KILASJATIM. COM, Surabaya – Basket Campus League 2026 Regional Surabaya yang digelar di GOR Basket Universitas Negeri Surabaya (UNESA) tak hanya sekedar kompetisi namjm membuka jalur alternatif menuju kesuksesan karier, bahkan hingga level CEO.
Sebagaimana dikatakan CEO Campus League Ryan Gozali , kompetisi di Regional Surabaya berjalan dengan lancar dengan antusiasme yang besar dari perguruan tinggi dan para student-athlete di Jawa Timur dan sekitarnya. Sejak dimulai Rabu (22/4), sebanyak 16 tim putra dan 8 tim putri dari 17 perguruan tinggi telah ambil bagian.
Ryan mengatakan meski rentang kualitas antar tim peserta di Regional Surabaya cukup beragam, namun hal itu merupakan dinamika yang justru jadi tantangan bersama untuk terus melakukan peningkatan dalam pembinaan dan kompetisi yang lebih baik agar kualitas tim basket kampus di Surabaya semakin merata.
“Justru kita berharap dengan Campus League ini ekosistem olahraga di kampus ini jadi termotivasi. Ada pergerakan-pergerakan baru. Saya mengamati dari tahun 2012 di Jawa
Timur itu secara tradisional ada Ubaya dan Unair yang kuat. Tapi karena ada kekosongan (kompetisi) cukup lama, jadi petanya agak berubah. Maka kemudian kita ingin agar ini menjadi stimulasi baru untuk ekosistem basket, tidak hanya Surabaya, tapi juga seluruh Indonesia,” ujar Ryan
Ryan Gozali, membeberkan fakta yang memantik perhatian. Menurutnya, hanya sebagian kecil atlet kampus yang berakhir sebagai pemain profesional. Tapi justru mayoritas lainnya berpotensi menempati posisi strategis di dunia kerja.
“Data global menunjukkan 30 persen CEO Fortune 500 adalah mantan student athlete, dan 68 persen eksekutif dunia punya latar belakang yang sama. Jadi ini bukan cuma soal jadi atlet, tapi membentuk pemimpin,” jelasnya.
Pernyataan ini menggeser cara pandang terhadap olahraga kampus. Campus League hadir bukan sekadar kompetisi, melainkan ekosistem pembentuk karakter, mulai dari disiplin, kepemimpinan, hingga kemampuan mengelola tekanan.
Apalagi, panggung yang ditawarkan tidak main-main. Juara putra dari kompetisi ini akan mewakili Indonesia di Asian University Basketball League, menghadapi tim dari China, Jepang, Korea, hingga Australia.
Di sisi lain, UNESA sebagai tuan rumah justru melihat momen ini sebagai “kebangkitan” olahraga kampus yang sempat redup.
Wakil Rektor IV UNESA, Prof. Dr. Dwi Cahyo Kartiko, bahkan menyebut atmosfer kompetisi ini menghadirkan kembali semangat yang lama dirindukan.
“Saya sampai merinding melihat sportivitas di lapangan. Ini bukan sekadar pertandingan, tapi pendidikan karakter yang nyata,” katanya.
Menariknya, ekosistem yang dibangun tak melulu soal pemain. UNESA bahkan mempercayakan timnya kepada pelatih berusia 21 tahun yang masih berstatus mahasiswa aktif, sebuah bukti bahwa dunia olahraga kampus juga membuka banyak jalur karier lain.
“Kalau tidak jadi pemain, bisa jadi pelatih, wasit, analis, atau fisioterapis. Semua peluang itu nyata,” tambahnya.
Dengan partisipasi lintas daerah dan rencana ekspansi ke berbagai cabang olahraga lain, Campus League seperti sedang membangun “peta baru” olahraga kampus Indonesia, lebih inklusif, kompetitif, dan terhubung ke level internasional.
Dwi Cahyo Kartiko S.Pd., M.Kes. juga menyampaikan apresiasi terhadap Campus League sebagai wadah kompetisi dan prestasi para mahasiswa di Surabaya dan sekitarnya. Ia merasa bangga, meski Tim Putra Unesa hanya meraih juara ketiga, namun di sisi lain berhasil menjadi tuan rumah yang baik sekaligus berkolaborasi untuk ikut menstimulasi kembali ekosistem basket di Surabaya.
“Kami bersyukur dan berterima kasih dipercaya sebagai tuan rumah Campus League Basket di Surabaya. Ini menjadi komitmen dan semangat kami di Unesa sebagai kampusnya para juara. Untuk saat ini, lumayan kami masih bisa meraih peringkat ketiga. Ini menjadi sengatan bagi kami untuk lebih intensif lagi supaya bisa bersaing di level atas di tahun-tahun berikutnya. Saya juga ingin mengajak untuk generasi muda para mahasiswa untuk ikut di Campus League. Karena melalui olahraga dan berkompetisi merupakan sarana pembentukan karakter yang sesungguhnya,” urai Dwi Cahyo.
Semangat sportivitas dan energi tinggi di lapangan ini juga sejalan dengan visi Polytron yang hadir sebagai mitra pendukung utama kompetisi untuk menyemarakkan Campus League di setiap kota, termasuk Surabaya. Melalui kompetisi ini, Polytron berkomitmen menghadirkan warna baru dengan memperkenalkan berbagai inovasi teknologi yang lekat dengan gaya hidup anak muda, memastikan ajang ini menjadi panggung prestasi yang modern dan inspiratif.
“Salah satu bentuk partisipasi nyata tersebut adalah dengan menghadirkan motor listrik Polytron Fox Electric sebagai solusi mobilitas masa depan bagi para mahasiswa. Kehadiran Fox Electric merupakan langkah kami untuk mendukung transisi anak muda menuju transportasi yang tidak hanya ramah lingkungan, namun juga relevan dengan energi positif di Campus League. Kami ingin mengambil bagian agar kompetisi ini lebih dari sekadar ajang olahraga, tetapi juga menginspirasi generasi muda untuk mengadopsi teknologi berkelanjutan yang fungsional,” ungkap Commercial Director Polytron, Tekno Wibowo. (nov)




