Mufti Anam: Empat Pilar Kebangsaan Jadi Fondasi Hadapi Dinamika Zaman

oleh -682 Dilihat

KILASJATIM.COM, Pasuruan – Upaya membumikan nilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar Kebangsaan dinilai penting sebagai fondasi menghadapi dinamika dan tantangan zaman.

Anggota MPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Mufti Anam, menegaskan bahwa Indonesia memiliki empat pilar utama, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang harus terus diinternalisasi dalam kehidupan masyarakat.

Hal itu disampaikan Mufti saat menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada 9 Februari 2026. Kegiatan tersebut dihadiri berbagai unsur masyarakat, mulai dari kalangan santri, generasi muda, kelompok perempuan, hingga pelaku usaha.

Menurut Mufti, pemahaman yang utuh terhadap empat pilar tidak cukup berhenti pada tataran teori, tetapi perlu diwujudkan dalam praktik sehari-hari. Ia menyebut, penerapan nilai-nilai tersebut dapat menjadi perekat persatuan sekaligus modal sosial bangsa dalam menjawab berbagai persoalan kebangsaan.

Ia juga mengulas sejarah penguatan konsep Empat Pilar yang mulai dikonsolidasikan secara masif pada masa kepemimpinan almarhum Taufiq Kiemas sebagai Ketua MPR RI periode 2009–2014. Tokoh PDI Perjuangan itu dinilai berperan penting dalam memperkenalkan kembali pentingnya empat pilar sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mufti menyampaikan keyakinannya bahwa konsistensi dalam mengamalkan nilai-nilai kebangsaan akan membawa Indonesia terus bergerak maju. Di tengah perubahan global yang cepat, ia optimistis bangsa Indonesia mampu bertahan dan berkembang apabila tetap berpegang pada jati dirinya.

Ia menambahkan, keempat pilar tersebut tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan berakar dari karakter, budaya, serta kearifan lokal masyarakat Indonesia. Karena itu, Empat Pilar Kebangsaan dinilai relevan dengan kepribadian bangsa.

Sebagai contoh, Mufti menyinggung Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa yang digali oleh Bung Karno dari nilai-nilai hidup masyarakat Indonesia. Pancasila, yang pertama kali disampaikan dalam pidato 1 Juni 1945, menurutnya mencerminkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial.

Baca Juga :  ASN Banyuwangi Mulai Budayakan Hemat Energi, Ratusan Pegawai Bersepeda ke Kantor

Ia mengajak generasi muda untuk menghidupkan kembali nilai kebersamaan tersebut, seperti saling membantu antarwarga dan peka terhadap kondisi lingkungan sekitar. Dengan semangat gotong royong, kata dia, nilai-nilai Pancasila dapat terus relevan dan menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. (SAG)

No More Posts Available.

No more pages to load.