Balai RW Ketandan Jadi Model Pendinginan Pasif Hasil Riset Untag Surabaya dan Kyoto University

oleh -264 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Upaya menciptakan ruang publik yang hemat energi di Surabaya mencapai tonggak baru dengan selesainya revitalisasi Balai RW Kampung Ketandan menggunakan teknologi pendinginan pasif. Proyek yang digarap Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya bersama Kyoto University, Jepang, ini menjadikan balai warga tersebut sebagai model penerapan desain arsitektur berkelanjutan yang efektif dan aplikatif.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menjelaskan bahwa inisiatif ini bermula dari pertemuannya pada 2023 dengan tim Center for Southeast Asian Studies Kyoto University. Konsep utamanya adalah modifikasi desain bangunan untuk menciptakan pendinginan alami tanpa ketergantungan tinggi pada listrik. “Inisiatif ini kemudian ditindaklanjuti secara kolaboratif bersama warga Kampung Ketandan, Untag Surabaya, OHS Habitat Studies, dan dukungan penuh dari Konsulat Jepang. Desain ulang Balai RW menghasilkan efisiensi energi yang luar biasa,” ujar Emil, Rabu (10/12/2025).

Desain bangunan Balai RW kini mengalami peninggian atap, pemasangan exhaust yang mempercepat keluarnya udara panas, serta ventilasi bawah untuk memaksimalkan sirkulasi. Hasilnya, kebutuhan penggunaan pendingin mekanis (AC) menurun drastis, menjadi bukti keberhasilan penerapan teknologi pasif dalam skala komunitas.

Tak hanya perubahan fisik, Balai RW Ketandan juga mengadopsi sistem pengelolaan modern melalui aplikasi MyEco berbasis QRIS. Sistem ini memungkinkan penyewaan ruang secara digital dengan tarif Rp20 ribu untuk empat jam, serta memastikan operasional balai berjalan mandiri dan berkelanjutan melalui skema gotong royong warga.

Dekan Fakultas Teknik Untag Surabaya, Dr. Ir. R.A. Retno Hastijanti M.T., menegaskan bahwa proyek ini menjadi bukti nyata hilirisasi riset yang menjadi bagian dari strategi internasionalisasi kampus. “Penelitian harus memberikan dampak nyata, tidak hanya berhenti di jurnal akademik. Ini adalah wujud hilirisasi yang sejalan dengan visi Untag untuk go Asia dalam lima tahun ke depan. Kyoto University adalah salah satu mitra strategis kami,” jelasnya.

Baca Juga :  Mensos Tinjau Sekolah Rakyat Unesa, Pastikan Siswa Dapat Laptop dan Seragam

Pendampingan Untag Surabaya di Kampung Ketandan telah berlangsung sejak 2016, dimulai dari pembangunan balai warga sebagai pusat interaksi sosial masyarakat yang beragam. Proyek ini dikembangkan dengan pendekatan co-design, yaitu perancangan bersama warga agar mereka memiliki rasa kepemilikan terhadap fasilitas publik tersebut.

Implementasi di Ketandan mengadopsi model pentahelix, melibatkan masyarakat kampung, pemerintah kota dan provinsi, akademisi dari Untag Surabaya, Kyoto University, serta ITS, hingga mitra industri dan media.

Retno menambahkan bahwa kolaborasi lintas negara dan lintas sektor ini menegaskan peran Untag Surabaya sebagai kampus yang aktif membawa riset internasional langsung ke masyarakat. “Kami ingin riset tidak berhenti di laboratorium. Ketandan adalah contoh bagaimana kolaborasi global bisa memberikan manfaat langsung bagi lingkungan dan warga kota,” ujarnya. Dengan proyek ini, Kampung Ketandan kini menjadi rujukan bagi pengembangan ruang publik hijau berbasis teknologi pasif di Surabaya dan daerah lain.(tok)