Curah Hujan Diprediksi Naik, Khofifah Ingatkan Lintas Sektor Waspada Risiko Sampah dan Banjir

oleh -569 Dilihat
oleh

KILASJATIM.COM, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, peningkatan kinerja dan produktivitas sektor lingkungan hidup tidak bisa hanya mengandalkan capaian teknokratis. Sinergi lintas sektor, profesionalisme aparatur, hingga penguatan kecerdasan spiritual dinilai menjadi kunci agar kebijakan lingkungan berjalan berkelanjutan.

Penegasan itu disampaikan Khofifah saat menghadiri Penyerahan Penghargaan Lingkungan Hidup Tahun 2025 yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur di Kantor DLH Jatim, Surabaya, Senin (29/12/2025) malam.

Menurut Khofifah, indikator kinerja utama (IKU) penting sebagai alat ukur, tetapi tidak cukup jika tidak dibarengi nilai-nilai etos kerja dan integritas. Kecerdasan spiritual, kata dia, menjadi fondasi agar kebijakan lingkungan dijalankan secara konsisten dan bertanggung jawab.

“Produktivitas harus sejalan antara profesionalisme dan kinerja utama, tetapi juga diikuti kecerdasan spiritual. Ini penting bagi siapa pun, dari latar belakang apa pun,” ujar Khofifah.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga mengapresiasi peran perguruan tinggi dalam mendukung pengelolaan lingkungan, khususnya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Ia menilai ITS telah menjadi rujukan dalam pengembangan teknologi pengolahan sampah yang aplikatif.

Teknologi tersebut, lanjut Khofifah, diharapkan dapat direplikasi oleh dinas lingkungan hidup di berbagai daerah di Jawa Timur agar pengelolaan sampah lebih efisien dan berkelanjutan.

Selain penguatan teknologi, Khofifah menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Ia mendorong keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, mulai dari BUMN, dunia usaha, perbankan, TNI, hingga organisasi kemasyarakatan dalam agenda pelestarian lingkungan.

Khofifah juga mengingatkan ancaman persoalan sampah di tengah potensi peningkatan curah hujan pada awal 2026. Berdasarkan data BMKG Juanda, intensitas hujan di Jawa Timur pada Desember 2025 masih sekitar 20 persen, namun diperkirakan meningkat hingga 58 persen pada Januari mendatang.

Baca Juga :  Hujan Deras Disertai Angin Kencang, Empat Pohon Tumbang di Lamongan

Jika pengelolaan sampah tidak optimal, kondisi tersebut berpotensi memperbesar risiko banjir di berbagai wilayah.

Untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem, Pemprov Jatim telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak 5 Desember 2025 dengan dua hingga tiga sorti per hari. Namun, Khofifah mengakui upaya mitigasi masih memiliki keterbatasan.

“Modifikasi cuaca baru bisa mengendalikan hujan. Untuk angin kencang, belum ada metodenya. Ini yang harus terus kita waspadai,” katanya.

Lebih jauh, Khofifah menyinggung dampak perubahan iklim global, mulai dari peningkatan hujan ekstrem hingga potensi rob di kawasan pesisir. Ia menyebut Pulau Madura memiliki peran strategis sebagai breakwater alami yang melindungi wilayah pesisir Jawa Timur, termasuk Surabaya dan kawasan Pantura.

Pada agenda yang sama, Khofifah juga meresmikan Masjid DLH Jatim yang diberi nama Masjid Nurul Hayat. Plt Kepala DLH Jatim, Nurkholis, menyebut masjid tersebut dibangun selama 9 bulan 9 hari dengan luas 225 meter persegi.

Menutup sambutannya, Khofifah mengajak seluruh pihak memperkuat kepedulian terhadap lingkungan, meningkatkan pengelolaan sampah, serta aktif memantau perkembangan cuaca sebagai bagian dari mitigasi bencana.

Menurutnya, penghargaan lingkungan hidup bukan sekadar simbol, melainkan pengakuan atas kontribusi nyata dalam menjaga lingkungan dan keselamatan masyarakat Jawa Timur. (FRI) 

No More Posts Available.

No more pages to load.