KILASJATIM.COM, Surabaya – Empat perupa Indonesia berkesempatan menampilkan karya mereka dalam ajang seni internasional Hanoi Art Hands – 2nd International Art Camp 2026 yang berlangsung hingga 11 Maret 2026 di Hanoi dan Hung Yen, Vietnam. Keempat seniman tersebut adalah Djunaidi Kenyut, Rosalina Angger Sari, Kokoh Yulistio Wahono yang dikenal dengan nama Bung Tiok, serta Muhammad Guraisyi Vadag atau Boel.
Meski berasal dari daerah berbeda di Indonesia, mereka kini sama-sama berkarya dan bermukim di Bali. Bung Tiok merupakan perupa kelahiran Lumajang, sementara Rosalina Angger Sari dan Djunaidi Kenyut berasal dari Surabaya. Adapun Boel merupakan seniman asli Bali.
Partisipasi mereka dalam ajang ini membawa semangat kemanusiaan sekaligus memperkenalkan perspektif lokal Indonesia dalam percakapan seni global. Djunaidi Kenyut, mengatakan bahwa perhelatan ini menjadi ruang dialog budaya yang penting bagi para seniman dari berbagai negara. “Seni bukan lagi tentang dari mana kita berasal, tetapi tentang bagaimana kita saling terhubung melalui perbedaan yang ada,” terang Djunaidi Kenyut.
Hanoi Art Hands menjadi salah satu forum seni internasional yang berkembang di Asia Tenggara. Kegiatan ini pertama kali digagas pada 2024 oleh seniman sekaligus filantropis Vietnam, Ha Huy Hiep. Menurut Ha Huy Hiep, ajang ini tidak sekadar menjadi pameran karya, tetapi juga wadah pertukaran gagasan dan nilai kemanusiaan. “Hanoi Art Hands hadir bukan sekadar untuk pameran, tetapi untuk mempromosikan nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan,” katanya.
Selama kegiatan berlangsung, para seniman dari 11 negara berkolaborasi menciptakan karya seni kontemporer melalui berbagai medium, mulai dari keramik, pahatan, hingga lukisan akrilik di atas kanvas berukuran besar. Kegiatan berkarya dilakukan di Dai Nhien Gallery, tempat para seniman mengerjakan kanvas hingga ukuran 100 x 150 sentimeter. Selain itu, para peserta juga mengikuti kegiatan pertukaran budaya, termasuk acara: Karaoke Cultural Exchange Night untuk mempererat hubungan antar seniman.
Puncak acara berlangsung pada Minggu (8/3/2026) di Garden Bistro Entertainment Complex, Eco Park, Provinsi Hung Yen. Pada kesempatan tersebut dipamerkan 60 karya dari 60 seniman internasional. Pengunjung juga mendapat kesempatan berdialog langsung dengan para seniman. Selain itu, sebanyak 30 persen dari hasil penjualan karya akan didonasikan untuk kegiatan sosial.
Setelah rangkaian pameran, para peserta juga dijadwalkan mengikuti tur budaya dengan mengunjungi desa-desa wisata dan menikmati kuliner tradisional Vietnam Utara sebagai bagian dari pertukaran budaya.
Melalui ajang ini, para perupa Indonesia turut memperkuat diplomasi budaya sekaligus memperkenalkan kekayaan perspektif seni Nusantara di panggung internasional.(tok)
