Semut Ibrahim dan Sepucuk Surat Dukacita dari Mega

oleh -1357 Dilihat
Eri Irawan
Oleh
Eri Irawan
Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah, menyerahkan surat dukacita dari Megawati Soekarnoputri ke Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi.

KILASJATIM.COM, Jakarta – Sepucuk surat dukacita seringkali bukan sekadar eulogia, ungkapan simpati, dan uluran tangan persahabatan. Namun juga manifestasi sikap ideologis dan keberpihakan diplomatik terhadap kemerdekaan dan kemanusiaan.

Dan kita membaca itu semua dari surat ungkapan belasungkawa dari Presiden ke-RI dan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, terhadap wafatnya Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin spiritual tertinggi Iran, karena serangan brutal Israel dan Amerika Serikat.

Surat tertanggal 2 Maret 2026 itu diantarkan oleh Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah, dan diterima Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi pada 3 Maret 2026.

Membuka suratnya, Megawati tidak hanya berbicara untuk bangsa Indonesia, tapi juga mewakili ayahnya, proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno (Bung Karno), yang hingga akhir hayat meyakini bahwa kemerdekaan adalah hak semua bangsa. Surat Mega seperti menjadi pengingat bahwa bangsa kita memiliki sejarah relasi yang hangat dan panjang dengan Iran.

Iran adalah bagian dari sejarah Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955. Sebuah konferensi yang menyatukan bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang baru merdeka dan sedang menghadapi kolonialisme. Megawati menulis di surat itu soal kesamaan nasib untuk memperjuangkan tatanan dunia yang lebih adil dan bermartabat.

“Sebagai putri tertua Bung Karno, seorang penggagas Konferensi Asia-Afrika dan salah satu arsitek Gerakan Non-Blok, saya merasakan secara mendalam ikatan historis dan ideologis antara rakyat Indonesia dan rakyat lran.”

”Persaudaraan ini terjalin bukan hanya melalui diplomasi formal, melainkan juga melalui kesamaan nasib sebagai sesama bangsa yang menentang berbagai bentuk penjajahan, memperjuangkan kemerdekaan, serta menginginkan tatanan dunia yang lebih adil dan bermartabat.”

Pernyataan Megawati menggemakan kembali pidato Bung Karno di Konferensi Asia Afrika di Bandung, yang relevan hingga saat ini, terutama di Iran yang tengah diserang kedaulatannya oleh Israel dan Amerika Serikat. Situasi dunia hari-hari ini serupa yang pernah diingatkan Bung Karno, “Kita menghadapi situasi, di mana keselamatan umat manusia tidak selalu mendapat perhatian utama. Banyak orang yang berada di tempat kekuasaan yang tinggi malah lebih memikirkan tentang hal menguasai dunia.”

Baca Juga :  Dinilai Sukses Kembangkan Pariwisata, Banyuwangi Raih Trisakti Tourism Award

Kolonialisme Belum Mati

Lebih dari tujuh puluh tahun berlalu setelah Bung Karno berpidato di hadapan para pemimpin Asia-Afrika dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung, 1955. Dunia belum sepenuhnya berubah. Kolonialisme belum mati. Bung Karno sudah mengingatkan kolonialisme bisa jadi bersilih rupa: dalam bentuk kontrol ekonomi, kontrol intelektual. Bung Karno menyebut kolonialisme sebagai ”musuh yang terampil dan gigih, dan muncul dalam berbagai rupa”.

“We are often told ‘Colonialism is dead’. Let us not be deceived or even soothed by that. 1 say to you, colonialism is not yet dead… Colonialism has also its modern dress, in the form of economic control, intellectual control…colonialism is an evil thing, and one which must be eradicated from the earth.”

Dan di suratnya, Megawati memilih kata ”gugur” untuk menyebut kematian itu, sebuah kata yang mewakili kekuatan pengorbanan untuk sesuatu yang lebih besar. Sebuah kata yang dibentuk dari penghormatan terhadap kesyahidan Khamenei.

”Dalam diri beliau, kami melihat seorang ulama dan negarawan yang berupaya memadukan iman keagamaan, keadilan sosial, dan sikap anti-imperialisme dalam satu garis perjuangan yang konsisten…Dalam kepemimpinan beliau kami menangkap gema semangat antikolonialisme, solidaritas dunia ketiga, dan tekad untuk menolak segala bentuk dominasi dan ketidakadilan global.”

Bagi Megawati, Ali Khamenei adalah representasi sebuah kepemimpinan yang bersahabat. Saat berkunjung ke Teheran pada 2004 sebagai Presiden Republik Indonesia, Megawati merasakan karisma kepemimpinan terpancar.

Saat itu, Megawati menyampaikan undangan langsung kepada Khamenei untuk menghadiri Konferensi Ularna Islam Internasional di Jakarta pada Februari 2004 dan peringatan Konferensi Asia-Afrika ke-50 pada 2005. Namun Khamenei tak sempat ke Indonesia hingga akhir hayatnya.

Baca Juga :  Iran Sebut Tindakan Serang Israel sebagai Balasan Sesuai Pasal 51 Piagam PBB

Megawati mengenang keramahan, penghormatan, dan kedekatan para pemimpin Iran, yang selalu menyebut Indonesia sebagai ”sahabat lama di garis perjuangan antikolonialisme, imperialisme dan Gerakan Non-Blok”.

Di tengah isu diplomasi Indonesia yang dianggap oleh banyak kalangan sudah meninggalkan semangat bebas aktif dan condong ke Amerika Serikat, surat Megawati menjadi penting untuk menunjukkan bahwa bangsa ini masih setia dengan isi pembukaan konstitusinya sendiri.

”Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Surat dukacita dari Megawati tak pernah berpretensi untuk menjadi heroik. Ia hanya menegaskan kembali tentang apa yang seharusnya menjadi keyakinan bangsa ini sejak lama, untuk ”berdiri bersama rakyat Iran dalam menolak dan mengecam keras segala bcntuk agresi militer sepihak yang melanggar kedaulatan negara dan mernbahayakan perdamaian kawasan maupun dunia.”

Surat itu menegaskan kembali keyakinan prinsip yang ”kami pegang sejak era Bung Karno hingga hari ini, yakni bahwa penyelesaian konflik harus ditempuh melalui jalan dialog, perundingan yang adil, dan penghormatan terhadap hukum internasional, bukan melalui kekerasan dan penggunaan kekuatan bersenjata”.

Ada kalanya pada suatu masa di mana yang haq dan bathil terlihat terang-benderang, sebuah sikap harus dinyatakan tanpa keraguan. Mungkin akan dipandang sebelah mata seperti semut hitam yang membawa setetes air untuk memadamkan api yang dinyalakan Raja Namrud guna membakar Nabi Ibrahim dalam kisah yang masyhur itu. Namun, kita tahu, keberpihakan adalah tugas dan tanggung jawab kemanusiaan yang menyejarah. Dari sana kita tahu bagaimana kapasitas kepemimpinan seorang Megawati. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.