Kemdiktisaintek Soroti Profil Dosen, Untag Surabaya Genjot Tata Kelola Menuju 2045

oleh -396 Dilihat

KILASJATIM.COM, Surabaya – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menekankan bahwa penguatan profil dosen merupakan pekerjaan rumah terbesar bagi perguruan tinggi swasta saat ini. Penegasan itu disampaikan Kepala Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia Kemdiktisaintek, Prof. Dr. Bhimo Widyo Andoko, dalam Dialog Kebijakan Tata Kelola Perguruan Tinggi dan SDM Menuju Visi 2045 di Auditorium Gedung R. Ing. Soekonjono, Untag Surabaya, Jumat (21/11/2025).

Prof. Bhimo menegaskan bahwa kualitas dosen menjadi modal utama kemajuan perguruan tinggi. “Profiling para dosen itu penting. Kualifikasi pendidikan, kepakaran, dan kontribusi dosen itu harus jelas. Idealnya, dosen itu berpendidikan S3 dan memiliki kepakaran yang diakui,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kontribusi dosen tidak hanya untuk kampus, tetapi juga bagi negara melalui riset yang memberi dampak ekonomi dan sosial.

Ia juga menyampaikan bahwa perguruan tinggi memegang peran krusial sebagai pelaksana program-program kementerian. “Perguruan tinggi menjadi frontliner yang dapat mengimplementasikan program kementerian ke masyarakat,” tegasnya. Menurutnya, tiga aspek utama yaitu, riset, pembelajaran, dan pengabdian masyarakat, harus diperkuat dan dihubungkan dengan kebutuhan negara, termasuk bidang kesehatan, ekonomi, hingga kebencanaan.

“Misalnya penemuan stem cell itu akan membantu pemerintah dan masyarakat di bidang kesehatan. Atau kalau di Untag ada pola audit unggulan, itu juga akan berpengaruh pada masyarakat dan negara,” katanya. Ia turut menekankan pentingnya peran pakar kebencanaan perguruan tinggi. “Sebelum terjadi bencana, harusnya kita bisa sosialisasi dan mitigasi. Kita punya ahli tsunami di perguruan tinggi, dan itu yang seharusnya bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Rektor Untag Surabaya, Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, menegaskan kesiapan kampusnya menyongsong Indonesia Emas 2045 melalui penguatan tata kelola dan SDM. “Hari ini kita mengadakan dialog tentang bagaimana tata kelola dan SDM untuk Indonesia Emas 2045. Kita sebagai perguruan tinggi unggul di Jawa Timur sudah menyambut ini,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Untag memiliki banyak pakar di berbagai bidang. “Contoh misalnya kaitannya dengan bom atau bencana, pakarnya ada di Untag. Kita punya 28 profesor, dan masing-masing punya kepakarannya,” katanya.

Baca Juga :  Sinergi UB-Pemkab Malang Dorong Modernisasi Industri Garam Desa Sumberoto

Prof. Nugroho juga menyoroti catur dharma Untag yang salah satunya menekankan pendidikan karakter. “Patriotisme ini penting, karena seringkali kementerian mempertanyakan bagaimana karakter seseorang. Ini yang kita tanamkan pada mahasiswa dan dosen,” jelasnya.

Ketua Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, J. Subekti, menegaskan pentingnya perbaikan tata kelola dan penguatan peran guru besar. “Acara ini kami desain agar tata kelola di Untag semakin meningkat dan efisien. Yang kedua, kami ingin para guru besar benar-benar menunjukkan kepakarannya,” ujarnya. Ia menolak konsep guru besar yang hanya menyandang gelar. “Saya tidak ingin para profesor itu hanya GBHN, guru besar hanya nama. Karyanya harus tunjukkan. Kapan inovasi-inovasi spektakuler itu lahir,” tegasnya.

Subekti berharap para guru besar menjadi motor penggerak riset internasional dan pembimbing bagi dosen lain. “Banyak riset yang harus dilakukan. Jangan hanya mengajar. Kita bukan sekadar guru, tapi intelektual yang punya kemampuan riset,” pungkas Subekti.(tok)