KILASJATIM.COM, Malang – Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang mencanangkan target ambisius pada tahun 2026, yakni mendorong 10 persen pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk naik kelas. Dari total sekitar 40 ribu UMKM yang ada, sebanyak 4.000 unit usaha ditargetkan mengalami peningkatan kapasitas.
Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, mengatakan target tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam memperkuat sektor UMKM sebagai tulang punggung perekonomian daerah.
“Jumlah UMKM di Kota Malang ini sekitar 40 ribu. Pada 2026 kami mengupayakan supaya 10 persen atau sekitar 4.000 UMKM bisa naik kelas,” kata Eko di Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (18/1/2026).
Eko menjelaskan, strategi percepatan pemenuhan target tersebut pada dasarnya masih mengacu pada pola yang telah diterapkan pada tahun-tahun sebelumnya, namun dengan penguatan pada sejumlah aspek, khususnya pendampingan usaha.
Pada 2026, cakupan pendampingan oleh tim pendamping akan diperluas, yakni menyasar 50 hingga 100 UMKM per pendamping. Selain itu, materi pelatihan juga akan diberikan secara lebih detail, meliputi peningkatan kualitas pengemasan produk, pemasaran, hingga penguatan manajemen usaha.
“Penguatan ini kami lakukan karena pada 2025 capaian UMKM naik kelas belum memenuhi target yang ditetapkan,” ujarnya.
UMKM dikategorikan naik kelas apabila mengalami peningkatan signifikan, antara lain dari sisi omzet tahunan, kelengkapan legalitas usaha, serta kualitas dan daya saing produk.
“Target pada 2026 ini sebenarnya sama dengan 2025. Namun tahun lalu hanya sekitar 100-an UMKM yang berhasil naik kelas,” tambahnya.
Selain pendampingan, Diskopindag Kota Malang juga menargetkan peningkatan ekspor produk UMKM. Penguatan ini diharapkan mampu mendorong lebih banyak produk lokal menembus pasar internasional, khususnya ke Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Selandia Baru.
Hingga 2025, tercatat sebanyak 95 UMKM asal Kota Malang telah berhasil menembus pasar global, dengan komoditas utama berupa keripik berbahan dasar olahan tempe. Jika diakumulasikan dengan produk lainnya seperti kriya, nilai ekspor produk UMKM Kota Malang mencapai sekitar Rp100 miliar.
“Pada 2026, kami menargetkan jumlah produk UMKM yang diekspor bisa meningkat hingga 50 persen. Klinik ekspor akan dimaksimalkan karena pasarnya sudah terbuka dan kami juga telah memiliki kerja sama dengan sejumlah negara,” pungkas Eko.(TQI)


