Para pembicara dalam Talk show III bertajuk “Halal Modest Fashion: Sinergi Industri, Kreatifitas dan Kesadaran Konsumen” Sebagai rangkaian kegiatan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2025 di Masjid al-Akbar Surabaya, Sabtu (13/9/2025). (kilasjatim.com/nova)
KILASJATIM.COM, Surabaya – Menggembirakan seiring dengan berkembangnya fashion bernuansa Islami, perkembangan industri fashion Islami di Indonesia terus menunjukkan tren positif dengan banyaknya bermunculan pengusaha yang berbisnis di jalur ini. Setiap tahun, Bank Indonesia mencatat munculnya mitra potensial dari kalangan anak muda kreatif yang berhasil menghadirkan produk kompetitif.
Salah satunya datang dari kalangan pelaku brand muda, Natasha Rizky, selebriti, entrepreneur, sekaligus pendiri brand modest fashion Alur Cerita.
Dalam acara Talk show III bertajuk “Halal Modest Fashion: Sinergi Industri, Kreatifitas dan Kesadaran Konsumen” Sebagai rangkaian kegiatan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2025 di Masjid al-Akbar Surabaya, Sabtu (13/9/2025) Caca, panggilan akrabnya membagikan perspektif berbeda hingga dirinya kuni dikenal sebagai pengusaha busana syar’i yang sesuai syariat dan tetap stylish.
Meski usia brand baru tujuh tahun, tantangan yang dihadapi tidak sedikit. Selain persaingan dengan brand internasional, kompetisi ketat juga terjadi di antara sesama brand lokal. Namun, Natasha menekankan pentingnya kolaborasi antar sesama pelaku industri untuk menciptakan ekosistem yang sehat.
“Tantangan lain adalah daya beli masyarakat yang cenderung melemah. Namun, Alur Cerita bertahan dengan mengedepankan nilai, narasi, dan kedekatan komunitas. Bagi kami, brand bukan hanya soal produk, tetapi juga identitas dan cerita yang melekat di dalamnya,” ujarnya.
Untuk menjaga konsistensi, Natasha memanfaatkan platform digital, program afiliasi, serta komunitas loyal sebagai kekuatan utama. Ia menegaskan bahwa teknologi membuka jalan bagi brand untuk memperluas pasar, namun kunci keberhasilan tetap terletak pada konsistensi dan integritas dalam menjalankan bisnis sesuai prinsip syariah.
Sementara pembicara lainnya Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Muhamad Nur, menegaskan bahwa tren ini tidak hanya menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga bagian penting dari strategi ekonomi syariah yang kini memiliki pangsa pasar di atas 25%. Pertumbuhan tersebut bahkan melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Muhamad Nur bersama nara sumber di acara Talkshow III Halal Modest Fashion: Sinergi Industri, Kreatifitas dan Kesadaran Konsumen” Sebagai rangkaian kegiatan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2025 di Masjid al-Akbar Surabaya, Sabtu (13/9/2025). (kilasjatim.com/nova)
Secara global, pangsa Indonesia dalam industri fashion halal masih relatif kecil, berkisar 1-2%. Namun, potensi yang ada sangat besar. Hal ini didorong oleh proyeksi populasi muslim dunia yang diperkirakan mencapai 2,8 miliar jiwa pada tahun 2050. Dengan jumlah itu, konsumsi produk halal, termasuk fashion, diprediksi akan menembus US$ 3,36 triliun pada 2028.
“Angka tersebut merupakan peluang besar yang tidak boleh dilewatkan. Indonesia harus mampu mengoptimalkan peranannya, baik sebagai produsen maupun sebagai trend setter global,” ujar Muhamad Nur
Dengan berbagai strategi tersebut, Indonesia menunjukkan keseriusannya dalam mengokohkan diri sebagai pusat modest fashion global. Sinergi antara regulator, pelaku industri, dan masyarakat diharapkan mampu membawa Indonesia tidak hanya menjadi konsumen besar, tetapi juga pemimpin tren fashion halal dunia.
Dalam talk show bertema pengembangan fashion halal, BI menekankan tiga poin utama. Pertama, pentingnya edukasi bagi pelaku industri agar mengedepankan keberlanjutan dalam produksi. Kedua, pemahaman yang komprehensif tentang konsep halal, mencakup bahan, proses, hingga produk akhir. Ketiga, pemanfaatan peluang bisnis untuk memperluas pasar domestik dan global.
Di sisi lain, industri modest fashion kini telah berkembang menjadi bagian integral dari ekonomi global. Founder & CEO KaIND, Melie Indarto, yang menjadi narasumber menyebut nilai industri ini pada 2025 diproyeksikan mencapai US$ 2,8 triliun.
“Ini bukan hanya tentang gaya hidup, tetapi juga tentang strategi ekonomi global yang memiliki dampak luar biasa,” jelasnya.
Indonesia berada pada posisi strategis dalam perkembangan industri ini, karena selain memiliki pasar muslim terbesar, juga menjadi salah satu produsen utama.
Tantangannya, kata Melie, adalah bagaimana membawa modest fashion ke arah yang stylish, inklusif, dan adaptif terhadap tren dunia. (nov)




