KILASAJTIM.COM, Surabaya – Lintasan KM Virgo Transport 8 sebelum hilang kontak dan terbalik di Laut Jawa menjadi sorotan. Pakar Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dhimas Widhi Handani menilai pergerakan kapal sempat berubah dari jalur yang seharusnya menuju Banjarmasin.
Analisis awal itu didasarkan pada pantauan Automatic Identification System of ITS (AISITS). Sinyal terakhir KM Virgo Transport 8 terdeteksi pada Minggu (13/9/2026) pukul 22.33 WIB.
Saat itu, posisi kapal sekitar 110 nautical miles atau sekitar 177 kilometer dari Pelabuhan Trisakti Banjarmasin (PTB).
Dhimas mengatakan, berdasarkan data lintasan, kapal semestinya bergerak relatif lurus menuju arah timur laut, menuju Banjarmasin. Namun, jejak pergerakannya menunjukkan adanya perubahan arah.
“Harusnya kan lurus saja menuju timur laut ke Banjarmasin, tapi ini agak berbelok,” kata Dhimas dalam keterangannya yang dikutip, Selasa (15/9/2026).
Perubahan arah tersebut belum bisa dipastikan penyebabnya. Dhimas menyebut ada sejumlah kemungkinan, mulai dari pengaruh arus hingga gangguan pada sistem pelacakan kapal.
Ia menjelaskan, kapal yang tidak lagi terdeteksi AISITS bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya kapal keluar dari jangkauan pelaporan. Kemungkinan lain, perangkat AIS berhenti bekerja karena kerusakan teknis atau kapal sudah mengalami kondisi yang menyebabkan perangkat tidak lagi mengirimkan sinyal.
“Belum bisa memastikan kenapa, apakah terbawa arus atau karena faktor lain, atau memang AIS-nya mati,” ujarnya.
Informasi awal yang diterimanya juga menyebut kehilangan kontak terjadi pada jarak sekitar 80 nautical miles. Sementara lokasi kecelakaan diperkirakan sekitar 20 nautical miles dari titik terakhir sinyal kapal.
Penyebab kapal terbalik masih diteliti
Dhimas menegaskan, perubahan lintasan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai penyebab kapal akhirnya miring hingga terbalik.
Menurut dia, kapal yang dinyatakan laik berlayar pada dasarnya telah dirancang untuk menghadapi kondisi gelombang, arus, dan angin di jalur operasinya. Karena itu, diperlukan kombinasi data untuk mengetahui apa yang terjadi sebelum kecelakaan.
Data yang perlu dianalisis antara lain kondisi arus, kecepatan dan arah angin, serta tinggi gelombang ketika kejadian berlangsung.
“Perlu kita kombinasikan dengan data lain, misalnya pola arus, kecepatan dan arah angin, serta tinggi gelombang saat kejadian,” jelas Dhimas.
Dengan demikian, temuan mengenai perubahan lintasan KM Virgo Transport 8 masih sebatas analisis awal. Penyebab pasti kapal terbalik tetap menunggu hasil investigasi resmi, termasuk pemeriksaan dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). (cit)
