Erupsi Anak Krakatau Ancam Keuangan Maskapai, Kerugian Bisa Capai Rp130 Miliar

oleh -283 Dilihat

KILASJATIM.COM – Erupsi Gunung Anak Krakatau mulai memberikan tekanan terhadap industri penerbangan nasional. Sebaran abu vulkanik yang melintasi ruang udara Flight Information Region (FIR) Jakarta berpotensi menggerus pendapatan maskapai hingga Rp19 miliar per hari akibat pembatalan penerbangan, pengalihan rute, tambahan konsumsi bahan bakar, hingga biaya penanganan penumpang.

Indonesia National Air Carrier Association (INACA) memperkirakan, apabila gangguan berlangsung selama sepekan, potensi kerugian industri penerbangan dapat mencapai Rp70 miliar hingga Rp130 miliar.

Estimasi tersebut berasal dari sekitar 30-50 penerbangan yang berpotensi mengalami pembatalan setiap hari. Selain kehilangan pendapatan tiket, maskapai juga menghadapi peningkatan biaya operasional akibat pengalihan rute, tambahan avtur, parkir pesawat, serta kompensasi bagi penumpang terdampak.

“Dampak bisnis ke maskapai bersifat ganda, yakni kehilangan pendapatan sekaligus menanggung lonjakan biaya operasional. Simulasi harian gangguan di CGK dan TKG menunjukkan potensi kerugian Rp10 miliar hingga Rp19 miliar per hari dari 30-50 penerbangan yang batal, ekstra avtur, parkir pesawat, serta kompensasi penumpang,” ujar Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto, dikutip Selasa (8/9/2026).

Menurut Bayu, sebaran abu vulkanik ke arah timur laut mulai menekan operasional di dua simpul penerbangan, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara Radin Inten II Lampung (TKG).

Gangguan tersebut menimbulkan tekanan ganda bagi maskapai. Di satu sisi, perusahaan kehilangan potensi pendapatan dari tiket akibat pembatalan dan pengembalian dana atau refund. Di sisi lain, berbagai biaya tetap tetap harus dibayarkan, termasuk leasing pesawat, gaji awak, serta biaya parkir dan operasional armada.

Tekanan terbesar diperkirakan terjadi di Bandara Radin Inten II Lampung. Lokasinya yang relatif dekat dengan sumber erupsi membuat bandara tersebut menjadi salah satu titik yang rentan terhadap dampak abu vulkanik.

Sejumlah rute penerbangan juga berpotensi terdampak, termasuk penerbangan menuju Batam dan Pontianak serta sejumlah rute dari Jakarta menuju wilayah selatan dan barat Indonesia.

Baca Juga :  KPK Tahan Mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2023–2024

Berdasarkan peringatan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin dan Notice to Airmen (NOTAM), penerbangan dapat dibatalkan apabila konsentrasi abu vulkanik di jalur lepas landas maupun pendaratan telah melampaui ambang batas keselamatan yang ditetapkan.

Namun, gangguan penerbangan tidak selalu berujung pada pembatalan. Di Bandara Soekarno-Hatta, penundaan dan holding selama 60-120 menit menjadi salah satu dampak yang paling dominan.

Sementara itu, sejumlah penerbangan domestik menuju Sumatera bagian selatan dan rute internasional menuju Australia harus mengambil jalur alternatif melalui utara Jawa.

“Penundaan dan holding selama 60 hingga 120 menit menjadi dampak paling dominan di CGK, sementara rute domestik ke Sumatera bagian selatan serta rute internasional ke Australia terpaksa dialihkan memutar lewat utara Jawa dengan tambahan waktu terbang 20-40 menit,” kata Bayu.

Pengalihan rute tersebut membuat waktu penerbangan bertambah. Kondisi ini secara langsung berdampak terhadap konsumsi avtur.

Artinya, meski pesawat tetap dapat beroperasi, margin maskapai tetap tertekan karena biaya bahan bakar meningkat. Pada saat yang sama, kapasitas dan produktivitas armada ikut menurun akibat perubahan jadwal dan rute penerbangan.

Pendapatan Tiket Tergerus, Biaya Tetap Berjalan

INACA memperkirakan apabila status Siaga dan kode Oranye berlangsung, sekitar 15%-25% penerbangan dari CGK dan 40%-60% penerbangan dari TKG berpotensi mengalami gangguan.

Persoalannya, penurunan pendapatan tidak otomatis diikuti penurunan biaya. Maskapai tetap harus membayar leasing pesawat, gaji awak, serta berbagai biaya operasional lainnya meskipun sebagian armada tidak dapat terbang sesuai jadwal.

Bayu menyebut sekitar 50%-60% potensi pendapatan dapat hilang akibat pembatalan dan pengembalian dana tiket. Pada saat bersamaan, maskapai harus mengalokasikan biaya tambahan untuk menangani penumpang yang terdampak.

Untuk keterlambatan lebih dari empat jam, misalnya, maskapai dapat menghadapi tambahan biaya berupa penyediaan makanan hingga akomodasi hotel bagi penumpang.

Baca Juga :  Polri dan Bea Cukai Soetta Bongkar Penyelundupan Sabu Modus Swallow oleh Dua WN Pakistan

Beban operasional juga dapat muncul setelah penerbangan kembali normal. Pesawat yang melintasi area dengan paparan abu vulkanik perlu menjalani pemeriksaan mesin untuk memastikan tidak terjadi kerusakan akibat partikel abu yang bersifat abrasif.

“Pesawat yang melintasi area abu wajib menjalani borescope check dengan biaya US$20 ribu hingga US$50 ribu per mesin,” ujar Bayu.

Dengan asumsi kurs sekitar Rp16.000 per dolar AS, biaya pemeriksaan tersebut setara sekitar Rp320 juta hingga Rp800 juta per mesin.

Besarnya biaya tersebut berpotensi menjadi beban tambahan bagi maskapai, terutama perusahaan dengan jumlah armada dan frekuensi penerbangan yang tinggi.

Lima Hari Jadi Titik Kritis

INACA menilai durasi gangguan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan besarnya dampak ekonomi terhadap industri penerbangan.

Saat ini, kondisi operasional berada pada level Irregular Operations (IROP) atau operasional tidak normal. Namun, apabila sebaran abu vulkanik terus mengganggu penerbangan selama lebih dari lima hari, tekanan terhadap maskapai diperkirakan meningkat signifikan.

“Jika gangguan abu berlangsung lebih dari lima hari, kerugian ekonomi akan melampaui Rp100 miliar dan menggerus target kuartal III dan IV,” kata Bayu.

Karena itu, kecepatan penyampaian informasi mengenai pergerakan abu vulkanik dari VAAC serta fleksibilitas pengaturan lalu lintas udara oleh AirNav Indonesia menjadi faktor penting.

Semakin cepat maskapai memperoleh kepastian mengenai kondisi ruang udara, semakin besar peluang perusahaan melakukan penyesuaian jadwal, armada, awak, dan rute untuk menekan potensi kerugian.

Bagi industri penerbangan, dampak erupsi Anak Krakatau kini bukan sekadar persoalan apakah pesawat dapat terbang atau tidak. Setiap jam penundaan, penerbangan yang dialihkan, tambahan konsumsi avtur, hingga tiket yang direfund berpotensi menambah tekanan terhadap kinerja keuangan maskapai pada paruh kedua 2026. (YRE)