Impor BEV Menguat, Industri Komponen Tertekan dan Terancam PHK

oleh -1084 Dilihat

KILASJATIM.COM, Jakarta – Lonjakan impor battery electric vehicle (BEV) atau mobil listrik berbasis baterai yang tidak diimbangi dengan kenaikan penjualan dalam negeri mulai menimbulkan tekanan serius bagi industri komponen otomotif nasional. Penurunan permintaan dari produsen kendaraan berdampak langsung pada turunnya kapasitas produksi pabrik sparepart/onderdil, bahkan sejumlah pabrikan mulai melakukan pengurangan tenaga kerja.

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmat Basuki menjelaskan tekanan paling besar datang dari anjloknya volume produksi OEM (Original Equipment Manufacturer) yang selama ini menjadi tumpuan utama rantai pasok ke pabrik mobil lokal. Kontraksi penjualan mobil listrik di dalam negeri dan derasnya arus impor membuat penyerapan komponen nasional merosot tajam.

Berdasarkan data penjualan mobil baru di Indonesia, sepanjang Januari hingga Oktober 2025 tercatat hanya 635.844 unit, turun sekitar 10,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai lebih dari 711 ribu unit. “Kalau (penurunan penjualan) mobilnya kan hampir 11 persen. Kalau di komponen mungkin lebih dari itu sekitar 30 persen penurunannya. Karena banyak (BEV) yang impor. Penjualan (dalam negeri) turun, terus impornya banyak,” ujar Rachmat, Sabtu (22/11/2025).

Dampak penurunan permintaan mulai terasa pada sektor tenaga kerja. Sejumlah pabrik melakukan efisiensi, termasuk kasus di pabrik Michelin yang sempat melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sekitar 100 orang tenaga kerja meski kemudian sebagian kembali bekerja. Menurut Rachmat, pelaku industri sebisa mungkin mempertahankan karyawan karena sektor ini sangat bergantung pada keterampilan teknis. “Kalau kita sebisa mungkin ngga ngurangi karyawan. Tapi kalau ngga tahan ya paling kontrak gak dilanjut… Tapi ya memang ada (yang dirumahkan),” katanya.

Baca Juga :  Menko Perekonomian: Belum Ada Laporan Resmi Terkait PHK di Gudang Garam

Untuk bertahan, beberapa perusahaan mulai mengandalkan pasar ekspor. Produsen global seperti Bosch dan Denso masih relatif mudah menyalurkan produk ke luar negeri karena memiliki jaringan internasional. Namun, pemain lokal berada dalam posisi lebih sulit karena tidak memiliki akses pasar yang sama luasnya.

Rachmat menilai pemerintah perlu segera mengantisipasi penurunan volume industri otomotif agar kerusakan struktural pada rantai pasok tidak terjadi. Ia menyebut stimulus seperti insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang pernah diberlakukan saat pemulihan pandemi dapat menjadi dorongan efektif. “Kalau pemerintah mau, itu kasih aja kayak insentif waktu jaman Covid-19 seperti 2022-an, itu kan penjualan naik. Jadi kita supply chain-nya survive juga. Karena kita ketergantungan terhadap volumenya tinggi. Kalau OEM-nya turun, kita ya turun,” terangnya.(den)

No More Posts Available.

No more pages to load.