KILASJATIM.COM, Surabaya – Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN-RI) menegaskan kembali pentingnya peran Jabatan Fungsional Analis Pengembangan Kompetensi (Analis Bangkom) sebagai arsitek utama dalam membangun ekosistem pembelajaran aparatur sipil negara (ASN) yang unggul, profesional, dan berdaya saing global.
Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan Uji Kompetensi Analis Pengembangan Kompetensi ASN Provinsi Jawa Timur Tahun 2025 yang digelar di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kapasitas ASN menghadapi tantangan birokrasi masa depan yang menuntut kecepatan, kolaborasi, dan inovasi berkelanjutan.
Deputi Bidang Peningkatan Kualitas Kebijakan Administrasi Negara LAN-RI, Dr. Agus Sudrajat, M.A., CGRE, menegaskan jabatan Analis Bangkom memegang peran vital dalam merancang masa depan aparatur yang profesional, adaptif, dan berintegritas.
“Analis Pengembangan Kompetensi bukan sekadar penyusun desain pelatihan, tetapi arsitek pembelajaran birokrasi. Dari tangan para analis inilah lahir ASN yang berpikir kritis, berintegritas, dan melayani dengan hati,” ujarnya.
Agus menambahkan, keberhasilan reformasi birokrasi tidak hanya ditentukan oleh struktur dan kebijakan, tetapi juga kemampuan ASN untuk terus belajar dan bertransformasi. “Birokrasi unggul adalah birokrasi yang belajar sepanjang hayat dan mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman,” tegasnya.
Menurutnya, penguatan kapasitas ASN melalui jabatan fungsional strategis seperti Analis Bangkom merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan tata kelola pemerintahan. ASN diharapkan tidak hanya menjadi pelaksana kebijakan, tetapi juga policy learner yang mampu membaca dinamika sosial, teknologi, dan kebutuhan publik masa depan.
Sementara itu, Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur Dr. Ramliyanto, S.P., M.P., menyampaikan apresiasi atas dukungan LAN-RI dalam memperkuat profesionalitas ASN di daerah. Ia menegaskan bahwa uji kompetensi ini bukan sekadar kegiatan administratif, melainkan langkah konkret membangun ekosistem pengembangan SDM aparatur yang berkelanjutan.
“Analis Bangkom memastikan setiap kebijakan pengembangan kompetensi ASN berbasis bukti, kebutuhan organisasi, dan hasil kinerja nyata. Dari analis yang kuat, lahir ASN yang unggul,” katanya.
Ramliyanto menambahkan, Jawa Timur tengah bergerak menuju visi Gerbang Baru Nusantara yang menuntut kehadiran ASN visioner—mampu memetakan kebutuhan kompetensi masa depan dan menyiapkan langkah strategis mendukung Indonesia Emas 2045. “Sinergi antara LAN dan BPSDM menjadi kunci dalam memastikan pengembangan ASN berjalan secara sistemik dan berdampak nyata,” ujarnya.
LAN-RI mencatat hasil signifikan dari penguatan peran Analis Bangkom di Jawa Timur. Melalui penerapan Performance-Based Learning Needs Analysis, indeks kepuasan masyarakat terhadap pelayanan publik meningkat hingga 15 persen dalam satu tahun terakhir. Hal ini menunjukkan kebijakan pengembangan kompetensi berbasis data dan kinerja mampu memberikan dampak langsung terhadap kualitas layanan publik serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi.
Pada penutupan kegiatan, Kepala LAN-RI Dr. Muhammad Taufiq, DEA, menegaskan kembali bahwa Analis Pengembangan Kompetensi merupakan aktor kunci dalam memastikan proses pembelajaran ASN berjalan efektif, relevan, dan berdampak pada kinerja organisasi.
“Mereka tidak hanya merancang program pelatihan, tetapi juga mengendalikan, memonitor, dan mengevaluasi agar setiap pembelajaran menciptakan perubahan perilaku dan hasil kerja yang nyata,” ungkap Taufiq.
Ia menambahkan, LAN-RI saat ini tengah menyusun Human Capital Development Plan (HCDP) sebagai kerangka nasional pengembangan kompetensi ASN agar setiap instansi pemerintah memiliki rencana pengembangan SDM yang terarah, terukur, dan selaras dengan arah pembangunan nasional. LAN-RI juga menyiapkan Forum Musyawarah Pengembangan Kompetensi Nasional sebagai wadah kolaborasi dan sinkronisasi kebijakan antarinstansi.
Kepala LAN-RI turut menekankan pentingnya sinergi antara Analis Bangkom dan Widyaiswara dalam keberhasilan pembelajaran ASN.
“Analis Bangkom menentukan arah strategis pengembangan kompetensi, sementara Widyaiswara menjadi pelaksana pembelajaran di lapangan. Sinergi keduanya akan melahirkan pengalaman belajar yang bermakna dan mendorong semangat belajar sepanjang hayat,” jelasnya.
Taufiq menutup dengan ajakan memperkuat formasi Analis Bangkom di seluruh instansi pemerintah.
“Semakin banyak analis bangkom yang kompeten, semakin kokoh pula pondasi birokrasi pembelajar yang mampu melayani dengan sepenuh hati,” pungkasnya.
Melalui pelaksanaan uji kompetensi ini, LAN-RI bersama BPSDM Jawa Timur meneguhkan komitmen untuk melahirkan Analis Pengembangan Kompetensi yang unggul, inovatif, dan adaptif terhadap perubahan. Sebab, dari analis yang kuat lahir ASN yang unggul, dan dari ASN yang unggul tumbuh birokrasi yang melayani, berintegritas, dan berkelas dunia.(FRI)




