KILASJATIM.COM, Surabaya — Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FT-EIC) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menegaskan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui program Rumah Pengabdian 2. Berkolaborasi dengan BEM FT-EIC ITS, program ini menyasar Kampung Hidroponik Surabaya yang terletak di RW 12, Kelurahan Medokan Ayu, Kota Surabaya.
Ketua Pelaksana Rumah Pengabdian 2, Nayara Aldevida, menjelaskan bahwa program ini berfokus pada implementasi sistem hidroponik NFT otonom yang didukung oleh energi surya hibrida dan pemantauan pintar.
“Di sini kita mengimplementasikan sistem hidroponik NFT otonom dengan monitoring energi berbasis PLTS hybrid dan IoT di Medokan Ayu Surabaya. Total daya PV-nya sendiri 550 WP untuk satu lempengan, dikali dua maka total ada 1.100 WP. Terkait tagihan listrik, aman dan sangat hemat karena bersumber langsung dari konversi energi matahari secara alami,” ungkap Nayara.
Setelah sukses pada tahun sebelumnya dengan memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 550 Watt-peak (WP) yang terbatas untuk memompa air hidroponik, kini para mahasiswa mendongkrak kapasitas energinya dua kali lipat menjadi 1.100 WP.
Peningkatan daya ini memungkinkan para petani hidroponik untuk memanfaatkan energi listrik mandiri tidak hanya bagi pompa air, tetapi juga untuk kulkas dan berbagai kebutuhan penunjang lainnya.
Selain pasokan listrik yang lebih memadai, para petani juga dimanjakan dengan teknologi pemantau nutrisi berbasis Internet of Things (IoT). Wakil Ketua Pelaksana Rumah Pengabdian 2, Riyannizaar Dwi Amarullah, memaparkan bahwa inovasi ini dihadirkan untuk mempermudah pemantauan kualitas air harian tanpa harus dilakukan secara manual.
“Kenapa harus ada IoT? Tujuannya untuk mempermudah ibu-ibu atau siapapun di kampung hidroponik ini dalam memantau pH dan nutrisi air secara real-time. Jadi, ibu-ibu tidak perlu repot mengecek air secara manual setiap pagi dan sore karena data langsung tampil di layar box IoT,” jelas Riyannizaar.
Kehadiran inovasi mahasiswa ITS ini disambut penuh rasa syukur oleh warga setempat. Sekretaris Kampung Hidroponik Surabaya, Tianawati, mengungkapkan bahwa bantuan tahun ini memberikan dampak yang jauh lebih besar dalam meringankan beban operasional warga, terutama mengingat usia para pengelola yang sudah tidak lagi muda.
Melalui sinergi antara dunia akademisi dan masyarakat ini, program Rumah Pengabdian 2 diharapkan mampu mendongkrak produktivitas urban farming di Kota Surabaya secara berkelanjutan, sekaligus menginspirasi pemanfaatan energi terbarukan dan teknologi tepat guna.
“Alhamdulillah sangat meringankan beban listrik PLN kita untuk kebutuhan mesin hidroponik. Tahun lalu dayanya masih kurang untuk kulkas dan sanyo, tetapi sekarang alhamdulillah dapat tambahan daya serta pengukur TDS otomatis, jadi kita tidak usah capek-capek mengecek manual lagi karena faktor usia,” tutur Tianawati dengan senyum sumringah. (nov)
