Foto: PSSI
KILASJATIM.COM, Jakarta – Timnas U-17 Indonesia menghadapi tantangan berat pada ajang Piala Asia U-17 2026. Persaingan di Grup B dinilai sudah sangat ketat sejak awal turnamen.
Pengamat sepak bola, Abdul Haris, menilai performa tim Garuda Muda belum menunjukkan kematangan permainan. Ia menyoroti aspek chemistry antar pemain yang dinilai masih belum terbentuk dengan baik.
“Saya melihat tim ini belum terlalu matang, chemistry-nya belum dapat,” ujar Abdul Haris kepada RRI, Senin (4/5/2026). Ia juga membandingkan kondisi tim saat ini dengan era pelatih sebelumnya yang dinilai lebih solid.
Selain itu, Haris menilai hasil di ajang Piala AFF U-17 menjadi catatan penting bagi evaluasi tim. Dalam turnamen yang digelar di Sidoarjo tersebut, Indonesia hanya meraih satu kemenangan dan gagal tampil konsisten di laga lainnya.
“Padahal kita tuan rumah, tapi hasilnya tidak maksimal,” katanya. Ia juga menyoroti strategi bertahan yang diterapkan pelatih Kurniawan Dwi Yulianto pada laga terakhir melawan Vietnam.
“Padahal kita butuh kemenangan. Tapi sayangnya coach Kurniawan menerapkan strategi bertahan,” ujar Haris.
Diketahui, Indonesia tergabung di Grup B bersama tim-tim kuat Asia, yakni Jepang, China, dan Qatar. Ketiga negara tersebut dikenal memiliki tradisi dan kualitas sepak bola yang mumpuni di level usia muda.
Menurut Haris, kunci utama bagi Indonesia adalah mampu bermain disiplin sejak awal laga. “Jangan kebobolan cepat dan bermain pragmatis,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya efektivitas dalam memanfaatkan setiap peluang yang ada.
Meski menghadapi persaingan berat, Haris menilai peluang Indonesia untuk lolos ke fase berikutnya masih terbuka. Ia berharap tambahan pemain diaspora dapat meningkatkan kualitas permainan tim.
Peningkatan performa diharapkan sudah terlihat saat laga perdana melawan China yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (5/5/2026).(ara)



