KILASJATIM.COM, Bondowoso – Inovasi pengelolaan ternak dari Kabupaten Bondowoso dibawa ke ajang lomba inseminator tingkat II Jawa Timur. Tak hanya menunjukkan keterampilan inseminasi buatan, wakil Bondowoso, Indra Wijaya, juga memperkenalkan inovasi Manajemen Ternak Pedet Dijual Jadi Induk (MAT PECI) di hadapan tim juri.
Penilaian lomba berlangsung di Desa Sumberwringin, Kecamatan Sumberwringin, Jumat (28/8/2026). Indra menjadi wakil Bondowoso setelah meraih nilai tertinggi dalam pemeringkatan inseminator se-Kabupaten Bondowoso.
Dalam kompetisi tingkat provinsi tersebut, Indra bersaing dengan 15 peserta lainnya. Salah satu penilaian dilakukan melalui praktik inseminasi buatan pada sapi betina berusia sekitar dua tahun yang baru mengalami birahi perdana.
“Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Awalnya memang deg-degan karena ini lomba perdana saya. Tapi ketika hari H, saya bisa melalui semua tahapan dengan maksimal,” kata Indra.
Namun, inovasi MAT PECI menjadi salah satu hal yang turut menarik perhatian dalam kegiatan tersebut. Konsep ini mendorong peternak agar hasil penjualan pedet tidak langsung dihabiskan untuk kebutuhan konsumtif.
Melalui pola MAT PECI, pedet yang telah dijual kemudian hasil penjualannya diputar kembali untuk membeli indukan baru. Dengan demikian, hasil usaha peternakan tidak hanya menjadi pendapatan sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi aset sekaligus meningkatkan jumlah ternak.
Dalam simulasi yang dipaparkan Indra, pola pengelolaan konvensional dari satu indukan selama lima tahun diperkirakan menghasilkan sekitar sembilan ekor sapi.
Sementara melalui penerapan MAT PECI, secara teoritis jumlah ternak tersebut dapat berkembang hingga 32 ekor. Nilai aset yang dihasilkan pun diperkirakan mencapai sekitar Rp418 juta, jauh lebih tinggi dibandingkan pola konvensional yang berada di kisaran Rp123 juta.
Menurut Indra, konsep tersebut bukan sekadar perhitungan di atas kertas. Salah satu contoh penerapannya terlihat pada Feri Afandi, warga Desa Sumbergading.
Sebelumnya, Feri hanya mengandalkan penghasilan sebagai buruh tani sekaligus penggaduh sapi. Setelah mengenal pola pengelolaan tersebut pada 2016, ia mulai menjadikan ternak sebagai aset dan memutar hasil penjualan pedet untuk membeli indukan baru.
Kini, Feri telah memiliki 16 ekor sapi. Sebanyak dua ekor dipelihara sendiri, sedangkan 14 ekor lainnya digaduhkan kepada tujuh orang.
Hasil dari usaha tersebut juga telah memberikan dampak terhadap kehidupan ekonominya. Pada 2020, sebagian hasil ternak bahkan digunakan Feri untuk membangun rumah dan membeli sepeda motor.
“Saya hanya mengandalkan hidup dari upah buruh tani. Tapi sapi yang sudah ada, saya jadikan aset dan dana darurat,” ujar Feri.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Bondowoso, Hendri Widotono, menilai MAT PECI memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas. Selain mendorong peningkatan populasi sapi, pola tersebut dinilai dapat membantu meningkatkan perekonomian peternak.
Saat ini, penerapan MAT PECI masih berada di wilayah kerja Puskeswan Pujer yang mencakup Kecamatan Sumberwringin, Sukosari, Tlogosari, Pujer dan wilayah sekitarnya.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso berencana memperluas penerapan konsep tersebut melalui sekolah lapang. Melalui pola itu, pengalaman peternak yang telah berhasil diharapkan dapat ditularkan kepada peternak lainnya.
Hendri mengatakan inovasi tersebut menjadi semakin penting di tengah kondisi populasi sapi Bondowoso yang mengalami penurunan setelah wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).
Populasi sapi yang sebelumnya mencapai sekitar 240 ribu ekor kini berada di kisaran 141 ribu ekor.
“Ini potensi yang terpendam di Bondowoso. Dengan satu replika keberhasilan MAT PECI ini, kita berusaha membangkitkan ekonomi masyarakat, terutama pembudidaya sapi,” kata Hendri.
Menurutnya, keberhasilan Feri menunjukkan bahwa usaha peternakan dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan posisi ekonomi masyarakat.
“Dari penggaduh, akhirnya menggaduhkan. Dari pekerja, sekarang menjadi orang yang mempekerjakan. Nah, ini yang menjadi titik balik,” ujarnya.
Bagi Indra, keikutsertaannya dalam lomba inseminator tingkat II Jawa Timur bukan sekadar menunjukkan kemampuan teknis melakukan inseminasi buatan.
Ia ingin menunjukkan bahwa keberhasilan reproduksi ternak harus diikuti dengan manajemen pengelolaan yang tepat. Pedet yang dihasilkan tidak berhenti sebagai komoditas yang dijual, tetapi dapat diputar kembali menjadi indukan.
Dengan pola tersebut, peternak diharapkan mampu meningkatkan populasi sapi sekaligus membangun aset secara berkelanjutan. Inovasi MAT PECI pun menjadi salah satu upaya untuk menjadikan sektor peternakan tidak hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat Bondowoso.(wan)
