KILASJATIM.COM, Jakarta – Sebanyak 263 ribu penumpang dan 2.300 penerbangan terdampak penutupan sementara delapan bandara akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan data tersebut tercatat hingga pukul 09.00 WIB, Senin (7/9/2026).
“Per pagi ini pukul 09.00 WIB, 263.000 penumpang terdampak, flight yang terdampak 2.300,” ujar Dudy kepada awak media di Posko Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Dudy mengatakan delapan bandara yang sebelumnya ditutup sementara masih belum dapat kembali beroperasi. Penutupan diperpanjang hingga pukul 18.00 WIB berdasarkan pemantauan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Berdasarkan data yang kami peroleh dari BMKG, kami memutuskan bahwa delapan bandara yang kemarin ditutup operasional sementara masih tetap kami tutup hingga pukul 18.00 sore nanti,” katanya.
Salah satu pertimbangannya adalah hasil pengujian paper test yang dilakukan secara berkala di area bandara terdampak. Hasil pengujian masih menunjukkan adanya paparan debu vulkanik.
Selain itu, arah angin yang berbeda pada sejumlah lapisan udara membuat abu vulkanik masih bertahan di sekitar wilayah bandara.
“Pada beberapa layer terjadi perbedaan arah angin, sehingga posisi angin itu membuat debu masih bertahan di sekitar lokasi bandara,” jelas Dudy.
Lima bandara alternatif disiapkan
Untuk mengurangi penumpukan penumpang, Kementerian Perhubungan mendorong maskapai mengalihkan penerbangan ke sejumlah bandara alternatif.
Lima bandara yang disiapkan yakni Bandara Kertajati di Majalengka, Ahmad Yani Semarang, Juanda Surabaya, Yogyakarta International Airport (YIA), dan Adi Soemarmo Solo.
“Kami mendorong agar para maskapai dapat menggunakan bandara alternatif tersebut untuk menghindari penumpukan penumpang, baik yang akan datang maupun juga yang akan terbang,” kata Dudy.
Penumpang yang penerbangannya dialihkan juga mendapat dukungan transportasi darat menuju bandara alternatif. Bus dan kereta api disiapkan secara gratis, dengan biaya ditanggung pengelola bandara.
Di sisi lain, pengelola bandara menyiapkan proses pembersihan area sisi udara jika kondisi memungkinkan untuk kembali beroperasi.
Pembersihan runway, taxiway, dan apron diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua jam setiap kali kondisi ruang udara dinyatakan aman.
“Apabila kondisinya memungkinkan, kami melakukan upaya-upaya seperti pembersihan runway, taxiway maupun apron agar pada waktunya nanti, ketika situasinya sudah memungkinkan, bandara siap untuk dioperasikan,” ujar Dudy.
Dudy meminta calon penumpang tidak memaksakan diri datang ke bandara selama operasional penerbangan masih dihentikan.
Calon penumpang diminta memantau informasi terbaru melalui maskapai masing-masing. Proses pembatalan penerbangan maupun pengembalian dana tiket (refund) juga dapat dilakukan secara daring melalui kanal maskapai.
Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan di wilayah terdampak sebaran abu vulkanik juga diminta menggunakan masker.
Sementara itu, operasional penyeberangan kapal dari Pelabuhan Merak masih berjalan normal. Meski demikian, jumlah penumpang tercatat mengalami penurunan akibat kondisi tersebut.
Dengan 263 ribu penumpang dan 2.300 penerbangan terdampak, pemerintah masih memantau perkembangan sebaran abu vulkanik sebelum menentukan pembukaan kembali delapan bandara yang ditutup. (cit)
