KILASJATIM.COM, Bondowoso – Pemerintah Kabupaten Bondowoso bergerak cepat memulihkan akses warga terdampak banjir dengan membangun jembatan darurat di tiga titik penghubung antarwilayah. Langkah ini dilakukan agar mobilitas masyarakat tetap terjaga dan tidak terjadi isolasi wilayah.
Penanganan difokuskan pada jalur Bandilan–Sempol, Bandilan–Tarum, serta Bandilan–Klekean yang mengalami kerusakan cukup parah. Jembatan darurat dibangun menggunakan konstruksi bronjong sebagai solusi cepat di tengah kondisi darurat.
Kepala Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (BSBK) Bondowoso, Ansori, menjelaskan bahwa penggunaan bronjong dipilih agar pengerjaan bisa dilakukan dalam waktu singkat.
“Jembatan darurat ini pada beberapa segmen menggunakan konstruksi bronjong sebagai pengganti pasangan batu, sehingga proses penyelesaian dapat berlangsung lebih cepat dan segera dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, penanganan tersebut dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dengan skema Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp370 juta untuk tiga titik.
“Kegiatan ini ditangani melalui dana BTT dengan pagu sebesar Rp370 juta untuk tiga titik. Pelaksanaannya dipercepat, dengan estimasi waktu pengerjaan antara 1 hingga 3 hari,” kata Ansori.
Menurutnya, pembangunan jembatan darurat ini menjadi langkah penting agar akses warga tetap terbuka.
“Agar akses masyarakat tetap terjaga dan tidak terisolasi, jembatan ini sudah dapat dilintasi oleh kendaraan roda dua maupun pejalan kaki,” lanjutnya.
Lebih jauh, Ansori mengungkapkan bahwa pemerintah daerah juga tengah menyiapkan rencana penanganan permanen. Namun, pelaksanaannya bergantung pada kesiapan anggaran dan waktu pengerjaan.
“Anggaran yang ada saat ini murni APBD melalui skema kedaruratan. Untuk penanganan permanen jembatan, kita harus menghitung waktu dan kebutuhan anggaran. Kalau nilainya besar, waktu pelaksanaannya bisa 3 sampai 4 bulan,” jelasnya.
Ia menyebut, realisasi pembangunan permanen akan disesuaikan dengan perubahan anggaran (PAK). Jika tidak memungkinkan pada tahun berjalan, maka akan diusulkan pada tahun berikutnya.
“Anggaran yang tersedia saat ini bersumber dari APBD melalui skema kedaruratan. Untuk penanganan jembatan secara permanen, masih diperlukan perhitungan waktu serta kebutuhan anggaran. Apabila nilainya cukup besar, estimasi pelaksanaan dapat mencapai 3 hingga 4 bulan,” pungkasnya.
Pemkab Bondowoso memastikan, selain penanganan darurat yang cepat, perencanaan pembangunan permanen tetap menjadi prioritas agar infrastruktur ke depan lebih kuat dan tahan terhadap bencana.(wan)
