KILASJATIM. COM, Malang – Deretan buku itu menjadi daya tarik bagi pengunjung Taman Slamet. Dari buku memasak, komik, novel, buku anak sampai politik dan sejarah. Juga majalah lama dan baru.
Putri, bocah kecil nampak asik menyimak ayahnya membacakan buku bergambar Frozen. Sesekali ia memuji Elsa yang bis mengubah benda menjadi es cukup dengan menjentikkan tangannya. Begitu pula bajunya yang bagus, berwarna biru dan ia ingin dibelikan bila ulng tahun nanti. Muiz ayahnya, nampak menjelaskan prihal kemampuan Elsa, sambil berjanji akan membelikan baju tersebut.
“Ini sudah kesekian kali kami kemari. Selain jalan-jalan juga untuk membaca buku. Pernah juga meminjamnya, untuk dibaca di rumah,” katanya, disela memilih buku bacaan di area perpustakaan jalanan Sabtu Membaca, di Taman Slamet, Jl.Taman Slamet, Klojen, Sabtu (11/7/2026)
Begitu pula dengan Celtic, bocah kelas 1 SD ini nampak sibuk membolak-balik buku bacaan. Sebab hampir setiap Sabtu ibunya mengajak bermain di taman yang lokasinya menghubungkan Jl. Semeru dan Jl. Kawi.
“Dulu aku suka komik atau cerita bergambar. Hampir semua buku sudah ku baca. Sekarang aku mencari novel petualangan,” katanya. Sambil mencermati setiap buku yang digelar di atas lembar plastik bekas.
Bukan hanya bocah yang merubung lapak buku. Beberapa kakek nampak di sana, sedang asik membaca majalah Tempo, edisi tahun 2000 an. Mereka membaca ulasan tentang Soeharto mantan presiden republik ini. Dari obrolan sesama pengunjung. Terdengar ia memuji Soeharto, dengan membandingkan kondisi perekonomian sekarang yang serba mahal. Sedang pekerjaannya sebagai tukang pijat dengan penghasilan tidak menentu, dinilai cukup berat.
“Jaman dulu cari makan gampang, semua murah. Sekolah juga mudah, asal pintar bisa mengajukan keringanan dan beasiswa. Sekarang, waduh beras mahal. Kuliah mahal ada yang mandiri, hendak melanjutkan kuliah dari mana biaya. Sedang cucu saya ingin lanjut sekolah. Tidak gampang cari uang,” keluhannya pada laki-laki di sampingnya.
Obrolan mereka seputar mantan presiden dan politik berlanjut, sambil membuka lembaran-lembaran majalah yang telah menguning. Namun, tetap dibaca judulnya. Keduanya tampak asik, bertukar cerita soal politik dan harga beras.
Bagian lain sekelompok anak muda sedang berdiskusi soal buku. Seperti siang tadi mereka membaca buku Bunda karya Maxim Gorky. Buku itu dibaca bergantian, seorang membaca yang lain menyimak.
Masing-masingnya membaca per bab. Setelahnya dibahas bersama. Apa isi bacaan tersebut. Jika ada kata-kata sulit, tidak umum akan didiskusikan bersama.
“Ini pertemuan kedua untuk membaca Ibunda. Minggu lalu pembukaan kami membaca bab satu sampai bab lima. Hari ini kita cukupkan sampai bab delapan. Sesuai dengan panjang pendek naskah bukunya” kata Fatiya Azizah peserta close reading Ibunda.
Bagi Fatiya, mengikuti close reading sangat menarik, menambah wawasan dan mendapat teman baru. Sebab komunitas ini sifatnya terbuka untuk umum. Tapi, paling penting manfaat membaca buku bersama, lebih mudah memahami isi buku. Terutama buku terjemahan yang setting cerita asing bagi kita.
Sementara Haryono alias Cak Pendek, nama panggilan pegiat Sabtu Membaca, mengaku kegiatan tersebut sengaja dilakukan untuk berbagi ilmu di akhir pekan. Sekaligus menjadi ruang bertemu bagi pengunjung taman.
“Ini saya lakukan agar semua orang bisa membaca gratis dan bisa ngobrol, diskusi. Dengan begitu semua orang dapat ngobrol dan berbagi ilmu pengetahuan di akhir pekan. Begitu pula dengan close reading sengaja digelar untuk orang-orang yang ingin baca buku, tapi malas baca sendiri an. Akhirnya bukunya tidak terbaca, kalau dibaca bareng-bareng kan senang. Orang jadi penasaran cerita selanjutnya,” ceritanya.
Ya, selain menyediakan buku bacaan yang selalu di update setiap Sabtu, menjaga pembaca tidak bosan. Close reading, adalah salah satu daya tarik bagi penyuka buku yang enggan membaca sendirian. Untuk pemilihan buku dilakukan dengan voting, suara terbanyak mana yang ingin dibaca. Seperti buku Revolusi Subuh, karya Pramoedya Ananta Toer saat menggenang 100 tahun Pram, Finks: Bagaimana CIA Mengelabuhi Para Sastrawan Besar Dunia karya Joel Whitney dan masih banyak lagi.
Bagi yang tidak suka membaca disediakan puzzle, dakon, halma dan kertas gambar plus pensil warna agar bisa menikmati kegiatan bersama di taman.(TQI)
