Seni Rupa Makin Dekat dengan Industri dan Pasar

oleh -148 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Seni rupa kini tidak lagi bergerak hanya di antara seniman dan galeri. Perkembangannya semakin dekat dengan industri dan pasar, sekaligus membuka ruang kolaborasi antara seniman, institusi pendidikan, komunitas, kolektor, media, hingga publik.

Guru Besar Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya, Prof. Dr. Drs. Djuli Djatiprambudi, M.Sn., mengatakan perubahan tersebut membuat ekosistem seni rupa semakin terbuka, inklusif, dan kompleks. “Seni rupa hari ini telah bergerak semakin dekat dengan dunia industri dan pasar. Seni semakin menjadi ruang pertemuan berbagai kepentingan dan pengetahuan,” terang Djuli dalam diskusi publik menyambut ArtSubs 2026 di Auditorium Jurusan Seni Rupa FBS Unesa, Senin (14/9/2026).

Menurut Djuli, perkembangan tersebut juga membuat batas antara nilai ekonomi dan nilai simbolik karya seni semakin cair. Karya tidak hanya memiliki nilai estetis dan simbolis, tetapi dalam konteks tertentu juga memiliki nilai ekonomi, bahkan dipandang sebagai bentuk investasi.

Ia menilai kondisi setiap daerah ikut membentuk karakter ekosistem seni. Perbedaan sosial, ekonomi, budaya, infrastruktur, dan komunitas membuat perkembangan seni rupa di setiap wilayah memiliki respons dan karakter yang berbeda. “Seni dikonstruksikan melalui proses yang semakin inklusif dan kolaboratif. Seniman, kolektor, galeri, institusi, komunitas, dan publik memiliki kepentingan yang berbeda, tetapi semuanya dapat bertemu dalam sebuah ekosistem yang saling membutuhkan,” kata Djuli.

Sementara itu, kurator ArtSubs 2026, Nirwan Dewanto, menilai pameran seni rupa kini tidak sekadar menjadi ruang memajang karya, tetapi juga menjadi ruang pertemuan seniman dan publik. Ia mencontohkan ArtSubs 2024 yang mampu menarik sekitar 35.000 pengunjung. “Angka ini menunjukkan bahwa seni rupa sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari kehidupan publik, bukan hanya menjadi konsumsi kalangan tertentu,” ujar Nirwan.

Baca Juga :  Kejagung Geledah Sejumlah Lokasi Kasus Dugaan Korupsi Pajak 2016–2020, DJP Buka Suara

Menurut Nirwan, tantangan pameran seni bukan lagi sekadar mempertanyakan apakah sebuah pameran merupakan tontonan, tetapi bagaimana tontonan tersebut dibangun dan pengalaman seperti apa yang diberikan kepada masyarakat.

Sementara itu, kurator sekaligus dosen ISI Surakarta, Hendra Himawan, menekankan pentingnya peran kurator sebagai penghubung antara gagasan seniman dan publik. Kurator, menurutnya, tidak hanya memilih dan menata karya, tetapi juga membantu masyarakat memahami kompleksitas gagasan di balik karya.

Hendra juga menyoroti persoalan keberlanjutan kehidupan seniman. Pertanyaan “Apakah seniman bisa merawat dirinya sendiri?” menurutnya penting karena banyak pekerja seni masih menghadapi kerentanan ekonomi. “Seniman tidak cukup hanya memikirkan keberlangsungan dirinya sendiri, tetapi juga perlu memiliki kesadaran untuk merawat seniman lainnya,” kata Hendra.

Diskusi tersebut menjadi bagian dari rangkaian menyambut ArtSubs 2026 yang akan berlangsung di Balai Pemuda Surabaya pada 19 September hingga 8 November 2026. Pameran yang menggabungkan konsep biennale dan art fair itu melibatkan 113 seniman, termasuk tujuh karya kolaborasi, dengan tema Border, Threshold, dan Beyond.(tok)