KILASJATIM. COM, Surabaya – Kinerja ekonomi Jawa Timur pada triwulan kedua masih solid dan terus bertumbuh signifikan didorong konsumsi rumah tangga dan investasi, dengan kontribusi signifikan dari sektor industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan konstruksi. Inflasi di Jawa Timur tetap terkendali dalam rentang sasaran nasional, meskipun ada kenaikan tarif angkutan udara dan fluktuasi harga pangan, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang kuat di triwulan I/2026 tumbuh 5,96% YoY lebih tinggi dari pertumbuhan regional Pulau Jawa yang tumbuh 5,79% (YoY) maupun pertumbuhan nasional di level 5,61% (YoY).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim menyampaikan, realisasi triwulan pertama sebesar 5,96 persen (y-o-y), yang didorong kenaikan konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah.
” Bank Indonesia mencermati situasi eksternal maupun kondisi dalam negeri, meliputi optimisme konsumen, pertumbuhan transaksi kartu, dan ekspor nonmigas, yang mendorong peningkatan kinerja manufaktur industri utama. Ini tecermin dari peningkatan prakiraan Prompt Manufacturing Index (PMI), ” ujar Ibrahim di acara Media Briefing di Surabaya, Senin (22/6/2026).
“Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis dalam dokumen perkembangan makroekonomi regional, Jawa Timur kembali mengukuhkan posisinya sebagai kontributor ekonomi terbesar kedua di Pulau Jawa dengan pangsa 25,16%, serta menyumbang 14,40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Dari sisi permintaan, motor penggerak utama pertumbuhan Jatim berasal dari akselerasi komponen Konsumsi Rumah Tangga yang memiliki share dominan mencapai 61,19% terhadap PDRB. Lonjakan konsumsi ini dipicu oleh momentum perayaan berlapis (festive season) mulai dari Ramadan, Imlek, Nyepi, hingga Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 2026.
Selain itu, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi ikut menyumbang porsi 26,86%, yang disusul oleh konsumsi pemerintah sebesar 3,89% yang terdongkrak lewat realisasi belanja pegawai serta perbaikan belanja barang jasa lewat program makan bergizi gratis (MBG).
Akselerasi ekonomi Jawa Timur utamanya didorong oleh kuatnya permintaan domestik dan investasi infrastruktur, di tengah tertahannya kinerja ekspor luar negeri untuk komoditas utama seperti emas perhiasan, tembaga, kayu, dan produk kimia yang mengalami pelambatan. Indikator lainnya meliputi inflasi Mei 2026 sebesar 0,28 persen secara bulanan dan 3,49 persen secara tahunan atau masih dalam rentang sasaran 2,5 plus minus 1 persen.
“Kami perkirakan kinerja ekonomi Jawa Timur 2026 tetap solid, dan berada di rentang 4,9 hingga 5,7 persen (y-o-y), yang ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi yang kuat, serta terjaganya permintaan eksternal,” papar Ibrahim.
Kepala perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim (kilasjatim.com/nova)
Ibrahim menjelaskan industri pengolahan masih memegang pangsa pasar terbesar di Jatim dengan share yang terhitung mencapai 31,27%, diikuti oleh sektor perdagangan sebesar 18,73%. Namun, lonjakan pertumbuhan tertinggi secara sektoral kali ini dicatatkan oleh lapangan usaha pertanian dan konstruksi.
Sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan yang memegang bauran 10,60% tumbuh positif seiring masuknya periode panen raya padi. Selain itu, peningkatan produksi daging dan telur ayam guna memasok kebutuhan program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG) juga turut menjadi stimulus di sektor ini.
Sementara itu, sektor konstruksi dengan share 8,69% ikut melaju kencang berkat masifnya proyek fisik pemerintah, termasuk program pembangunan sekolah rakyat, revitalisasi fasilitas pendidikan, serta pengerjaan sejumlah infrastruktur jalan regional. Pada sisi perkembangan harga, Ibrahim menyebut laju inflasi gabungan kota/kabupaten di Jawa Timur per Mei 2026 dilaporkan tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional 2,5 +/- 1%.
Jatim tercatat membukukan inflasi bulanan sebesar 0,28% (month-to-month/mtm) atau secara tahunan berada pada level 3,49% YoY. Menurut Ibrahim, secara spasial seluruh wilayah di Jatim mencatatkan inflasi bulanan, di mana Kota Surabaya menjadi daerah dengan tingkat inflasi bulanan tertinggi, sedangkan Kabupaten Sumenep mencatatkan inflasi tahunan tertinggi di Jatim.
“Kenaikan tarif angkutan udara serta fluktuasi harga beberapa komoditas pangan strategis di tengah dinamika harga minyak dunia menjadi pendorong utama pergerakan inflasi,” jelasnya.
Sebaliknya, tekanan inflasi berhasil diredam dengan penurunan harga atau deflasi pada komoditas bawang putih, kelapa, pisang, telur ayam ras, daging ayam ras, hingga emas perhiasan. Memasuki periode triwulan II/2026, prospek perekonomian Jatim diproyeksikan tetap tumbuh kuat.
Optimisme ini didukung oleh indeks kondisi ekonomi saat ini yang berada pada level positif, perbaikan kinerja prompt manufacturing index (PMI), serta pertumbuhan aktivitas transaksi kartu, dan ekspor nonmigas yang mulai pulih.
“Bank Indonesia memproyeksikan keseluruhan pertumbuhan ekonomi Jatim sepanjang tahun 2026 akan berada solid di kisaran 4,9% hingga 5,7% YoY dengan tingkat inflasi yang tetap terkendali di batas sasaran,” jelasnya.
Industri Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) dan Modal Ventura di Jawa Timur menunjukkan pertumbuhan. Sejumlah indikator dari Bank Indonesia maupun Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan optimisme kondisi perekonomian Jawa Timur tetap solid di tengah tantangan geopolitik dan fluktuasi inflasi.
” Outstanding pinjaman daring tumbuh 19,05 persen yoy per April 2026 dan penyertaan/ pembiayaan Perusahaan Modal Ventura juga tumbuh 4,38 persen yoy per Maret Pembiayaan oleh Perusahaan Pembiayaan sedikit terkontraksi -2,17 persen secara y-o-y, namun masih meningkat secara ytd (1,41 persen),” pungkas Ibrahim. (nov)




