Program Ekowisata Berkelanjutan ACDH 2025 – Warga Jaga Warisan Alam dan  Kesehatan Masyarakat di Gili Iyang 

oleh -147 Dilihat

Para pembicara yang menyampaikan materi dari  Tim Airlangga Community Development Hub (ACDH 2025). (kilasjatim.com/ist)

KILASJATIM.COM, Sumenep, Madura- Tim Airlangga Community Development Hub (ACDH 2025) tahun ke-4 yang terus berfokus dalam memberikan pendampingan dan sekaligus menjadikan Pulau Gili Iyang sebagai lokasi desa bidaan Universitas Airlangga. Upaya menjaga dan memanfaatkan kekayaan alam Pulau Gili Iyang semakin menggeliat.

Lewat  Program Pemanfaatan Sumberdaya Pulau Gili Iyang Sumenep dalam Pengembangan Ekowisata Berkelanjutan digelar sebagai bentuk dukungan nyata terhadap potensi wisata dan keberlanjutan ekosistem pulau yang dikenal memiliki kualitas udara terbaik di Asia ini.

Kegiatan yang berlangsung dengan suasana akrab ini melibatkan berbagai elemen masyarakat mulai dari karang taruna, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), hingga warga desa setempat. Mereka berkumpul, berdiskusi, dan memperkaya wawasan melalui sesi ceramah yang dikemas edukatif sekaligus menghibur. Harapannya, pembangunan kepariwisataan Gili Iyang dapat berjalan seiring dengan pelestarian sumber daya alam dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Materi pertama disampaikan Prof. Endang Retno Surjaningrum dan Dr. Primatia Yogi Wulandari dari Fakultas Psikologi yang  membuka pemahaman mengenai pentingnya sense of belonging terhadap potensi wisata yang dimiliki. Para pemateri mengajak peserta untuk menyadari bahwa keunikan Gili Iyang bukan sekadar milik individu atau kelompok tertentu, melainkan harta bersama yang harus dijaga secara kolektif.

Masyarakat didorong untuk bangga terhadap kekhasan pulau, mulai dari gua alam yang memesona hingga hamparan laut biru yang menjadi rumah bagi berbagai biota laut.

Sedangkan Lina Puryanti, Ph D. Bersama Dewi Meyrasyawati, Ph D (Fakultas Ilmu Budaya mengenalk teknik pemetaan atau mapping spot wisata yang disampaikan menarik.  Langkah ini menjadi fondasi penting untuk menyusun paket wisata yang lebih tertata dan menarik bagi wisatawan.

Baca Juga :  KPK Temukan “Surat Sakti” Saat Geledah Pendopo Tulungagung

“Dengan memahami lokasi-lokasi strategis seperti destinasi gua, titik penyelaman, hingga spot edukasi lingkungan, masyarakat dapat mengembangkan ekowisata yang terarah dan aman,” ujar Lina Puryanti.

Salah satu sesi yang mencuri perhatian adalah pengenalan terhadap mamalia laut dilindungi. Melalui gambar, video, serta penjelasan interaktif, warga diperkenalkan pada lumba-lumba dan paus yang kadang melintas di sekitar perairan Gili Iyang.

Warga setempat ikut ambil bagian dalam kegiatan ini dan menyambut baik Program Ekowisata Berkelanjutan yang digagas ACDH 2025. (kilasjatim.com/ist)

Pemateri dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Dr. Eng. Sapto Andriyono menekankan bahwa satwa-satwa itu bukan hanya simbol kekayaan hayati, melainkan juga daya tarik wisata edukatif jika dikelola secara bertanggung jawab.

 “Melindungi mereka berarti menjaga masa depan wisata kita,” pesannya .

Tidak kalah penting, materi mengenai perlindungan hukum terhadap sumber daya pulau turut memperkuat kesadaran warga mengenai aturan dan konsekuensi yang harus dipahami dalam pengembangan ekowisata.

Maradona, SH, MH, Ph D menyampaikan materi  pelestarian terumbu karang, pengelolaan sampah, hingga regulasi pemanfaatan lahan wisata, semuanya diulas untuk mencegah terjadinya eksploitasi yang merusak lingkungan dan mengancam keberlanjutan.

“Di era digital saat ini, pemanfaatan media sosial menjadi pedang bermata dua. Karena itu, dalam kegiatan ini juga diberikan penyuluhan tentang penggunaan media sosial secara bijak, terutama bagi orang tua,” jelas Maradona.

Mereka dibekali tips pendampingan terhadap anak agar konten negatif tidak memengaruhi tumbuh kembang mereka dan agar informasi terkait potensi wisata Gili Iyang dapat dipromosikan dengan benar.

Pemateri yang sesuai tentang Ilmu Komunikasi yaitu Dina Septiani, B. Comm., M. Comm., Ph D. dan Irfan Wahyudi, S.Sos., M.Comms., Ph.D. dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik menyampaikan dengan sangat menarik.

Baca Juga :  Dinkes Sidoarjo: Tingginya Temuan Kasus TBC Jadi Bukti Sistem Deteksi Berjalan Efektif

Menariknya, kegiatan juga menambahkan materi kesehatan sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pencegahan dan penanganan stunting menjadi topik krusial yang disampaikan dengan bahasa sederhana. Mengingat angka stunting di wilayah kepulauan masih memerlukan perhatian khusus, edukasi ini digadang-gadang menjadi langkah awal memperbaiki kualitas generasi masa depan Gili Iyang, tutur Prof. Dr. Esti Yunitasari (Fakultas Keperawatan)

Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi. Mereka aktif bertanya, berbagi pengalaman, sekaligus menyampaikan gagasan kreatif untuk pengembangan pulau. Kolaborasi antara pemateri dan masyarakat diharapkan menjadi tombak utama keberhasilan program ini.

Dengan modal kekayaan alam yang memesona, ditambah peningkatan kapasitas warga dalam menjaga lingkungan dan kesehatan, Gili Iyang memiliki peluang besar berkembang sebagai destinasi ekowisata unggulan yang tetap lestari.

 Upaya seperti inilah yang diyakini mampu membangun ekonomi lokal tanpa mengorbankan warisan alam yang begitu berharga. Ekowisata berkelanjutan pun bukan lagi sekadar wacana, tetapi langkah bersama yang mulai nyata terwujud.

Masyarakat kini semakin siap menjadi garda terdepan dalam menjaga Gili Iyang. Pulau dengan napas terbersih ini bukan hanya tujuan pelancongan, melainkan ruang hidup yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan terbaik. (nov)

No More Posts Available.

No more pages to load.