Jelang Ramadan, DPR RI Minta Pemerintah Prioritaskan Pengendalian Inflasi dan Daya Beli 4

oleh -751 Dilihat

KILASJATIM.COM, Jakarta – Menjelang bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mengingatkan pemerintah agar pengendalian inflasi dan perlindungan daya beli masyarakat menjadi prioritas utama dalam kebijakan ekonomi nasional.

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai momentum Ramadan merupakan fase krusial yang menuntut kesiapan instrumen fiskal dan moneter secara terkoordinasi dan presisi.

“Setiap Ramadan, konsumsi meningkat dan tekanan harga bisa muncul. Karena itu, negara harus hadir lebih awal, memastikan instrumen kebijakan bekerja sebelum gejolak terjadi,” ujar Misbakhun dalam keterangan tertulisnya, dikutip Selasa (17/02/2026).

Menurut politisi Partai Golkar tersebut, siklus musiman kenaikan permintaan bahan pokok sudah menjadi pola yang dapat dipetakan. Tanpa langkah antisipatif yang matang, kondisi tersebut berpotensi menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah dan bawah yang paling rentan terhadap lonjakan harga pangan.

“Yang paling merasakan dampaknya adalah rakyat kecil. Kalau harga beras, gula, atau minyak goreng naik tidak wajar, itu langsung memukul pengeluaran rumah tangga. Maka pengendalian inflasi pangan harus menjadi perhatian serius,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, serta industri perbankan nasional dalam menjaga stabilitas sistem keuangan.

Selain itu, optimalisasi mekanisme deteksi dini terhadap potensi inflasi pangan (volatile food) serta penguatan peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dinilai menjadi langkah strategis yang harus diaktifkan sejak dini.

“Koordinasi tidak boleh setengah-setengah. Kita ingin semua otoritas bergerak dalam satu frekuensi. Jangan menunggu harga bergejolak baru bertindak. Pendekatan kita harus preventif, bukan reaktif,” lanjutnya.

Misbakhun juga menyoroti pentingnya kelancaran distribusi logistik dan pengawasan terhadap praktik spekulasi pasar. Menurutnya, stabilitas nilai tukar rupiah dan kecukupan likuiditas perbankan turut menentukan kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat selama Ramadan.

Baca Juga :  #BangkitBersama dari Pandemi COVID-19, Sepuluh Ribu Vaksin bagi Mitra Gojek & Masyarakat Surabaya dan Malang

Ia menegaskan bahwa stabilitas harga bukan sekadar angka statistik, melainkan menyangkut ketenangan masyarakat dalam menjalankan ibadah dan menyambut Hari Raya Idul Fitri.

“Kalau ekonomi stabil, perputaran usaha di daerah juga bergerak dan memberi dampak positif bagi pertumbuhan,” pungkasnya.(den)

No More Posts Available.

No more pages to load.