Gencar Gelar Tes dan Edukasi, Kasus HIV di Surabaya Menurun

oleh -775 Dilihat
oleh

KILASJATIM.COM, Surabaya – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya semakin agresif menekan penularan HIV/AIDS dengan memperluas layanan tes, memperkuat peran puskesmas, serta menggandeng komunitas peduli AIDS untuk menjangkau kelompok berisiko dan memutus rantai penularan.

Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, Nanik Sukristina, menyebut saat ini tersedia 126 layanan tes HIV yang tersebar di 63 puskesmas, 62 rumah sakit, dan satu klinik utama. Dengan jaringan seluas itu, warga bisa mengakses tes lebih mudah dan cepat.

“Strategi kami bukan hanya memperbanyak layanan, tapi juga memperkuat kerja sama dengan komunitas seperti ASPA dan pendamping sebaya untuk edukasi hingga penjangkauan,” ujar Nanik dalam pernyataannya yang dikutip, Rabu (2/12/2025).

Puskesmas kini memegang peran sentral sebagai fasilitas utama bagi Orang dengan HIV (ODHIV). Layanan di dalamnya mencakup deteksi awal, pemeriksaan lanjutan, pengobatan, hingga pemberian obat Antiretroviral (ARV). Seluruh layanan itu terintegrasi dengan pemeriksaan kesehatan lain seperti tes TBC, Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG), serta skrining calon pengantin dan ibu hamil.

Edukasi pencegahan juga diperluas ke kelompok calon pengantin, ibu hamil, Karang Taruna, hingga kader kesehatan agar mereka memahami risiko penularan dan pentingnya tes sejak dini.

Upaya pencegahan turut menyasar remaja. Dinkes rutin menggelar penyuluhan di sekolah SMP hingga SMA mengenai HIV, risiko pergaulan bebas, dan kaitannya dengan penyalahgunaan narkoba.

Menurut Nanik, keberhasilan pencegahan tidak terlepas dari kerja sama lintas sektor. Dinkes bekerja bersama berbagai OPD, LSM, dan komunitas untuk memperkuat pendampingan ODHIV dan menjangkau kelompok berisiko yang sulit terdeteksi.

Meski upaya terus ditingkatkan, sejumlah kendala masih menghambat. Antara lain tingginya stigma masyarakat, sulitnya menjangkau kelompok berisiko tersembunyi seperti LSL, serta banyaknya penduduk luar kota maupun luar provinsi yang menjalani tes di Surabaya.

Baca Juga :  Sembuh, 46 Kasus Campak di Surabaya pada Januari 2023

“Surabaya menjadi pusat rujukan di Indonesia Timur, sehingga banyak kasus tercatat di sini padahal penderitanya bukan warga Surabaya,” jelas Nanik.

Data per Oktober 2025 menunjukkan 52,48 persen kasus baru HIV di Surabaya berasal dari luar kota. Meski begitu, secara keseluruhan kasus baru HIV di 2025 turun 10,03 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan itu, kata Nanik, menjadi bukti bahwa penguatan layanan tes, pengobatan, dan edukasi mulai menunjukkan hasil. “Kami terus berupaya menghilangkan stigma dan memastikan setiap orang mendapat layanan kesehatan terbaik,” ujarnya. (cit) 

No More Posts Available.

No more pages to load.