KILASJATIM.COM, Probolinggo – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung meninjau lokasi banjir di Kabupaten Probolinggo, Senin (23/2/2026). Banjir yang dipicu hujan deras itu merendam enam kecamatan dan berdampak pada 1.222 kepala keluarga (KK).
Data sementara 21–22 Februari 2026 mencatat, warga terdampak tersebar di Kecamatan Kraksaan 810 KK, Krejengan 264 KK, Gading 11 KK, Besuk 23 KK, Kotaanyar 14 KK, dan Pakuniran 100 KK. Luapan sungai menyebabkan permukiman tergenang serta merusak sejumlah fasilitas umum.
Didampingi Bupati Probolinggo M. Haris, Khofifah memastikan penanganan darurat berjalan sekaligus memetakan prioritas intervensi pascabencana. Tim gabungan dari BPBD, Dinas PU Bina Marga, Dinas PU Sumber Daya Air (SDA), TNI-Polri, dan pemkab setempat diterjunkan untuk asesmen kerusakan rumah, tempat ibadah, sekolah, hingga infrastruktur jalan dan jembatan.
“Kami memetakan kerusakan ringan, sedang, dan berat sebagai dasar penentuan skala prioritas intervensi,” kata Khofifah.
Untuk jangka pendek, Pemprov Jatim memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar warga, pembersihan material banjir, serta pemulihan akses jalan dan jembatan. Percepatan pembersihan hunian menjadi perhatian, mengingat warga tengah menjalankan ibadah puasa dan bersiap menyambut Idulfitri.
Sementara untuk jangka menengah dan panjang, normalisasi sungai menjadi agenda utama. Pemprov Jatim menyiapkan penguatan pondasi di sisi kanan-kiri sungai serta penataan titik percabangan sungai yang rawan luapan. Dukungan alat berat, termasuk long arm excavator, akan dikerahkan sesuai hasil asesmen.
“Normalisasi sungai membutuhkan anggaran besar, tetapi ini investasi penting untuk mengurangi risiko banjir berulang,” tegasnya.
Selain itu, perbaikan konstruksi jembatan milik provinsi akan disesuaikan dengan kontur tanah dan debit air agar lebih tahan terhadap potensi banjir ke depan.
Khofifah juga menyinggung mitigasi bencana hidrometeorologi di Jawa Timur. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digelar 5 Desember 2025 hingga 10 Februari 2026 dinilai membantu menekan risiko bencana. Namun, melihat intensitas hujan yang masih tinggi, Pemprov Jatim akan berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk kemungkinan reaktivasi OMC.

Dalam kunjungan tersebut, Pemprov Jatim menyalurkan bantuan, antara lain 300 paket sembako, makanan siap saji, tambahan gizi, perlengkapan anak dan kebersihan, 70 terpal, 4.000 lembar glangsing, pompa air, hingga bronjong untuk penguatan tanggul.
Bupati Probolinggo M. Haris mengatakan, pemkab mengintensifkan penanganan melalui strategi BPBD bertajuk “Gercep Sae” (Gerak Cepat, Terpadu, Berbasis Kecamatan dan Desa). Posko bencana telah dibentuk di tiap kecamatan untuk memastikan respons cepat dan terkoordinasi.
“Kami fokus meminimalisir kerusakan dan memastikan masyarakat tetap mendapat pendampingan, termasuk layanan kesehatan dan perbaikan jembatan yang putus,” ujarnya.
Penanganan pascabencana akan dilakukan bertahap sesuai skala prioritas yang disepakati bersama Pemprov Jatim. Pemerintah berharap langkah darurat dan mitigasi jangka panjang dapat menekan risiko banjir berulang di wilayah tersebut. (FRI)
