Pemprov Jatim Latih Warga Lumajang Hadapi Tsunami

oleh -482 Dilihat

KILASJATIM.COM, Lumajang Mengutamakan keselamatan untuk semua, pada Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional yang diperingati setiap 26 April, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur (Jatim) menggelar simulasi evakuasi mandiri tsunami.

Kegiatan berlokasi di Pantai Bulu, Desa Tegalrejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang pada 25-26 April 2026.
Kegiatan ini diawali dengan Sosialisasi dan Edukasi Masyarakat, mengenai bencana gempa dan tsunami. Hal ini mengingatkan masyarakat akan pentingnya budaya sadar bencana dan kesiapsiagaan.

Dengan pelatihan simulasi tersebut, masyarakat tidak hanya tahu apa itu bencana, tetapi mampu mengambil langkah strategis untuk bertahan hidup (survive) untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.

“Budaya sadar bencana semestinya melekat menjadi gaya hidup masyarakat. Ilmu mengenai evakuasi mandiri ini bisa ditularkan kepada keluarga dan tetangga di lingkungan sekitar,” kata Sekretaris BPBD Jatim Andhika Nurrahmad Sudigda ST M.Si, disela acara.

Skenario simulasi diawali dengan terjadinya gempa bumi berkekuatan magnitudo 9,1 di titik 10.13 LS 112.96 BT di kedalaman 10 kilometer pada pukul 09.00 WIB. Goncangan gempa dirasakan pula di Desa Tegalrejo. Selang 26 menit kemudian, perangkat desa menerima informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Malang bahwa gempa menimbulkan potensi tsunami di Desa Tegalrejo.

Perangkat desa segera mengumumkan adanya gelombang tsunami mendekati area mereka melalui pengeras suara dari musala sekitar desa. Seketika warga keluar rumah dan berlari ke arah zona aman tsunami atau blue zone yaitu di kaki Gunung Kursi.

Simulasi ini melibatkan 300 warga dari berbagai lapisan masyarakat dan jenjang usia, termasuk perempuan dan lansia, penyandang disabilitas, dan anak-anak. Adapun penduduk desa tersebut berjumlah sekitar 3.690 jiwa. Dengan wilayah yang dikelilingi pegunungan dan berada di pesisir Selatan Provinsi Jatim. Kondisi geografis yang demikian membuatnya menjadi kawasan paling terpencil di Kabupaten Lumajang.

Baca Juga :  PLN Gerak Cepat Pulihkan Pasokan Listrik di Wilayah Bencana Banjir Bandang Lumajang

Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Ricko Kardoso, letak Desa Tegalrejo berhadapan tegak lurus dengan sumber kegempaan yang biasa disebut megathrust. Berdasarkan pemodelan tsunami yang dilakukan, desa ini berpotensi mengalami gempa bumi mencapai 6 MMI (Modified Mercalli Intensity) yang akan merusak bangunan dan rendaman tsunami setinggi 15 meter sejauh kurang lebih 3 kilometer dari garis pantai.

Kondisi seperti itu tentu membutuhkan respon cepat dari masyarakat. Mereka harus mampu melakukan evakuasi mandiri sebab waktu kritis (golden time) untuk menyelamatkan diri ke tempat aman berkisar 20 menit. Melalui kegiatan simulasi tersebut, diharapkan dapat memperkuat kerja sama antarwarga, pemerintah dan relawan. Mengingat bencana adalah urusan semua orang, dalam situasi bencana tidak ada yang bisa berdiri sendiri, semua harus saling menjaga dan melindungi.

Sementara, Kepala Desa Tegalrejo, Nyono menyampaikan simulasi tsunami ini sangat bermanfaat besar bagi warganya. Agar mereka tahu cara menyelamatkan diri, jika bencana itu datang tiba-tiba. “Pengetahuan ini sangat penting, supaya kami tahu dan siap menghadapi situasi darurat. Suapaya dapat melakukan evakuasi mandiri,” ucapnya, usai pelaksanaan simulasi.

Sebelumnya, BPBD Jatim sudah menggelar simulasi tsunami di tiga titik, yaitu Pantai Balekambang (Malang), Demak (Tulungagung), Watu Karung (Pacitan), serta secara bersamaan kemarin di Pantai Ngadipuro (Trenggalek). Secara keseluruhan, terdapat 60 titik berisiko tsunami di sepanjang pesisir Selatan Provinsi Jatim.

Simulasi ini, turut didukung oleh Pemerintah Australia melalui Program SIAP SIAGA (Kemitraan Australia-Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana), Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan, Tim Reaksi Cepat BPBD, petugas kesehatan, dan Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD-PB) Kabupaten Lumajang.

Perwakilan Konsulat-Jenderal Australia di Surabaya, Christine Bui, yang turut hadir pula dalam simulasi tsunami, menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah provinsi terutama BPBD Provinsi Jatim dan BPBD Kabupaten Lumajang atas kegiatan yang inovatif dan kolaboratif ini.

Baca Juga :  Bupati Lumajang Resmikan Kebun Desa 'Kampoeng Biru Deun' di Kaliboto Lor  

“Dengan adanya kegiatan multipihak seperti ini, dapat menguatkan pemahaman masyarakat dalam merespon situasi gawat darurat. Terlebih dengan adanya inisiatif untuk membentuk semacam buddy system atau menunjuk seorang pemimpin di setiap lingkungan tempat tinggal, sebagai penanggung jawab terhadap masyarakat di area tersebut,” papar Christine.

Sedang Mambaus Suud, Program Partnership Implementation Manager SIAP SIAGA Provinsi Jatim, menyampaikan, pemerintah desa perlu membuat mekanisme atau strategi evakuasi sampai di tingkat dusun. Di setiap dusun perlu menunjuk satu orang sebagai penanggung jawab untuk mengidentifikasi. Guna mengoptimalkan kerja saat evakuasi.

Ada koordinasi jelas dan terintegrasi dari berbagai pihak, terutama pemerintah di tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Fungsi-fungsi dalam diseminasi peringatan dini dan evakuasi harus diperjelas, dan disediakan area evakuasi alternatif, mengantisipasi adanya chaos dalam proses evakuasi itu sendiri.

Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat semua pihak terkait untuk saling berbagi pembelajaran, menguji sistem peringatan dini, jalur evakuasi, serta mekanisme koordinasi antar lembaga. Termasuk memperkuat solidaritas sosial serta menumbuhkan budaya kesiapsiagaan yang berkelanjutan.

“Melalui inisiatif cerdas seperti ini, masyarakat Jatim akan semakin siap, tangguh, dan mampu merespon ancaman bencana secara cepat dan tepat, sehingga dapat memastikan bahwa semua bisa selamat saat bencana terjadi” ungkapnya. (TQI)

No More Posts Available.

No more pages to load.