KILASJATIM.COM, Surabaya – Keyakinan dan keteguhan hati seorang nenek asal Pasuruan, Muslichah (85), akhirnya berbuah manis. Penjual cilok yang telah merintis usahanya sejak usia 18 tahun ini resmi berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji, hasil dari jerih payahnya menyisihkan uang selama kurang lebih 67 tahun.
Impian besar tersebut tidak diraih secara instan. Sejak muda, Muslichah memiliki prinsip untuk selalu menyisihkan sebagian penghasilannya demi menunaikan rukun Islam kelima. Hingga kini, di usia senja, ia masih memproduksi cilok sendiri sejak pukul 02.00 dini hari dan mendorong rombong roda tiganya sejauh sekitar satu kilometer setiap hari menuju kantin sekolah, salah satunya di SMPN 5 Pasuruan di Jalan Trunojoyo.
Dari penghasilan harian sekitar Rp50 ribu, ia disiplin menyisihkan Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Cara menabungnya pun sederhana—ia sempat menyimpan uang di dalam bambu sebelum akhirnya dipindahkan ke rekening tabungan haji. Konsistensi tersebut, ditambah keikutsertaannya dalam arisan mingguan senilai Rp80 ribu, membawanya mendaftar haji pada 2017.
“Sedikit-sedikit saya sisihkan. Kalau tidak menabung ya tidak bisa berangkat, karena kebutuhan banyak,” ujarnya dengan penuh syukur.
Perjalanan hidup Muslichah tidaklah mudah. Ia harus menjalani hidup tanpa suami yang telah wafat 12 tahun lalu, serta kehilangan dua dari delapan anaknya. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan tekadnya untuk terus berusaha dan menabung.
Keteguhan itu juga menginspirasi putri bungsunya, Mariyatul Kibtiyah (35), yang kemudian ikut mendaftar haji pada 2020. Kini, Mariyatul berkesempatan mendampingi sang ibu melalui skema penggabungan mahram lansia.
Mariyatul bahkan rela berhenti bekerja di pabrik untuk membantu usaha cilok ibunya dengan berjualan pada malam hari, sekaligus memastikan kondisi kesehatan sang ibu tetap terjaga menjelang keberangkatan.
Setelah menunggu antrean selama sembilan tahun, Muslichah akhirnya siap menuntaskan kerinduannya menuju Baitullah. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa dengan niat kuat, kesabaran, dan ikhtiar panjang, impian menunaikan ibadah haji dapat diraih oleh siapa saja, tanpa memandang latar belakang profesi.(kar)




