KILASJATIM.COM, Bondowoso – Kinerja ekonomi Kabupaten Bondowoso pada triwulan II tahun 2026 menunjukkan hasil menggembirakan. Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 5,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut meningkat dari capaian triwulan I yang berada pada level 5,42 persen.
Pencapaian itu menempatkan Bondowoso di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang tercatat 5,72 persen maupun pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa aktivitas ekonomi di berbagai sektor produktif terus mengalami penguatan.
Sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Memasuki masa panen sejumlah komoditas unggulan, produksi kopi, hortikultura, dan berbagai hasil pertanian lainnya mengalami peningkatan. Situasi tersebut tidak hanya berdampak pada pendapatan petani, tetapi juga menggerakkan rantai ekonomi di sektor lain.
Peningkatan produksi pertanian turut mendorong aktivitas industri pengolahan. Sejumlah pelaku usaha yang bergerak di bidang pengolahan kopi, makanan dan minuman berbasis bahan lokal, hingga industri hasil hutan mendapatkan tambahan pasokan bahan baku yang lebih besar dibandingkan periode sebelumnya.
Di sisi lain, aktivitas perdagangan juga menunjukkan tren positif. Distribusi hasil panen yang semakin masif, meningkatnya kebutuhan masyarakat, serta tingginya mobilitas selama musim liburan memberikan kontribusi terhadap peningkatan transaksi di berbagai pusat ekonomi.
Pertumbuhan tersebut semakin diperkuat oleh meningkatnya investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Berbagai pembangunan sarana produksi, pengembangan fasilitas pengolahan hasil perkebunan, serta modernisasi alat pertanian menjadi faktor yang ikut mendorong pergerakan ekonomi daerah.
Peran pemerintah juga cukup signifikan melalui percepatan realisasi program dan belanja daerah. Penyerapan anggaran yang lebih optimal membantu menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak, terutama pada sektor jasa dan konstruksi.
Meski demikian, konsumsi rumah tangga mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi itu dinilai wajar karena masyarakat telah melewati periode belanja tinggi saat Ramadan dan Idulfitri yang terjadi pada awal tahun.
Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, menilai capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat dan pelaku ekonomi yang terus menjaga produktivitas di tengah berbagai tantangan.
“Pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,83 persen ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Bondowoso semakin kuat. Alhamdulillah, capaian ini berada di atas rata-rata Jawa Timur maupun nasional. Ini menjadi modal penting untuk terus mendorong pembangunan daerah,” ujarnya.
Menurut Bupati, pemerintah daerah tidak ingin hanya mengejar tingginya angka pertumbuhan. Yang lebih utama adalah memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat melalui peningkatan pendapatan, kesempatan kerja, dan berkembangnya usaha lokal.
Karena itu, Pemkab Bondowoso akan terus memperkuat program hilirisasi sektor pertanian dan perkebunan, membuka peluang investasi baru, serta mendorong pengembangan UMKM agar mampu naik kelas dan memiliki daya saing yang lebih baik.
Salah satu fokus pengembangan diarahkan pada komoditas kopi yang selama ini menjadi identitas Bondowoso. Pemerintah ingin mendorong agar nilai ekonomi kopi tidak berhenti pada hasil panen, melainkan berkembang hingga proses pengolahan, pemasaran, dan perluasan akses pasar.
“Kita memiliki potensi besar di sektor kopi, hortikultura, dan berbagai komoditas unggulan lainnya. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan nilai tambah yang lebih besar sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Abdul Hamid.
Selain sektor agroindustri, pengembangan pariwisata juga menjadi bagian penting dalam strategi pertumbuhan ekonomi daerah. Potensi wisata alam, agrowisata, dan kawasan Ijen Geopark dinilai mampu menciptakan efek berganda bagi pelaku UMKM, jasa, hingga sektor perdagangan.
Abdul Hamid menegaskan, menjaga momentum pertumbuhan membutuhkan dukungan semua pihak. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, petani, pelaku UMKM, perbankan, hingga lembaga pendidikan menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi Bondowoso tetap berkelanjutan.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar pertumbuhan yang tinggi, tetapi pertumbuhan yang berkualitas, inklusif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata,” pungkasnya.(wan)
