KILASJATIM.COM, Surabaya – Menjelang Paskah 2026, Paus Leo XIV menerima hadiah istimewa berupa patung tiga dimensi tokoh Yusuf Arimatea, karya pertama yang dibuat di Indonesia. Patung tersebut diserahkan dalam audiensi umum di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Rabu (25/3/2026), oleh delegasi Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).
Karya ini didesain oleh AM Putut Prabantoro dan menggambarkan adegan penurunan jenazah Yesus Kristus dari salib. Selain Yusuf Arimatea, patung tersebut juga menampilkan Bunda Maria, Maria Magdalena, serta dua orang pembantu dalam prosesi tersebut. Putut Prabantoro menyebut karya ini sebagai patung yang unik dan sulit ditemukan, bahkan di pusat Gereja Katolik dunia. “Saya sudah menelusuri berbagai sumber, tetapi tidak menemukan referensi patung dengan adegan seperti ini. Bahkan para pematung di Indonesia pun meminta contoh yang tidak tersedia, sehingga akhirnya saya harus membuat desainnya sendiri,” terang Putut.
Patung tersebut dikerjakan selama sekitar tujuh bulan, mulai dari sketsa hingga selesai. Putut menjelaskan, terdapat detail khusus dalam desain, termasuk penggunaan warna untuk mempertegas tokoh utama. “Yusuf Arimatea menjadi satu-satunya figur yang diberi warna khusus, sementara tokoh lain berwarna hitam sebagai simbol duka cita,” papar Putut. Selain itu, penamaan patung menggunakan bahasa Ibrani dan Latin, merujuk pada konteks sejarah saat peristiwa penyaliban Yesus terjadi.
Penyerahan patung ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan PWKI dan KWI ke Vatikan dalam agenda penandatanganan nota kesepahaman penggunaan Bahasa Indonesia secara resmi di Vatican News. Delegasi Indonesia dalam audiensi tersebut antara lain Stanislaus Jumar Sudiyana, Mayong Suryo Laksono, Bonfilio Mahendra Wahanaputera, dan Asni Ovier Dengen Paluin. Dari KWI hadir Uskup Surabaya Mgr Agustinus Tri Budi Utomo serta Romo Petrus Noegroho Agoeng Sri Widodo, didampingi Romo Markus Solo Kewuta SVD yang bertugas di Vatikan.
Menurut Mayong Suryo Laksono, momen audiensi dan penandatanganan kerja sama ini memiliki makna khusus. “Penentuan tanggal 25 Maret bukan tanpa alasan, karena bertepatan dengan perayaan kabar gembira kepada Bunda Maria. Ini menjadi momentum yang sangat bermakna bagi kami,” papar Mayong.
Kunjungan ini sendiri sempat menghadapi tantangan akibat situasi global yang memengaruhi jalur penerbangan ke Eropa. Namun, delegasi tetap melanjutkan perjalanan hingga akhirnya dapat menyerahkan karya tersebut langsung kepada Paus Leo XIV.
Bagi Putut, patung Yusuf Arimatea tidak sekadar karya seni, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam. “Karya ini lahir dari proses panjang dan refleksi, sehingga kami memaknainya sebagai bagian dari misteri iman yang ingin kami persembahkan kepada Bapa Suci,” tutup Putut.(tok)
