ISTTS Latih Jurnalis Surabaya dan Sidoarjo Gunakan AI Secara Etis

oleh -478 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS) membekali puluhan jurnalis dari Surabaya dan Sidoarjo dengan keterampilan kecerdasan buatan melalui bootcamp intensif, sekaligus menekankan pentingnya etika, akurasi, dan verifikasi dalam praktik jurnalistik di era AI. Pelatihan bertajuk Artificial Intelligence for Journalist itu digelar Selasa (3/2/2026) di Kampus ISTTS, Jalan Ngagel Jaya Tengah Surabaya.

Kepala Humas ISTTS Surabaya, Mas Rara Dwi Yanti Handayani, menegaskan bahwa pemanfaatan AI di ruang redaksi merupakan keniscayaan, namun harus disertai tanggung jawab profesi. “AI bisa membantu jurnalis bekerja lebih cepat dan efisien, tetapi akurasi, verifikasi, dan nurani tetap berada di tangan manusia. Karena itu, Institut STTS memfasilitasi ruang belajar agar jurnalis mampu memanfaatkan AI tanpa mengorbankan prinsip jurnalistik,” terang Rara.

Bootcamp menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi AI. Dr. Lukman Zaman memaparkan pemanfaatan generative AI, teknik penyusunan prompt, serta penggunaannya untuk produksi konten multimedia dan visual. Prof. Esther Irawati Setiawan mengulas social network analysis, multimodal AI, serta tantangan etika dalam pemanfaatan kecerdasan buatan. Sementara Dr. Yosi Kristian menjelaskan penerapan machine learning dan computer vision yang kini mulai digunakan dalam analisis data visual dan investigasi digital.

Berbeda dari pelatihan berbasis teori, kegiatan ini mengedepankan praktik langsung. Peserta diminta membawa laptop untuk mencoba penyusunan prompt, pengolahan data, hingga simulasi penggunaan AI dalam alur kerja jurnalistik sehari-hari.

Direktur Rumah Literasi Digital, Andika Ismawan, menyebut pelatihan ini sebagai langkah penting agar insan pers tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi sekaligus tetap kritis. “AI tidak bisa diposisikan sebagai pengganti jurnalis. Teknologi ini adalah alat bantu yang harus dikendalikan dengan literasi, etika, dan kesadaran dampak. Melalui bootcamp ini, kami ingin jurnalis memahami cara kerja AI sekaligus tahu batas penggunaannya,” tuturnya.

Baca Juga :  Nyeri Dada Tak Selalu Jantung, Dokter Ubaya Jelaskan Perbedaan dengan GERD

Menurut Andika, tuntutan kecepatan di dunia media harus diimbangi dengan pemahaman digital yang memadai agar teknologi tidak justru memicu kesalahan informasi. “Jurnalis hari ini dituntut cepat, tetapi tetap akurat. Tanpa literasi digital yang memadai, AI justru bisa menjadi sumber kesalahan baru. Karena itu, pelatihan berbasis praktik seperti ini penting agar teknologi digunakan secara kritis dan bertanggung jawab,” tandasnya.

Melalui kegiatan ini, ISTTS menegaskan perannya sebagai kampus yang responsif terhadap dinamika industri sekaligus berkontribusi menjaga kualitas informasi publik di tengah arus disrupsi teknologi.  Peserta kegiatan kali ini berasal dari berbagai komunitas, di antaranya Pewarta Foto Indonesia Surabaya, Forum Komunikasi Jurnalis Nahdliyin, Rumah Literasi Digital, Forwas Sidoarjo, serta sejumlah jurnalis dari Surabaya dan Sidoarjo.(tok)

No More Posts Available.

No more pages to load.