KILASJATIM.COM, Surabaya – Senyum Nabila Yusmawati tak lepas sepanjang prosesi pengambilan sumpah dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa), Rabu (11/2/2026). Di balik senyum itu, tersimpan tekad yang tumbuh sejak ia kecil di Manokwari, Papua Barat.
Bagi Nabila, menjadi dokter bukan sekadar capaian akademik. Ia tumbuh dalam keluarga yang akrab dengan dunia kesehatan dan pengabdian. Ibunya adalah seorang dokter sekaligus Kepala Dinas Kesehatan Papua Barat, yang kerap turun langsung melayani masyarakat di daerah pedalaman.
Sejak remaja, Nabila sering ikut sang ibu menyusuri jalanan tanah berlumpur menuju kampung-kampung terpencil. Salah satu perjalanan yang paling ia ingat memakan waktu hingga 12 jam. “Nggak terlalu jauh sebenarnya, tapi karena jalannya masih tanah dan berlumpur. Jadi lebih lama karena terjebak dan nunggu bantuan,” kenangnya.
Di perjalanan-perjalanan itulah ia melihat bagaimana masyarakat menyambut tenaga kesehatan dengan penuh harapan. Bahkan, warga kerap memberikan hasil kebun sebagai tanda terima kasih. Pengalaman itu membekas dan perlahan menumbuhkan kecintaannya pada dunia medis. “Selain itu juga karena baca berita soal dokter yang bangun Rumah Sakit Apung untuk kasih pelayanan kesehatan gratis di daerah 3T,” ujarnya.
Anak pertama dari tiga bersaudara itu mengatakan orang tuanya tak pernah memaksakan pilihan. Namun, mereka selalu menekankan pentingnya keyakinan dan keseriusan. “Pesan yang selalu bapak sama ibu tekanin ke anak-anaknya itu untuk tetap rendah hati, tidak sombong, tidak merendahkan orang lain. Selalu mengucapkan terima kasih, tolong, dan maaf kepada siapapun itu,” tuturnya.
Semangat pengabdian itu juga tercermin dari aktivitasnya di bangku kuliah. Nabila aktif di Tim Bantuan Medis FK Unusa dan berbagai kegiatan kerelawanan. Ia belajar menghadapi beragam karakter pasien dan latar belakang sosial yang berbeda.
Kini, setelah resmi menyandang gelar dokter di usia 25 tahun, Nabila ingin kembali ke Papua. Ia berencana fokus sebagai dokter umum lebih dahulu sebelum menentukan langkah spesialisasi. “Untuk saat ini mau fokus dulu di dokter umum dan memberikan pelayanan di Papua. Namun kalau ditanya ingin ambil spesialis, inginnya yang sekiranya dibutuhkan di Papua,” katanya.
Spesialis anak atau kulit dan kelamin menjadi pertimbangannya. Ia menilai layanan spesialis kulit dan kelamin masih terbatas dan biayanya relatif mahal di Papua. Nabila ingin menghadirkan layanan yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Baginya, sumpah dokter yang baru saja diucapkan bukan akhir perjalanan, melainkan panggilan untuk pulang. Pulang ke tanah yang membesarkannya, dan memastikan kehadiran dokter bukan lagi kemewahan, melainkan hak setiap warga di ujung timur Indonesia.(tok)
