada sesi “Perencanaan Produk dan Branding Produk”, nilai meningkat dari 40 menjadi 70.

Sinergi antara dosen-dosen Fakultas Vokasi UNAIR dan narasumber dari Bapas menciptakan suasana pelatihan yang interaktif. Para peserta merasa dihargai dan termotivasi untuk bangkit. Banyak di antaranya mulai merancang usaha kecil setelah mengikuti kegiatan.

Untuk menjaga keberlanjutan program, tim UNAIR bersama Bapas membentuk grup komunikasi daring sebagai wadah berbagi informasi, pemantauan perkembangan usaha, dan pemberian motivasi. Selain itu, direncanakan program lanjutan berupa inkubasi usaha berbasis komunitas bagi peserta yang mulai menjalankan bisnis. Ke depan, UNAIR juga berencana memperluas kerja sama dengan Lapas, Dinas Sosial, dan LSM untuk memperkuat pemberdayaan mantan narapidana.

Perwakilan Bapas Surabaya, Yoyon, berharap kegiatan serupa terus berlanjut. “Kami ingin melihat para peserta benar-benar mandiri, membuka usaha sendiri, dan menjadi contoh bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua,” ujarnya.

Melalui pendekatan partisipatif dan berorientasi pada kebutuhan peserta, program ini tidak hanya meningkatkan keterampilan kerja, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri dan pola pikir positif. Sinergi antara pendidikan tinggi, lembaga pemasyarakatan, dan masyarakat diharapkan menjadi model penguatan ekonomi inklusif di berbagai daerah.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa perubahan sosial dapat dimulai dari langkah kecil—memberi kesempatan kedua bagi mereka yang ingin bangkit dan berkontribusi bagi masyarakat. (ara)

No More Posts Available.

No more pages to load.